MBG Bisa Ancam Pasokan Pangan, Pemerintah akan Genjot Produksi Telur dan Ayam

Andi M. Arief
14 Juli 2025, 21:22
telur, ayam, makan bergizi gratis
ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/bar
Pekerja memberi makan ayam broiler di kandang ayam sistem close house di Desa Jurang, Gebog, Jawa Tengah, Jumat (20/6/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Pertanian atau Kementan akan menggenjot produksi ayam pedaging pada bulan depan. Ini agar produksi daging ayam nasional tidak defisit saat target 8.000 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG beroperasi penuh pada Agustus 2025.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda mengatakan kapasitas produksi daging ayam ditahan pada level 4,2 juta ton per tahun. Menurutnya, volume tersebut telah melebihi kebutuhan nasional sekitar 340.000 ton per tahun.

Agung mengatakan, volume kelebihan produksi tersebut dapat diserap jika total dapur SPPG mencapai 6.000 unit. Hingga bulan ini, target dapur SPPG yang beroperasi adalah 2.000 unit.

"Karena itu, kami akan undang seluruh pelaku usaha industri perunggasan untuk mendiskusikan strategi dan antisipasi dapur SPPG tersebut dalam waktu dekat," kata Agung di Cikarang, Jawa Barat, Senin (14/7).

Agung mengatakan, saat ini produksi telur berada pada angka 6,5 juta ton per tahun. Kondisi tersebut telah membuat surplus telur ayam mencapai 300.000 ton per tahun.

Walau demikian, Indonesia kini menduduki peringkat keempat produsen daging ayam global setelah Cina, Amerika Serikat, dan Brasil. Sementara itu, produksi telur ayam RI merupakan ketiga terbesar di dunia.

Agung menjelaskan produksi daging dan telur ayam nasional saat ini ditahan agar harga jual di tingkat peternak di atas harga pokok produksi (HPP). Saat ini HPP daging ayam adalah Rp 18.000 per kilogram dan HPP telur ayam sekitar Rp 22.000 per kg.

Agung mengatakan salah satu mitigasi yang menjadi pilihan sebagai antisipasi penambahan dapur SPPG adalah melepas batasan produksi bibit ayam atau day-old chicken (DOC).

"Kalau produksi DOC kami lepas penuh, distribusi DOC nasional bisa mencapai 90 juta ekor per minggu," katanya.

Dia mengatakan, pelepasan batas produksi DOC akan memperhatikan neraca produksi daging dan telur ayam nasional. Selain itu, pemerintah akan memperhatikan kebutuhan pasar ekspor.

"Prinsipnya, negara selalu menjaga ketersediaan daging dan telur ayam di dalam negeri. Penjagaan prinsip tersebut harus diawali dengan produksi bibit," katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...