BGN Akui Kekurangan Ahli Gizi, Minta Profesional dan Lulusan Baru Daftar ke SPPG

Muhamad Fajar Riyandanu
26 September 2025, 17:38
bgn, mbg, sppg
Katadata
Konferensi pers Badan Gizi Nasional di Jakarta, Jumat (26/9), Foto: M Fajar Riyandanu/Katadata
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Gizi Nasional (BGN) mengakui masih mengalami kekuarangan tenaga ahli gizi untuk bekerja di unit satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) atau dapur umum makan bergizi gratis (MBG).

Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, mengajak para ahli gizi berpengalaman di seluruh untuk mendaftar ke SPPG. Nanik mengatakan saat ini BGN kehabisan sumber daya yang mengerti gizi.

“Karena kami kekurangan ahli gizi. Lebih senang lagi kalau yang sudah berpengalaman. Karena kami sekarang sudah kehabisan, sudah kehabisan stok,” kata Nanik dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, pada Jumat (26/9).

Kendati demikian, Nanik turut membuka peluang bagi tenaga ahli gizi lulusan baru. Hal ini juga merupakan upaya untuk menambal kekurangan sumber daya manusia (SDM) ahli gizi di proyek MBG.

Nanik optimistis, para generasi muda cenderung lebih cepat belajar karena memiliki akses informasi yang lebih kompleks, seperti melalui media sosial. "Kalau ada salah-salah mari kita perbaiki, tapi kasih kesempatan mereka juga untuk bisa bekerja di dapur MBG, daripada menganggur,” ujarnya.

Nanik juga mengatakan, saat ini ada 5.914 pemerima manfaat MBG mengalami keracunan sejak Januari hingga 25 September yang tersebar di 70 lokasi. Para penerima yang menjadi korban terdiri dari anak sekolah dan ibu hamil.

BGN mencatat kasus tersebut tersebar di tiga wilayah. Wilayah II atau Jawa menjadi yang tertinggi dengan 41 kasus yang melibatkan 3.610 orang. Di urutan berikutnya, Wilayah I yakni Sumatra melaporkan 9 kasus dengan 1.307 orang terdampak. Sementara Wilayah III yang mencakup NTB, NTT, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua, tercatat ada 20 kasus dengan 997 orang mengalami keracunan.

Kasus ini juga menunjukkan lonjakan pada Agustus dan September. BGN mencatat pada Januari terdapat 4 kasus dengan 94 korban. Jumlah itu kemudian melonjak drastis menjadi 9 kasus dengan 1.988 orang terdampak pada Agustus, lalu kembali meningkat hingga 44 kasus dengan 2.210 orang terdampak pada September.

Lima daerah dengan jumlah korban terbanyak meliputi Kota Bandar Lampung dengan 503 orang, disusul Kabupaten Lebong, Bengkulu 467 orang, Kabupaten Bandung Barat 411 orang, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah 339 orang, serta Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta sejumlah 305 orang.

BGN mengidentifikasi sejumlah penyebab utama insiden tersebut, salah satunya ditemukannya Bakteri E. coli yang berasal dari air, nasi, tahu, dan ayam. Kemudian juga ditemukan Staphylococcus aureus pada tempe dan bakso, dan Salmonella pada ayam, telur, dan sayuran.

BGN juga mendapati Bacillus cereus pada mie, hingga kontaminasi air yang juga memicu penyebaran bakteri Coliform, Klebsiella, Proteus, hingga kandungan logam berat timbal (Pb).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...