Profil Adies Kadir, Calon Hakim MK yang jadi Sorotan Mahfud MD

Ameidyo Daud Nasution
4 Februari 2026, 11:33
Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) usulan DPR Adies Kadir (tengah) menerima ucapan selamat dari anggota DPR saat mengikuti Rapat Paripurna DPR ke-12 Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025-2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Rapat
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/aww.
Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) usulan DPR Adies Kadir (tengah) menerima ucapan selamat dari anggota DPR saat mengikuti Rapat Paripurna DPR ke-12 Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025-2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Rapat Paripurna DPR menyetujui Adies Kadir yang sebelumnya merupakan Wakil Ketua DPR menjadi Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) menggantikan Hakim MK Arief Hidayat yang akan pensiun pada 5 Februari mendatang.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Politikus Partai Golkar Adies Kadir telah terpilih menjadi Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) menggantikan Arief Hidayat. Presiden Prabowo Subianto juga telah menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Adies menjadi hakim konstitusi.

Meski demikian, mantan Ketua MK Mahfud MD mempertanyakan penunjukan Adies. Apalagi, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebelumnya telah menetapkan Inosentius Samsul untuk menggantikan Arief Hidayat.

"Tentu (penunjukan Adies) mempengaruhi wajah MK," kata Mahfud kepada awak media di Gedung MK, Jakarta, Selasa (3/2).

Adies merupakan calon Hakim MK usulan dari DPR. Jumlah calon Hakim Konstitusi diatur sebanyak sembilan orang yang diusulkan presiden, DPR, dan Mahkamah Agung.

Setiap unsur akan mengajukan tiga nama untuk melalui proses uji kelayakan dan kepatutan sebelum melalui proses pemungutan suara oleh Komisi III DPR.

Profil Adies Kadir

Adies Kadir pernah berkarir di sejumlah perusahaan sebelum memasuki Partai Golkar. Dia lahir di Balikpapan, Kalimantan Timur pada 17 Oktober 1968. Dia lulus dari jurusan Teknik Sipil di Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya pada 1993.

Usai lulus, ia sempat bekerja di sektor swasta hingga tahun 2007. Beberapa tempat yang disinggahinya adalah perusahaan properti Lamicitra Nusantara, PT Suryainti Permata, hingga memimpin PT Jaya Aditek.

Di sela-sela pekerjaannya, Adies juga mulai menyentuh dunia politik dan menjadi Sekretaris Pengurus Daerah Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) pada 2002. Ia juga sempat melanjutkan pendidikannya dengan mengambil program magister hukum di Universitas Merdeka Malang dan lulus pada 2007.

Usai lulus magister, Adies banting setir dalam karir dengan menjadi mitra di firma hukum Syaiful Ma'arif & Partners. Tahun 2009, dia juga menjabat Ketua DPD II Partai Golkar.

Pada Pemilihan Umum 2009, Adies terpilih menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya. Setahun kemudian, ia menjajal Pemilihan Umum Wali Kota Surabaya, namun kalah melawan pasangan Tri Rismaharini dan Bambang DH.

Pada Pemilu 2014, Adies lolos ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) usai mendapatkan 30.090 suara dari Daerah Pemilihan Jawa Timur 1. Pada 2017, dia menjadi doktor bidang hukum dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Adies juga terus bertahan di Senayan dalam dua pesta politik setelahnya. Dia bahkan sempat menjadi Wakil Ketua DPR pada 2014. Meski demikian, ia sempat dinonaktifkan usai memberikan keterangan soal tunjangan rumah Anggota DPR.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...