Serba-serbi Evakuasi Korban Reruntuhan Ponpes Sidoarjo, Memasuki Waktu Kritis

Ameidyo Daud Nasution
2 Oktober 2025, 11:19
sidoarjo, ponpes, runtuh, basarnas
ANTARA FOTO/Umarul Faruq/bar
Foto udara bangunan mushalla yang ambruk di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (30/9/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Evakuasi korban reruntuhan bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur belum juga rampung. Terbaru, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan telah mengevakuasi lima korban dari reruntuhan tersebut pada Rabu (1/10).

Dari lima korban, sebanyak dua di antaranya meninggal dunia. Sedangkan tiga korban selamat dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Notopuro Sidoarjo dan Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo.

"Pada pukul 20.47 WIB, kami kembali berhasil mengevakuasi lima korban sejak update terakhir sore tadi," kata Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo di Sidoarjo, Rabu (1/10).

Berikut serba-serbi evakuasi bangunan ponpes tersebut.

Sejumlah Korban Telah Dievakuasi

Secara total, Basarnas telah mengevakuasi 18 orang korban yang dinyatakan meninggal dunia. Selain itu, ada pula 13 orang yang dinyatakan selamat dari reruntuhan.

Pencarian korban mushalla ambruk di Ponpes Al Khoziny
Pencarian korban mushalla ambruk di Ponpes Al Khoziny (ANTARA FOTO/Umarul Faruq/tom.)

"Satu nyawa sangat berharga, dan kami akan berusaha semaksimal mungkin,” kata Kepala Subdirektorat Pengarahan dan Pengendalian Operasi (RPDO) Basarnas, Emi Freezer pada Rabu (1/10).

Posisi Korban Kian Terhimpit

Basarnas juga mengatakan kondisi sejumlah santri yang masih tertimbun reruntuhan bangunan semakin kritis karena posisi tubuh mereka kian terhimpit beton.

Emi menjelaskan, pola runtuhan bangunan berbentuk “pancake collapse” menyulitkan tim SAR menembus ruang sempit di antara kolom utama meski telah menggunakan alat berteknologi modern.

"Tantangan kami adalah bagaimana mempertahankan nyawa korban, dengan kondisi struktur yang rapuh,” ujar Emi.

Tak Gunakan Alat Berat

Basarnas juga tak menggunakan alat berat dalam mengevakuasi korban di reruntuhan. Mereka khawatir keberadaan alat berat bisa memicu pergeseran konstruksi dan membahayakan korban hingga penyelamat.

"Sedikit getaran bisa berdampak seperti gempa kecil di lokasi reruntuhan," kata Emi.

Pencarian korban mushalla ambruk di Ponpes Al Khoziny
Pencarian korban mushalla ambruk di Ponpes Al Khoziny (ANTARA FOTO/Umarul Faruq/tom.)

Basarnas menggunakan sejumlah peralatan seperti drone thermal, detektor suhu tubuh, dan sistem pencarian berbasis teknologi. Mereka juga meminta warga mengosongkan area reruntuhan agar alat-alat tersebut bisa ebkerja baik.

Periode Krusial 72 Jam

Tim SAR juga memiliki tenggat waktu kritis untuk menyelamatkan korban yakni 72 jam sejak kejadian bangunan runtuh pada Senin (29/9). Ini mengacu pada kondisi korban untuk bertahan hidup. Dengan perhitungan ini, maka tenggat waktu kritis akan jatuh pada Kamis (2/10) sore jika mengacu waktu runtuhnya bangunan.

“Setiap perkembangan akan kami laporkan secara berkala melalui SAR Mission Coordinator di lapangan,” kata Kepala Basarnas Mohammad Syafii.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Antara

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...