Rupiah Menguat Terhadap Dolar Amerika Serikat: Seberapa Besar?

Anggi Mardiana
28 Januari 2026, 17:17
Rupiah Menguat Terhadap Dolar
ANTARA
Rupiah Menguat Terhadap Dolar
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Bloomberg, pada Rabu (28/1) pukul 12.09 WIB, rupiah naik 0,42 persen secara harian dan berada di level Rp 16.697 per dolar AS. Sebelumnya, pada perdagangan Selasa (27/1/2026), rupiah di pasar spot juga menguat sebesar 0,08 persen secara harian ke posisi Rp 16.768 per dolar AS.

Pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya setelah sebelumnya melakukan tiga kali penurunan berturut-turut. Selain itu, kedekatan antara Presiden AS Donald Trump dan Ketua The Fed Jerome Powell yang memicu kekhawatiran terhadap independensi bank sentral akibat tekanan politik juga menjadi perhatian utama pasar, ujar Ibrahim saat dikonfirmasi, Rabu (28/1/2026).

Meski demikian, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada Rabu (28/1), cenderung berfluktuasi dan berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp 16.760 hingga Rp 16.790 per dolar AS.

Rupiah Menguat Terhadap Dolar Amerika Serikat

Rupiah Menguat Terhadap Dolar
Rupiah Menguat Terhadap Dolar (ANTARA)

Menguatnya rupiah ini, melanjutkan kinerja positif setelah pada penutupan perdagangan Selasa (27/1/2026) terapresiasi tipis 0,06 persen di posisi Rp16.760 per dolar AS, sekaligus mencatatkan penguatan selama lima hari perdagangan berturut-turut.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat melemah 0,16 persen ke level 96,066. Pelemahan tersebut, melanjutkan tekanan signifikan pada sesi sebelumnya, ketika DXY ditutup turun 0,85 persen ke level 96,217, yang merupakan posisi terendah dalam empat tahun terakhir.

Kondisi tersebut, membuka peluang penguatan rupiah lebih lanjut, seiring melemahnya dolar AS di pasar global. Koreksi DXY menunjukkan investor mulai melepas aset berdenominasi dolar dan beralih ke aset berisiko, serta mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Kenapa Dolar Melemah?

Tekanan terhadap dolar AS dipengaruhi oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut dirinya tidak terlalu mempengaruhi melemahnya dolar belakangan ini, dan menilai penurunannya masih dalam batas wajar. Pernyataan tersebut, memperkuat pandangan pasar bahwa pemerintah AS relatif menerima dolar yang lebih lemah demi meningkatkan daya saing ekspor.

Selain itu, kebijakan di Washington juga menambah tekanan terhadap greenback, termasuk kembali menyebutkan pernyataan Trump terkait Greenland serta kritik terhadap independensi Federal Reserve. Spekulasi mengenai kemungkinan koordinasi intervensi valuta asing antara AS dan Jepang untuk mendukung yen juga menjadi faktor yang membebani dolar.

Dari dalam negeri, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo optimis nilai tukar rupiah akan terus menguat ke depan dan tidak hanya bersifat sementara seperti penguatan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir setelah sebelumnya sempat ditekan mendekati Rp17.000 per dolar AS. Perry menegaskan bahwa secara fundamental rupiah memiliki potensi penguatan berkelanjutan.

Ia menilai posisi rupiah yang telah kembali ke kisaran Rp16.700 per dolar AS masih berada di bawah nilai fundamentalnya atau dalam kondisi undervalued. Menurutnya, terdapat sejumlah faktor kuat yang mendukung prospek penguatan rupiah, di antaranya inflasi yang tetap terkendali, pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan membaik, serta aliran investasi asing yang masih masuk ke Indonesia.

Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat seiring berlanjutnya tekanan pada mata uang AS di pasar global, serta membaiknya sentimen dari dalam negeri. Pelemahan indeks dolar mendorong aliran dana ke mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang juga didukung oleh fundamental perekonomian Indonesia yang relatif solid.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...