Iran Bantah Serang Kilang Minyak Aramco di Arab Saudi

Andi M. Arief
3 Maret 2026, 14:57
iran, aramco, arab saudi
Katadata
Saudi Aramco
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan pihaknya tidak menyerang kilang minyak bumi milik Aramco di Arab Saudi. Iran juga telah memberikan penjelasan ke pemerintah Arab Saudi pada Selasa (3/3).

Dilansir dari CNN, Araghchi mengatakan fasilitas pemurnian minyak bumi milik Aramco di Ras Tanura, Arab Saudi bukan target militer Iran. Karena itu, pemerintah Iran tidak bertanggung jawab atas serangan yang diterima Aramco.

"Kami telah mengumumkan secara resmi bahwa serangan itu bukan salah satu target militer Iran," kata Araghchi dalam wawancara dengan CNN, Selasa (3/3).

Dilansir dari Bloomberg, fasilitas Aramco di as  Tanura telah menerima serangan misil drone kemarin malam, Senin (2/3). Alhasil, Aramco harus menghentikan operasi di Ras Tanura dengan kapasitas produksi 550.000 barel per hari untuk memeriksa kerusakan di pabrik.

Hasil serangan tersebut telah menimbulkan kebakaran terbatas akibat puing drone setelah dicegat oleh militer Arab Saudi. Walau demikian, Aramco masih belum memberikan pernyataan resmi terkait dampak serangan ke operasional perusahaan.

Kilang Aramco di Ras Tanura merupakan pemasok solar utama di Eropa. Walau demikian, kegiatan kapal yang membawa minyak mentah dari Aramco di sekitar Ras Tanur masih terpantau bergerak dengan kecepatan normal.

Adapun 27% dari pasokan minyak dunia berasal dari negara-negara di Timur Tengah, yakni Arab Saudi, Iraq, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Oman. Sementara itu, 20% dari pasokan minyak bumi dunia harus melalui Selat Hormuz yang dikelilingi negara-negara tersebut.

Iran telah meluncurkan misil ke delapan negara di Timur Tengah selama akhir pekan lalu, Sabtu (28/2) dan Minggu (1/3). Secara rinci, negara-negara yang telah diserang misil asal Iran adalah Israel, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, Irak, dan Oman.

Sementara, harga minyak acuan dunia naik 8% ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada Senin (2/3). Hal ini terjadi seiring dengan peningkatan konflik di Timur Tengah, yang mengakibatkan kerusakan kapal tanker serta mengganggu pengiriman dari wilayah produsen minyak utama.

Kontrak berjangka minyak Brent mencapai level tertinggi US$ 82,37 per barel, naik US$ 6, 47 atau 8,88% dari harga sebelumnya di US$ 79,34 per barel. Sementara itu harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak US$ 5,36 atau 8%, menjadi US$ 72,38 per barel setelah mencapai level tertinggi US$$ 75,33.

Banyak analis memprediksi kenaikan besar-besaran harga minyak dunia, bahkan bisa menembus US$ 100 per barel. Posisi Selat Hormuz, yang dianggap sebagai titik krusial terpenting dalam rantai pasokan minyak dunia, telah mendorong analis minyak untuk menaikkan proyeksi harga minyak di masa depan.

“Jika konflik berlarut-larut, khususnya, jika hal itu mempengaruhi pasokan minyak aktual akibat gangguan pada pasokan (minyak) Iran,” kata William Jackson, ekonom pasar negara berkembang utama di Capital Economics, dalam sebuah catatan kepada klien, seperti dikutip Deutsche Welle.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...