Danantara Wajibkan BUMN Beli Kapal di PT PAL demi Tekan Impor Baja Nasional

Kamila Meilina
6 Februari 2026, 08:03
pt pal, danantara, baja
ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Pekerja menyelesaikan pembuatan Kapal Cepat Rudal 60 meter (KCR 60) di Assembly Hall Divisi Kapal Perang PT PAL Indonesia, Ujung Surabaya, Jawa Timur, Kamis (2/2/2017).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara alias BPI Danantara menargetkan penurunan ketergantungan impor baja. Salah satunya dengan mewajibkan seluruh badan usaha milik negara atau BUMN untuk memproduksi armadanya di PT PAL Indonesia dan PT INKA.

“Kita melakukan merger perusahaan-perusahaan yang bergerak di industri perkapalan, tetapi dampaknya adalah kita akan mewajibkan seluruh perusahaan yang membutuhkan manufaktur kapal di lingkup Danantara untuk dilakukan di PT PAL,” kata Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Jakarta pada Rabu (4/2). 

Kebijakan ini mencakup sejumlah BUMN strategis seperti PT Pertamina International Shipping (PIS), PT PAL, dan PT Sarana Daya Perkasa (SDP). Menurutnya, sentralisasi produksi tersebut bertujuan memperkuat kapasitas industri dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk impor.

“Dampaknya akan pada lapangan pekerjaan dan tentu mengurangi impor,” kata dia.

Selain sektor perkapalan, Danantara juga mendorong penguatan PT INKA sebagai pusat manufaktur dan perawatan industri kereta api nasional. Saat ini, PT INKA telah memiliki tiga fasilitas produksi di Madiun dan Banyuwangi, dengan rencana penambahan pabrik baru di Banyuwangi.

“Kami mewajibkan bahwa seluruh perbaikan industri kereta api ke depan dilakukan di PT INKA, termasuk juga manufakturnya,” ujar Donny.

Langkah itu sejalan dengan rencana pemerintah yang menjadikan kereta api sebagai tulang punggung transportasi massal. Pemerintah tengah menyiapkan program elektrifikasi di sejumlah jalur, antara lain Jakarta–Cikampek, Jakarta–Rangkasbitung, dan Jakarta–Sukabumi.

Kebijakan industrialisasi di sektor kapal dan kereta api itu disebut akan berdampak langsung pada peningkatan kebutuhan baja nasional. Danantara berharap kebutuhan tersebut dapat dipasok dari industri dalam negeri, bukan lagi didominasi produk impor.

“Karena itu kami juga mengembangkan kapasitas pabrik baja di sisi hulu yang akan groundbreaking bulan depan dengan kapasitas sekitar 3 juta ton per tahun,” katanya.

Sebagai informasi, salah satu proyek Danantara tahun ini adalah pengembangan hulu (upstream) dari industri baja di Cilegon, Banten bulan depan. Salah satu proyek utama yakni pembangunan pabrik slab baja di Cilegon yang berada di bawah PT Krakatau Steel (KRAS).

Namun, ia menekankan pentingnya keberpihakan pemerintah untuk melindungi industri strategis tersebut. Tanpa dukungan kebijakan proteksi yang memadai, industri baja nasional dinilai akan sulit bersaing dengan produk luar negeri.

“Harus ada keberpihakan pemerintah untuk melindungi industri yang sedang kita kembangkan. Tanpa itu, industri ini akan sulit untuk bersaing ke depannya,” ujar dia.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...