Dua Tragedi dalam Seminggu, Pemprov Jakarta Dinilai Perlu Soroti Usia Pohon
Dua orang meninggal dunia akibat tertimpa pohon tumbang di Jakarta dalam seminggu terakhir. Peristiwa pertama terjadi di kawasan Jalan Metro Pondok Indah pada Minggu (26/10) sore. Sebuah pohon palem tumbang dan menimpa sebuah mobil yang ditumpangi mantan Direktur PT Danareksa Harry Danardojo. Kejadian tersebut mengakibatkan Harry meninggal dunia.
Peristiwa lainnya terjadi di Jalan Dharmawangsa Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (30/10) sore, hujan lebat disertai angin kencang mengakibatkan pohon tumbang dan menimpa mobil, seorang pengemudi meninggal dunia.
Pakar Tata Kota Universitas Trisakti Yayat Supriyatna meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta untuk melakukan pemetaan usia pohon agar kejadian pohon tumbang hingga mengakibatkan korban jiwa tak terulang kembali.
Yayat mengatakan usulan ini sebelumnya pernah ia sampaikan beberapa tahun lalu. Menurutnya, usia pohon-pohon di Jakarta sudah berusia lebih dari 20 tahun dan perlu peremajaan.
“Saya dulu pernah mengingatkan bahwa beberapa tahun yang lalu bahwa di Jakarta itu perlu dilakukan pemetaan tentang usia pohonnya. Karena rata-rata pohon di Jakarta khususnya Jakarta Selatan itu sudah lebih dari 20 bahkan 30 tahun itu,” kata Yayat saat dihubungi Katadata.co.id, Jumat (31/10).
Yayat juga menyoroti tidak adanya dokter pohon untuk memeriksa kondisi pohon apakah sehat ataukah sudah dalam kondisi keropos. Ia juga menggarisbawahi proses pruning atau pemotongan bagian-bagian tanaman ketika sebelum memasuki musim penghujan sebagai bentuk mitigasi.
“Jadi kita kan harus pernah tahu bahwa mana dahan, mana pohon-pohon yang sebetulnya masih sehat, mana pohon yang sudah sakit dan perlu diperhatikan lagi kalau usia pohon sudah lebih dari 40 tahun atau 50 tahun. Ingat loh itu banyak pohon yang ditanam masa penghijauan tahun 70-an,” kata dia.
Yayat menyoroti usia pohon di Jakarta yang kebanyakan ditanam saat penghijauan di masa Gubernur Ali Sadikin. Sehingga perlunya pendataan pohon, dalam hal ini bisa melibatkan perguruan tinggi. Usulan melibatkan perguruan tinggi itu pernah diusulkan sejak 2012 lalu.
“Bahkan pernah kita petakan saya usulkan untuk membuat peta zona rawan pohon tumbang. Itu penting itu,” kata dia.
Bukan Kali Pertama
Katadata.co.id menelusuri lokasi kejadian, pada Jumat (31/10) siang. Saat tiba di lokasi, puluhan petugas tengah membersihkan lokasi dari puing-puing pohon. Sejumlah mobil truk serta pickup dikerahkan. Kondisi jalan raya terpantau padat-lancar.
Salah seorang warga yang berprofesi sebagai petugas kebersihan di kawasan Dharmawangsa tersebut mengatakan kejadian tumbangnya pohon hingga menelan korban jiwa ini merupakan yang pertama disaksikannya sejak awal ia bekerja dari 2019 lalu. Petugas yang enggan disebutkan namanya itu mengaku bekerja dari Senin hingga Sabtu, dengan jam kerja 07.00-15.00 WIB, ia bekerja bersama satu rekannya pada hari dan jam yang sama.
Sebagai petugas kebersihan, ia mengaku kerap membersihkan ranting-dahan yang jatuh, tak jarang juga ia melaporkan kondisi pohon yang dinilainya perlu peremajaan. Hal itu dilaporkannya pada Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta.
“Kalau dahan jatuh, iya (sesekali membersihkan), tapi kalau (pohon tumbang) besar gitu baru kemarin (mengalami sejak bekerja sebagai petugas kebersihan),” kata dia, ditemui di kawasan Jalan Dharmawangsa Raya, Jumat (31/10) siang.
Kesaksian serupa diberikan seorang pedagang minuman yang biasa berjualan di sana. Pada saat kejadian pohon tumbang, ia mengaku berada di lokasi. Menurutnya, hujan besar disertai angin kencang menjadi salah satu penyebab utama jatuhnya pohon hingga menimpa sejumlah mobil tersebut.
Katadata juga mencoba menelusuri kawasan pohon tumbang tersebut di Jalan Metro Pondok Indah pada Jumat (31/10) siang. Meski demikian, sudah tidak ada lagi bekas dari pohon palem yang tumbang.
Dua orang pedagang di lokasi kejadian mengatakan pohon palem tumbang baru terjadi saat ini. Namun, kejadian pohon tumbang di kawasan Pondok Indah bukan pertama kalinya.
“BCA-Raffles,” kata mereka, merujuk pada nama Raffles Christian School Pondok Indah, sebuah sekolah swasta yang berada hampir satu kilometer dari lokasi pohon tumbang. Menurut mereka, pohon yang tumbang berukuran kecil dan tak sampai memakan korban jiwa.
Pernyataan para pedagang tersebut diamini seorang warga Pondok Indah, Rey Marshall (38). Dia mengatakan, salah satu lokasi kejadian pohon tumbang di Pondok Indah berada di depan sekolah Raffles. "Itu sekitar 2016 atau 2018," kata Rey yang berprofesi sebagai musisi ini.
Rey mengatakan, sebuah pohon di dekat kediamannya juga pernah tumbang baru-baru ini. Meski demikian, dia mengatakan tumbangnya pohon palem di Jalan Metro Pondok Indah bukan hal yang marak terjadi.
Rey mengatakan bahwa pohon-pohon palem tersebut sudah ada beberapa tahun sejak pemukiman Pondok Indah mulai dikembangkan. "Itu sudah dari tahun 1994 atau 1995. Dulu jalan itu (Metro Pondok Indah) tidak punya separator, setelah itu dibangun separator dan ada pohon palem itu," katanya.
Rey enggan menduga apa penyebab utama pohon tua tersebut bisa tumbang. Meski demikian, ia menyoroti luas separator yang menurutnya tidak luas.
"Bisa jadi tidak menopang (akar), harusnya kan lebar," katanya.
Pemangkasan Rutin
Di sisi lain, Gubernur Jakarta Pramono Anung mengucapkan duka cita atas korban jika dari tumbangnya pohon di Jalan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis (30/10). Pramono juga memerintahkan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) untuk memangkas pohon agar kejadian ini tak terulang lagi.
Pramono mengatakan pemangkasan akan dilakukan setiap hari pada pukul 10.00 hingga 14.00 WIB. Sebelumnya, Pemerintah Provinsi rutin melakukan pemangkasan hanya pada hari Rabu.
Hingga akhir Oktober, sebanyak 62.161 pohon telah dipangkas dan 5.722 telah diperiksa kesehatannya.
Pramono juga akan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) agar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bisa menggelar operasi modifikasi cuaca. Tujuannya untuk mencegah cuaca ekstrem dalam waktu dekat.
Sebelumnya, Pramono memerintahkan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota memasang penyangga di pohon yang sudah tua atau berisiko tumbang. Dia mengatakan, ada sekitar ribuan pohon di Jakarta yang perlu disangga.
"Mungkin ada 5.000-an pohon yang perlu penyangga. Kalau tidak, kejadian ini bisa terulang kembali," kata Pramono pada Senin (27/10).
