Profil Syaikhona Kholil, Ulama Madura Inspirator NU jadi Pahlawan Nasional
Presiden RI Prabowo Subianto mengumumkan nama 10 tokoh yang diberikan gelar pahlawan nasional. Sala satu nama yang mendapatkan gelar Pahlawan Nasional adalah Syaikhona Muhammad Kholil dari Jawa Timur.
Berdasarkan laman resmi Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, Syaikhona Muhammad Kholil merupakan salah satu ulama besar asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Ia berperan penting dalam penyebaran Islam di Nusantara hingga para santrinya tersebar luas dan banyak di antaranya menjadi ulama, cendekiawan, serta tokoh nasional yang berkontribusi besar bagi bangsa dan negara.
Tak hanya itu, berdirinya jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) tidak lepas dari rekomendasi Syaikhona Kholil sebagai upaya untuk menghimpun pengaruh para ulama dan membentuk organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia.
Profil Syaikhona Muhammad Kholil
Syaikhona Muhammad Kholil wafat pada 29 Ramadhan 1343 H atau pada tahun 1925 M. Sebelumnya ia lahir pada hari Rabu malam Kamis, 9 Safar 1252 H atau bertepatan dengan 25 Mei 1835 M, di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Madura. Ia adalah putra dari KH. Abdul Latif dan Nyai Siti Khadijah.
Setelah memperoleh pendidikan dasar agama dan akhlak dari ayahnya, Syaikhona Muhammad Kholil kemudian melanjutkan mengembara intelektualnya di tempat kelahirannya sendiri, Bangkalan, Madura. Di antara guru-gurunya pada masa awal menuntut ilmu, yaitu guru Dawuh dan guru Agung.
Memasuki usia dewasa, sekitar tahun 1850-an, Syaikhona Kholil memperluas perjalanan ilmunya ke berbagai pesantren di Jawa Timur. Beberapa pondok pesantren yang menjadi tempat menuntut ilmunya antara lain:
- Pondok Pesantren Langitan, Tuban
- Pondok Pesantren Canga’an, Bangil, Jawa Timur
- Pondok Pesantren Darussalam, Kebon Candi, Pasuruan
- Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan
- Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Setail, Genteng, Banyuwangi
Periode Makkah
Catatan manuskrip yang ditulis oleh Syaikh Mohammad Yasin bin Isa al-Padany, menyebutkan bahwa Syaikhona Moh. Kholil pertama kali berangkat ke Makkah pada tahun 1260 H/1843 M. Namun, dalam manuskrip kitab Alfiyah yang ditulis oleh beliau sendiri menyatakan bahwa beliau pergi ke Makkah berkali- kali, bahkan tercatat sampai 7 kali. Maka tidak heran jika dalam banyak sejarah yang lain menyebutkan bahwa Syaikhona Moh. Kholil muda juga menimba ilmu ke Makkah setelah dinikahkan dengan seorang putri bangsawan yang bernama Nyai Assek binti Lodrapati.
Pada tahun 1859 M, saat usia Syaikhona Moh. Kholil mencapai 24 tahun ia memutuskan untuk kembali pergi ke Makkah.
Mendirikan Pondok Pesantren dan Masjid
Setelah menimba ilmu di Makkah, Syaikhona Moh. Kholil pulang ke tanah kelahirannya di Desa Jengkebuan, Bangkalan. Kepulangan beliau disebut sebagai perintah langsung dari gurunya, Syaikh Ali Rahbini, sekitar tahun 1863 M. Di Jengkebuan, ia mendirikan sebuah pondok pesantren yang kemudian berkembang pesat. Santri berdatangan dari Madura, Jawa, hingga berbagai daerah.
Ketika pesantren semakin maju, kepemimpinannya kemudian beliau serahkan kepada menantunya, KH. Muntaha atau KH. Thoha bin KH. Kaffal, setelah menikahi putrinya, Nyai Hj. Hatimah.
Selain mendirikan pesantren, Syaikhona Moh. Kholil juga membangun banyak masjid yang tersebar di berbagai desa. Di antaranya Masjid di Desa Lajing (Arosbaya), Bulukagung (Klampis), Telaga Biru (Tanjung Bumi), Bilaporah dan Keleyan (Socah), Labang Baru dan Petapan (Labang), Tebul (Kwanyar), serta Masjid Jengkebuan yang kini menjadi pusat kegiatan dan ziarah.
Inspirator Berdirinya Nahdlatul Ulama
Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) tidak dapat dilepaskan dari peran penting Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. Meski NU secara resmi didirikan setelah beliau wafat, pemikiran dan arahannya menjadi dasar lahirnya organisasi NU.
Nilai-nilai keagamaan dan pandangan Syaikhona Kholil mengenai pentingnya jam’iyah ulama menjadi landasan bagi KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, dan KH. As’ad Syamsul Arifin dalam membentuk NU.
Sekitar tahun 1920, sebanyak 66 ulama dari berbagai daerah datang ke Bangkalan untuk meminta petunjuk kepada Syaikhona Kholil menyusul munculnya gerakan keagamaan berhaluan Wahabi yang dianggap dapat mengancam akidah Ahlussunnah wal Jamaah yang telah lama mengakar di Nusantara. Para ulama khawatir ajaran tersebut melemahkan tradisi keagamaan yang diwariskan para Wali Songo.
Upaya ini kemudian berlanjut dengan berbagai pertemuan ulama, hingga KH. Abdul Wahab Hasbullah pada 1924 menggagas pembentukan sebuah jam’iyah dan menyampaikannya kepada KH. Hasyim Asy’ari. Setelah itu KH. Hasyim Asy’ari menyetujui pembentukan Komite Hijaz untuk mewakili para ulama Nusantara.
Pada 31 Januari 1926 atau bertepatan dengan 16 Rajab, jam’iyah tersebut resmi diberi nama Nahdlatul Ulama. Organisasi ini kemudian didaftarkan kepada pemerintah Hindia Belanda, dengan salah satu penyusun anggaran dasarnya adalah KH. Dahlan Nganjuk.
