Kemenhub Sebut Investor Bidik Proyek Kereta Gantung, Jadi Pengumpan MRT dan LRT

Andi M. Arief
10 Juli 2025, 07:56
Kereta Gantung
Sead Dzambegovic/Unsplash
Kereta Gantung
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Perhubungan atau Kemenhub telah menawarkan proyek kereta gantung yang rencananya menjadi transportasi pengumpan MRT Jakarta dan dan LRT Jabodebek. Investor yang tertarik pada proyek tersebut berasal dari Eropa, Cina, dan dalam negeri.

Kereta gantung tersebut akan menghubungkan Stasiun LRT Harjamukti dengan Kawasan Mekarsari. Sementara itu, proyek yang sama akan menghubungkan Stasiun MRT Lebak Bulus dan Kawasan Serpong.

"Saat ini ada beberapa perusahaan yang sudah menyampaikan minat investasi. Kami akan menunggu studi kelayakan dari masing-masing investor sebelum memilih mitra," kata Direktur Jenderal Perkeretaapian Allan Tandiono di Jakarta Pusat, Rabu (9/7).

Allan mengatakan, seluruh biaya konstruksi proyek kereta gantung akan berasal dari sektor swasta. Namun dia belum menjelaskan jadwal pengerjaan proyek tersebut.

Sebelumnya, mantan Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Risal Wasal mengatakan bahwa sudah ada empat negara yang tertarik untuk berinvestasi dalam pembangunan kereta gantung di Indonesia. Proyek ini tidak hanya mencakup Bogor dan Tangerang Selatan, tetapi juga beberapa daerah lain.

"Setidaknya ada dua daerah lain yang meminta pembangunan kereta gantung perkotaan, yaitu Sumatra Barat dan Malang. Rata-rata investasi infrastruktur di keempat wilayah tersebut mencapai Rp 238 miliar per kilometer," kata Risal pada Maret 2025.

Risal menjelaskan bahwa nilai investasi tersebut sudah termasuk kebutuhan kereta per kilometer. Jika jalur memiliki panjang 10 kilometer, maka investasi yang diperlukan mencapai Rp 2,38 triliun.

Risal menegaskan bahwa kereta gantung perkotaan berbeda dengan kereta gantung wisata seperti yang ada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Sebab, kereta gantung perkotaan tidak digerakkan oleh kabel seperti di TMII, melainkan menggunakan mesin penggerak di dalam kereta.


Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...