Berbuka di Istana, Prabowo Duduk Semeja dengan Pimpinan Muhammadiyah, PBNU, MUI
Presiden Prabowo Subianto hari ini mengundang para pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, pengasuh pondok pesantren, dan juga mubalig untuk bersilaturahmi di Istana Kepresidenan Jakarta.
Kepala negara pun membagikan momen tatkala dia menyantap iftar (hidangan untuk berbuka) bersama para petinggi Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di akun media sosialnya.
"Berbuka puasa bersama Rais Aam PBNU KH Miftachul Achyar, Ketua Umum Muhammadiyah Prof Haedar Nashir, dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Anwar Iskandar di Istana Merdeka, Jakarta," tulis Prabowo pada postingan di akun Instagram pribadinya, Kamis (5/3).
Namun, dalam unggahan tersebut, Prabowo tidak menjelaskan secara terperinci topik pembicaraan apa saja yang berlangsung antara dirinya dan para pemimpin ormas Islam tersebut. Dia hanya menutup postingannya dengan ucapan selamat berbuka puasa kepada masyarakat yang menjalankan amalan rukun Islam di Bulan Ramadan itu.
"Selamat berbuka puasa bagi Saudara-Saudara yang menjalankan ibadah puasa," tulis presiden.
Sebelumnya, saat tiba di Istana Negara sore tadi, Ketua MUI Muhammad Anwar Iskandar menyebut kedatangannya hari ini memang untuk memenuhi undangan silaturahmi dari presiden sekaligus buka puasa bersama dengan para ulama lainnya. Namun, Anwar mengaku masih belum bisa memberikan informasi lainnya, termasuk soal diskusi apa saja yang akan dilakukan bersama kepala negara.
Ia menuturkan, diskusi bersama Prabowo dapat terjadi apabila memungkinkan secara waktu. Namun, ia berharap adanya sesi saling bertukar pandang antara presiden dan ulama.
"Kalau ada diskusi malah lebih bagus. Karena kan ya mungkin perlu ada komunikasi yang lebih bagus antara ulama dan umara (pemimpin pemerintahan). Begitu, kan?" katanya.
Terkait dengan pembahasan mengenai konflik di Timur Tengah, Anwar berharap perdamaian dapat segera tercipta sehingga tidak menimbulkan dampak yang lebih besar lagi, termasuk bagi Indonesia.
"Saya enggak mau berandai-andai. Yang jelas, kita inginnya itu semuanya menahan diri, perdamaian tercipta, dan tidak berpengaruh kepada ekonomi, terutama Indonesia. Kalau berpengaruh, kan kalian juga susah," ujarnya.
