Bangkit Pascabencana, Pedagang Kuliner Aceh Tamiang Kembali Berjualan

Tim Publikasi Katadata
8 Januari 2026, 11:17
Warung kopi di Aceh Tamiang. Pedagang makanan di Aceh Tamiang mulai kembali beraktivitas usai banjir bandang dan longsor meski pemulihan pascabencana belum sepenuhnya tuntas.
IST.
Warung kopi di Aceh Tamiang. Pedagang makanan di Aceh Tamiang mulai kembali beraktivitas usai banjir bandang dan longsor meski pemulihan pascabencana belum sepenuhnya tuntas.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Setelah diterpa bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh pada akhir November 2025, ekonomi warga di wilayah tersebut, khususnya di Kabupaten Aceh Tamiang, mulai pulih perlahan. Para pedagang makanan di daerah yang terdampak cukup parah ini sudah kembali menjajakan dagangannya meskipun dalam kondisi yang masih belum sepenuhnya ideal.

Kebangkitan aktivitas ekonomi, khususnya bagi pedagang makanan, terekam dalam berbagai ulasan yang dibagikan oleh akun Instagram Tamiangfoods. Berbagai kuliner yang diulas meliputi Bakso Wong Solo di Tanah Terban, tahu isi goreng di Paya Bedi, mie Aceh dan kwetiau di Kuala Simpang, serta nasi Padang di kawasan yang sama. Warga setempat juga turut berdatangan untuk menikmati makanan tersebut.

“Hari ini pertama kali aku beli nasi Padang pasca banjir. Harganya Rp20.000, porsinya memang tidak banyak, dan rasanya agak berbeda dari biasanya. Tapi di kondisi seperti ini, aku paham. Bahan susah, dapur terbatas, dan semua masih berusaha bangkit perlahan-lahan,” tulis @tamiangfoods dalam unggahannya pada Kamis (8/1).

Dia juga menambahkan, “Ini bukan video nyari enak. Ini video tentang realita setelah banjir, tentang hari pertama bisa beli makanan lagi, tentang hidup yang mulai berjalan walaupun belum normal. Semoga ke depan semua perlahan membaik.”

Pada unggahan lainnya, @tamiangfoods mengungkapkan bagaimana setelah lebih dari sebulan pascabanjir, banyak hal yang hilang, termasuk hal sederhana seperti makan makanan favorit. Ia pun bersyukur bisa menikmati lagi kwetiau kesukaannya.

“Hari ini, akhirnya aku bisa makan mie kwetiau lagi. Bukan soal enak atau tidak. Tapi soal rindu yang terbayar. Pelan-pelan, semoga hidup kembali normal,” katanya.

Selain itu, ia juga sempat mengunjungi posko mandiri di Aceh Tamiang, tempat warga mengelola bahan makanan secara swadaya. Warga saling membantu dengan mengantar sayur-sayuran dan memasak bersama.

“Di tengah banjir yang menenggelamkan rumah hingga 7 meter, para relawan masih sempat memasak telur balado panas untuk semua warga yang mengungsi. Aku review jujur makanan posko hari ini, dan sumpah… rasanya enak, pedasnya pas, dan yang bikin haru itu dibuat sambil relawan kurang tidur,” tambahnya.

Harapan pun disampaikan agar warga Aceh Tamiang tetap kuat dan keadaan segera pulih kembali.

Sejak akhir Desember 2025, aktivitas perdagangan di pasar-pasar di Aceh Tamiang, seperti Pasar Sabtu Tualang Cut, Pasar Sungai Liput, dan Pasar Kuala Simpang, telah kembali menggeliat. Pasar-pasar tersebut dipadati pedagang dan pembeli yang membeli kebutuhan sehari-hari seperti sayur-sayuran dan buah. Bahkan, toko emas pun ramai dikunjungi oleh ibu-ibu.

Aceh Tamiang, yang menjadi salah satu prioritas utama pemulihan pascabencana di Sumatera, memang terdampak sangat parah. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyatakan bahwa kerusakan di Aceh Tamiang lebih parah dibandingkan dengan daerah terdampak lainnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...