62 Kasus Superflu di Indonesia: Masuk Sejak Agustus, Pasien Mayoritas Anak
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan situasi penyebaran kasus influenza A(H3N2) subclade K atau ‘Superflu’di dalam negeri masih dalam kondisi terkendali. Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus superflu yang tersebar di delapan provinsi. Mayoritas pasien merupakan perempuan dan kelompok usia anak.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Prima Yosephine, mengatakan subclade K pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025. Secara global, varian ini telah dilaporkan pada lebih dari 80 negara.
“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan,” kata Prima dalam siaran pers pada Rabu (31/12).
Kemenkes mendeteksi Superflu masuk di Indonesia sejak Agustus 2025. Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Berikut sejumlah poin utama terkait situasi penyebaran Superflu di Indonesia:
Apa itu Superflu?
Superflu merujuk pada subclade K, cabang baru dari virus influenza A(H3N2) yang selama puluhan tahun telah beredar sebagai flu musiman. Melansir situs web aliansi global untuk vaksin dan imunisasi, Gavi.org, para ilmuwan pertama kali mendeteksi subclade K pada pertengahan 2025.
Mereka mencatat penyebaran yang cepat di sejumlah negara, seperti Inggris, Jepang, dan beberapa wilayah Eropa. Meski membawa sejumlah mutasi genetik, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai subclade K tidak menunjukkan pola evolusi yang tidak biasa maupun gejala yang lebih berat dibandingkan virus influenza H3N2 lainnya.
“Hingga saat ini kami tidak melihat adanya tanda-tanda evolusi virus yang luar biasa atau mengkhawatirkan,” kata Direktur World Influenza Centre The Francis Crick Institute, Nicola Lewis.
Gejala Superflu
Kasus influenza A(H3) mulai meningkat di Amerika Serikat sejak pekan ke-40 tahun 2025 seiring masuknya musim dingin. Namun WHO menilai subclade K tidak menimbulkan gejala yang lebih berat dibandingkan varian lainnya.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Prima Yosephine, menjelaskan pasien Superflu umumnya mengalami gejala yang serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan.
Masuk Indonesia Sejak Agustus
Kementerian Kesehatan mendeteksi subclade K telah ada di Indonesia sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Temuan itu diperkuat oleh hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang rampung pada 25 Desember 2025 mengonfirmasi keberadaan varian tersebut.
Dari total 843 spesimen influenza yang terkonfirmasi positif, Kemenkes telah memeriksa 348 sampel melalui WGS. Seluruh varian yang teridentifikasi merupakan varian yang sudah dikenal dan saat ini beredar secara global dalam sistem surveilans WHO.
Hingga akhir Desember 2025, Kemenkes mencatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah kasus terbanyak berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas pasien berasal dari kelompok perempuan dan usia anak.
Menyebar di Asia Sejak Juli
Subclade K dilaporkan muncul di Asia sejak Juli 2025 di sejumlah negara, antara lain Cina, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand. Meski Superflu menjadi varian dominan, tren kasus di negara-negara tersebut justru menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir.
Kemenkes juga mencatat tren kasus influenza secara nasional juga menurun dalam dua bulan terakhir meski influenza A(H3) masih menjadi varian dominan. Pemerintah menegaskan akan terus memperkuat surveilans, pelaporan, serta kesiapsiagaan untuk merespons dinamika situasi influenza.
Kasus Kematian di AS
Di Amerika Serikat (AS), aktivitas influenza tercatat rendah sebelum libur nasional Thanksgiving. Aktivitas tersebut kemudian meningkat tajam setelah lonjakan perjalanan liburan dan pembukaan kembali sekolah.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan sedikitnya 2,9 juta kasus influenza pada musim ini, dengan 30.000 pasien menjalani rawat inap dan 1.200 orang meninggal dunia. Sebagian besar kasus disebabkan oleh Superflu influenza A(H3N2), dengan subclade K kini menjadi varian yang paling dominan.
Di Australia, musim influenza yang biasanya berlangsung dari Mei hingga Oktober terjadi lebih panjang dari biasanya. Infeksi influenza A(H3N2) yang berkaitan dengan subclade K muncul pada akhir periode musim tersebut.
Imbauan dan Pencegahan
Kemenkes mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta melakukan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta.
Vaksin influenza disebut tetap efektif untuk mencegah sakit berat, rawat inap, dan kematian. Masyarakat juga diminta tetap berada di rumah saat mengalami gejala flu, menggunakan masker, menerapkan etika batuk, serta segera mengakses fasilitas kesehatan jika gejala memburuk atau tidak membaik dalam lebih dari tiga hari.
Peran Vaksin
gavi.org melampirkan temuan jurnal Eurosurveillance yang menunjukkan vaksin influenza yang saat ini digunakan masih memberikan perlindungan signifikan terhadap kasus influenza yang cukup parah hingga memerlukan perawatan medis, termasuk infeksi akibat influenza A(H3N2) subclade K.
Pada anak-anak dan remaja, efektivitas vaksin mencapai sekitar 72–75%, sementara pada orang dewasa berkisar 32–39%. Angka ini sebanding dengan efektivitas vaksin flu terhadap H3N2 pada akhir musim dalam beberapa tahun terakhir di Inggris, Eropa, dan Kanada.
