Cerita Warga Bertahan Hidup saat Terseret Banjir Bandang Maut di Kota Padang

Karunia Putri
6 Desember 2025, 15:15
banjir, banjir sumatra, kota padang
Katadata
Sejumlah rumah di Kampung Apa, Kecamatan Koto Tangah, Padang, Sumatra Barat, Jumat (6/12). Foto: Wahyu Dwi Jayanto/Katadata
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ina masih mengingat dinginnya air bah yang menyergap tubuhnya pada subuh itu. Pukul 05.30 WIB, Kamis (27/11), ia bersama kakak laki-laki dan ibunya terseret banjir bandang atau galodo yang menghantam kawasan permukiman Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatra Barat.

Ina yang saat ini adalah mahasiswi, adalah salah satu korban hanyut banjir bandang yang melanda kawasan pemukiman di Lubuk Minturun. Lokasi Lubuk Minturun berada kaki perbukitan yang berada di sisi utara Kota Padang. 

Saat itu, Ina dibangunkan ibunya karena air sudah merembes ke dalam rumah. Tak lama kemudian, jendela rumah pecah dihantam arus dari bendungan di depan rumah mereka, yang menampung aliran Sungai Batang Kuranji.

Padahal selama ini, kata Ina, kawasan itu tak pernah benar-benar dimasuki air.  “Kalau banjir paling sampai teras saja,” ujarnya kepada Katadata di Lubuk Minturun, Jumat (5/12).

Namun pagi itu berbeda. Hantaman air yang kuat langsung menyeret mereka bertiga. Dalam kondisi gelap dan dinginnya air, Ina berusaha bertahan.

Dengan kemampuan berenang yang terbatas, ia mencoba membantu ibunya meraih sebatang pohon kelapa yang hanyut. Ina, kakaknya, dan sang ibu berpelukan pada batang kelapa itu. “Sudah enggak bisa menapak lagi,” katanya. Air saat itu sudah melewati tinggi badannya.

Gelombang besar kemudian datang dari arah atas, membuat pegangan mereka terlepas. Ina terseret jauh, tenggelam, dan kehilangan kesadaran.  “Saya sudah pasrah. Kalau (harus) mati, mati,” katanya. 

Bangunan terdampak banjir di Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatra Barat, Jumat (5/12).
Bangunan terdampak banjir di Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatra Barat, Jumat (5/12). (Katadata)

Namun ketika tersadar, Ina sudah berada di kamar mandi milik warga setempat yang juga terkena banjir.  Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Ina memanjat ke atas atap rumah untuk menyelamatkan diri. Di sana, ia duduk di antara puing atap. “Sudah seperti kiamat. Air tidak berhenti (menerjang),” kata Ina. 

Ina juga bercerita, saat itu langit sudah terang, dan ia sudah dapat melihat sekitar. Namun suhu air masih sangat dingin. “Sampai keluar asap dari mulut,” kata dia. 

Sekitar dua jam bertahan di atap, Ina melihat beberapa warga lain juga mengungsi di atap masjid. Dari kejauhan, ia melihat kakaknya. Hari sudah terang ketika Ina dan kakaknya berhasil dievakuasi sekitar pukul sembilan pagi.

Meski Ina sudah bersama sang kakak, saat ini ibunya belum juga ditemukan. Bahkan, sembilan hari berlalu, ibu Ina belum ditemukan. “Ina mau ketemu Ama,” katanya. Saat ini, Ina kini tinggal di rumah keluarga besarnya karena tak ada yang berani kembali ke lokasi rumah mereka yang hancur. 

Dari kampusnya, Universitas Negeri Padang, ia menerima bantuan kasur, air bersih dan kebutuhan mendesak lainnya. Ina adalah mahasiswi Pendidikan Ekonomi yang tengah menyelesaikan skripsi. Dia bilang seluruh berkas skripsi, laptop dan motornya ikut hilang dalam banjir.

Sementara itu kakaknya, yang lebih tua 5 tahun darinya kini masih trauma.  “Tiap malam menangis, diam saja,” kata Ina.

Untuk saat ini, Ina mengatakan hanya ingin ibunya ditemukan. Selain itu, dia menyebut membutuhkan tempat tinggal baru untuk dirinya dan kakaknya.

Bibi Ina mengatakan saat ini pemerintah sudah menyatakan akan melakukan relokasi rumah-rumah warga yang terdampak banjir bandang. Salah satunya rumah Ina. Ia mengatakan rencana pembangunan tersebut sudah disampaikan, termasuk pindah ke lokasi yang lebih aman.

Sementara itu, Camat Koto Tangah Fizlan Setiawan mengatakan pemerintah Kota Padang dan pemerintah pusat kini fokus pada penanganan tanggap bencana, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar warga yang kehilangan tempat tinggal. Sebagian korban sementara ini mengungsi di posko terdekat dan rumah kerabat.

Menurut Fizlan, pemerintah pusat telah memastikan bahwa warga yang kehilangan rumah akan ditempatkan di hunian sementara. Lahan hunian tetap akan disiapkan pemerintah daerah dan pembangunan rumah dilakukan oleh kementerian terkait. 

“Setelah tanggap darurat, kami menyiapkan  80 rumah salah satu kompleks itu yang nantinya akan kita tempati bagi masyarakat kita,” kata dia.

Relokasi bukan hanya diperuntukkan bagi rumah yang hanyut, tetapi juga rumah yang berada di bibir sungai setelah perpindahan aliran sungai dari bendungan menuju kawasan rumah warga

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...