Transformasi Kesehatan Indonesia Hadapi Tantangan Pemerataan Akses

Image title
5 Februari 2026, 13:39
Sejumlah pasien antre untuk menjalani pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat, Kamis (15/1/2026). Pemerintah Kota Bandung resmi menghadirkan layanan darurat dan persalinan selama 24 jam di Puskesmas Garuda dan Puskesmas Ibrah
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/wsj.
Sejumlah pasien antre untuk menjalani pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat, Kamis (15/1/2026). Pemerintah Kota Bandung resmi menghadirkan layanan darurat dan persalinan selama 24 jam di Puskesmas Garuda dan Puskesmas Ibrahim Adjie sebagai upaya meningkatkan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Upaya pemerataan layanan kesehatan di Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan akibat kondisi geografis dan demografis. Selain itu, fasilitas rumah sakit juga masih menghadapi tantangan keberlanjutan bisnis dan perubahan-perubahan regulasi.

Berdasarkan data Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan (SISDMK) per Maret 2024, dari 10.217 puskesmas di seluruh Indonesia, sebanyak 48 persen atau 4.908 puskesmas belum memenuhi ketersediaan sembilan jenis tenaga kesehatan yang dibutuhkan. Secara keseluruhan, Indonesia masih kekurangan 8.681 tenaga kesehatan.

President Director Sysmex Indonesia, Emilani Nababan mengatakan  Indonesia saat ini tengah berada dalam fase penting transformasi kesehatan dan pemerintah dinilai serius mewujudkannya.

“Kita bersyukur Indonesia itu saat ini sejak Covid-19 masuk dalam satu transformasi kesehatan di Indonesia,” ujar Emilani dalam konferensi pers CEO Forum, Kamis (5/2).

Meski demikian, ia menilai tantangan implementasi di lapangan tidak sederhana. Kondisi geografis dan demografis Indonesia membuat upaya pemerataan layanan kesehatan jauh lebih sulit dibandingkan negara lain.

“Tantangannya memang sangat sulit. Pertama, mungkin kita tidak bisa dengan mudah membandingkan dengan negara-negara lain karena populasi masyarakat kita kan 280 juta. Terus 17.000 kepulauan. Belum distribusi fasilitas, distribusi sumber daya, distribusi kompetensi itu menjadi tantangan terbesar,” katanya.

Menurut dia, persoalan distribusi tersebut berdampak pada sulitnya mewujudkan kesetaraan akses layanan kesehatan di seluruh wilayah Indonesia.

Sebagai penyedia layanan, Emilani mengatakan pihaknya berupaya lebih aktif membaca kebutuhan riil di lapangan agar dukungan yang diberikan tepat sasaran. Salah satu langkah yang ditempuh adalah program edukasi dan penyesuaian distribusi layanan berdasarkan kebutuhan daerah.

Di sisi lain, rumah sakit juga menghadapi tantangan keberlanjutan bisnis serta perubahan regulasi. Emilani menyebut adanya penyesuaian sistem pembiayaan layanan kesehatan hingga tuntutan pemanfaatan teknologi yang semakin maju.

“Nah itu memang tantangan yang lain dari rumah sakit adalah dengan tuntutan secara bisnis mereka harus sustain. Kemudian regulasi juga pasti akan ada perubahan-perubahan. Belum lagi dituntut teknologi harus makin advance,” katanya.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...