BEM Unisba Desak Komnas HAM Usut Polisi Tembak Gas Air Mata ke Kampus

Ade Rosman
2 September 2025, 16:31
komnas ham, unisba, polisi
Istimewa
Suasana kericuhan di depan kampus Universitas Islam Bandung (Unisba), Senin (1/9). Foto: Istimewa
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Bandung (Unisba) mendesak Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk turun tangan terkait pengepungan Kampus Unisba di Jalan Tamansari, Bandung, oleh TNI-Polri pada Senin (1/9) malam. 

Presiden BEM Unisba, Kamal Rahmatullah menyatakan mahasiswa Unisba mengecam brutalitas aparat yang menyerang kampus. 

“Kami mendesak Komnas HAM, Ombudsman, dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) segera turun tangan menyelidiki pelanggaran hal-hal berat ini,” kata Kamal dalam konferensi pers, di Unisba, Selasa (2/9). 

Ia mengecam aksi yang dilakukan oleh aparat, terlebih dilakukan di area kampus yang seharusnya steril dari aparat bersenjata.  Kamal mengatakan rekan-rekannya banyak yang menjadi korban karena serangan dan tembakan gas air mata aparat.

“Banyak mahasiswa yang menjadi korban, ada yang tertembak di bagian dada, ada yang tertembak dan mengalami sesak napas akibat gas air mata, serta banyak luka-luka lainnya,” kata Kamal. 

Kamal mengatakan apa yang dilakukan aparat dengan menyerang kampus melanggar otonomi kampus Pasal 13 Ayat 2 Nomor 12 Tahun 2012 tentang pendidikan perguruan tinggi. 

Dia juga menyinggung Pasal 28 UUD 1945 yang menjamin hak atas rasa aman serta kebebasan berkumpul serta menyatakan pendapat. Kamal juga merujuk Undang-Undang nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM khususnya Pasal 30 melarang aparat melakukan tindakan sewenang-wenang yang mengancam keselamatan warga negara.

“Penembakan terhadap mahasiswa tidak dapat dibenarkan dalam kondisi aksi damai. Ini merupakan dugaan tindak pidana penganiayaan sebagai diatur dalam Pasal 351 KUHP dan pelanggaran kewenangan aparat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian,” kata dia. 

Beda Versi Antara BEM Unisba dengan Rektor

Rektor Unisba Harits Nu’man mengatakan tim patroli gabungan TNI-Polri tidak masuk ke area kampus. “Sepanjang pantauan saya, baik melalui laporan maupun langsung saya lihat di CCTV di sini, saya lihat pantauan disini, kami tidak melihat aparat kepolisian walaupun berpakaian preman masuk ke area kampus. Itu murni semuanya demonstran, ya saya sebutkan, pendemo, yang tadi di sweeping masuk ke area kampus,” kata Harits di Bandung, Selasa.

Harits menjelaskan kampus Unisba memang sempat dijadikan titik penanganan medis selama unjuk rasa berlangsung beberapa hari terakhir di Kota Bandung. Namun, pada Senin malam posko medis di kampus telah ditutup sejak pukul 21.00 WIB.

“Proses penanganan korban berakhir pukul 20.30. Setelah itu ada beberapa korban yang masih sesak dan lemas, sudah selesai kami tangani dan dijemput keluarganya. Posko tutup di jam 21.00,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan mengungkapkan tembakan gas air mata yang terjadi di sekitar Tamansari dipicu oleh serangan bom molotov dari sekelompok orang berpakaian hitam yang diduga kelompok anarko.

Ia mengatakan insiden itu berawal saat patroli gabungan TNI-Polri berskala besar melintas di kawasan Jalan Tamansari, Kota Bandung.
“Pada saat yang sama, muncul sekelompok orang berpakaian hitam yang diduga merupakan kelompok anarko. Mereka inilah awalnya yang menutup jalan dan membuat blokade di Tamansari sambil anarkis,” kata Hendra.

Hendra menjelaskan kelompok tersebut kemudian melakukan provokasi lebih jauh dengan melempar bom molotov dari dalam kampus ke arah petugas dan kendaraan, termasuk mobil rantis Brimob. Atas kondisi itu, petugas menembakkan gas air mata ke jalan raya.

Ia menegaskan informasi di media sosial yang menyebut aparat masuk ke kampus, membawa senjata peluru karet, dan menembakkan gas air mata ke dalam area kampus adalah tidak benar.

“Jarak petugas kurang lebih 200 meter dari kampus Unisba. Tidak ada tembakan gas air mata yang diarahkan ke kampus, semuanya diarahkan ke jalan raya, tempat kelompok berpakaian hitam berkumpul,” kata dia.
 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...