Survei KedaiKOPI: Kelas Menengah Kurangi Belanja Fesyen, Fokus Kebutuhan Pokok
Lembaga survei KedaiKOPI menemukan adanya pergeseran perilaku konsumsi di kalangan masyarakat kelas menengah. Survei bertajuk “Perilaku Konsumsi & Daya Beli Masyarakat Kelas Menengah” itu menunjukkan peningkatan pengeluaran rumah tangga dalam tiga bulan terakhir.
Namun, tambahan anggaran tersebut terutama diarahkan untuk kebutuhan pokok dan pendidikan. Sebaliknya, pengeluaran untuk belanja fesyen, makan di luar, serta rekreasi justru dipangkas atau ditunda.
“Satu kalimat yang menggambarkan perubahan paling mencolok pada konsumsi kelas menengah adalah fokus ke kebutuhan pokok,” ujar Peneliti Senior KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah pada Selasa (28/10).
Menurut Ashma, tiga dari lima responden mengaku mengalami peningkatan pengeluaran rumah tangga. Kondisi ini memperbesar porsi kebutuhan pokok sekaligus menyempitkan ruang bagi belanja diskresioner seperti fesyen dan hiburan.
“Harga pangan yang meningkat, ditambah biaya transportasi yang naik, membuat perilaku konsumsi berubah. Sementara kapasitas bayar masyarakat juga makin tidak stabil,” katanya.
Transaksi Bergeser ke E-Commerce dan Pasar Tradisional
Tekanan pada daya beli turut memunculkan kebiasaan baru di kalangan kelas menengah, dengan membandingkan harga antara pembelian online dan offline. Hal ini mendorong pergeseran transaksi ke platform e-commerce dan pasar tradisional yang dinilai menawarkan harga lebih murah.
“Tekanan dompet menjadi faktor utama. Masyarakat ingin lebih hemat, jadi pasti membandingkan harga sebelum membeli,” kata Ashma.
Meski begitu, pusat perbelanjaan dan mal masih ramai dikunjungi. Namun, survei menunjukkan tiga dari lima responden mengaku sering menjadi “rohana” (rombongan hanya nanya) atau “rojali” (rombongan jarang beli), yakni datang ke mal hanya untuk cuci mata tanpa membeli barang.
“Pada akhirnya, mal berubah fungsi dari tempat purchasing ke tempat untuk mencoba barang,” ujarnya.
Tingginya Akses Kredit Konsumtif
Di sisi keuangan, survei menemukan tingginya penggunaan fasilitas kredit konsumtif di kalangan kelas menengah. Satu dari dua responden menggunakan paylater, sepertiga memiliki utang bank non-KPR, dan seperempat pernah mengakses pinjaman online (pinjol).
“Kenapa paylater banyak digunakan? Karena mudah dan persyaratannya lebih ringan dibanding kartu kredit. Tapi risikonya besar jika banyak yang gagal bayar,” kata Ashma.
Survei “Pergeseran Perilaku Konsumsi dan Daya Beli Masyarakat Kelas Menengah” dilakukan pada 14–19 Oktober 2025 menggunakan metode Online-Computerized Assisted Self Interview (CASI).
Penelitian ini melibatkan 932 responden WNI berusia 17–55 tahun, dengan pendapatan Rp 3,5–14,5 juta per bulan atau pengeluaran per kapita Rp 2–9,9 juta per bulan.
