Hadiri KTT BRICS, Prabowo Bidik Perluasan Pasar Ekspor Indonesia

Muhamad Fajar Riyandanu
7 Juli 2025, 14:36
brics, prabowo, airlangga
ANTARA FOTO/HO/Biro Pers-Muchlis jr/wpa/foc.
Presiden Prabowo (kanan) mengikuti rapat pleno KTT BRICS Ke-17 di Rio De Janeiro, Brasil, Minggu (6/7/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Presiden Prabowo Subianto menghadiri hari pertama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di Rio de Janeiro, Brasil, pada Ahad (6/7). Para pimpinan negara anggota BRICS membahas sejumlah isu faktual seperti ekonomi, perdagangan dan keuangan hingga perdamaian dunia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan agenda KTT BRICS menjadi peluang untuk memperluas akses pasar bagi produk domestik dan menciptakan ketahanan ekonomi di tengah gejolak global saat ini.

Airlangga berharap status keanggotaan BRICS dapat mempermudah akses produk Indonesia ke lebih banyak pasar negara anggota BRICS seperti  Brazil, Rusia, India, Cina, hingga Afrika Selatan.. 

“Di tengah ketidakpastian, kita punya BRICS yang diharapkan bisa juga untuk menyerap pasar dari produk-produk Indonesia,” kata Airlangga, sebagaimana keterangan pers yang disiarkan oleh kanal Youtube Sekretariat Presiden pada Senin (7/7).

Prabowo juga turut menyuarakan perjuangan nasib negara-negara berkembang dan mendukung kemerdekaan Palestina. Dalam pandangan Indonesia, BRICS perlu menjadi kekuatan penyeimbang yang dapat menyuarakan kepentingan negara-negara global south secara adil dan konsisten.

Menurut Airlangga, konsolidasi negara-negara global south dinilai penting dalam menjaga stabilitas internasional dan menciptakan ruang pembangunan yang kondusif bagi negara-negara berkembang.

Dalam forum tersebut, Indonesia juga menyampaikan dukungan terhadap upaya reformasi serta menyambut baik solidaritas antar anggota BRICS untuk menciptakan sistem dunia yang lebih inklusif dan berimbang.

“Semangatnya adalah bagaimana BRICS bisa berkontribusi untuk mendorong reformasi, untuk mendorong penguatan dari sistem multilateral itu sendiri,” ujar Airlangga.

Sedangkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menerapkan tarif tambahan hingga 10% bagi negara anggota BRICS. Hal ini terjadi di tengah pertemuan negara-negara anggota BRICS pada pekan ini di Brasil. 

"Setiap negara yang berpihak dengan kebijakan anti-Amerika BRICS, akan dikenakan tarif tambahan 10%,” kata Trump melalui unggahannya di media sosial Truth Social, dikutip Senin (7/7). 

Trump menegaskan ancaman kenaikan tarif ini tidak ada pengecualian. Meski begitu, Trump tidak menjelaskan lebih rinci mengenai pernyataan kebijakan anti-Amerika rersebut dalam unggahannya.


Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...