Kemenlu Siapkan Kunjungan Prabowo Jadi Fasiliator Iran - AS, Masih Tunggu Sinyal

Andi M. Arief
6 Maret 2026, 12:22
Presiden Prabowo Subianto berbuka puasa bersama Rais Aam PBNU KH Miftachul Achyar, Ketua Umum Muhammadiyah Prof Haedar Nashir, dan Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (5/3).
Instagram
Presiden Prabowo Subianto berbuka puasa bersama Rais Aam PBNU KH Miftachul Achyar, Ketua Umum Muhammadiyah Prof Haedar Nashir, dan Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (5/3).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Luar Negeri atau Kemenlu akan menyiapkan perjalanan Presiden Prabowo Subianto ke Teheran, Iran dalam waktu dekat. Presiden Prabowo membahas rencana kunjungan itu bersama Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif Kamis (5/3).

Mantan Anggota Kopassus TNI ini berniat meredam eskalasi yang sedang terjadi di negara-negara teluk. "Kemenlu pada dasarnya siap mengkoordinasikan dengan kementerian terkait dan mempersiapkan perjalanan sesuai arahan presiden nanti," kata Juru bicara Kemenlu Yvonne Mewengkang dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (6/3).

Yvonne mengatakan Presiden Prabowo telah menawarkan diri menjadi fasilitator dalam mengadakan dialog antara Iran dan Amerika Serikat. Namun Yvonne menekankan tugas tersebut bisa dijalankan apabila semua pihak dalam konflik menyetujui hal tersebut.

Yvonne berargumen keinginan Indonesia menjadi mediator dalam Perang Iran-AS konsisten dengan politik luar negeri bebas-aktif. Sebab, pemerintah terus mendorong penyelesaian damai dan de-eskalasi konflik.

"Indonesia tidak mendekati isu ini dari perspektif harus mengecam salah satu pihak. Prioritas kami saat ini adalah de-eskalasi, dan itu prinsip kami saat ini," katanya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie menyebut Rencana Prabowo itu diungkap dalam pertemuan dengan para kiai, ulama, serta cendekiawan muslim di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis (5/3) malam.

"Dan yang saya bersyukur Presiden (Prabowo), Perdana Menteri Pakistan bersedia untuk bersama-sama dengan Presiden Prabowo untuk berkunjung ke Teheran. Itu yang diterangkan tadi oleh Presiden," ujar Jimly seperti dikutip Jumat (6/3).

Menurut Jimly dalam pertemuan itu, Prabowo menjelaskan niatan untuk mediasi itu lebih ke arah untuk meredam eskalasi terutama setelah militer Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran secara sepihak minggu lalu. Namun menurut Jimly Prabowo tidak akan datang untuk menjadi juru damai.

"Jadi, bukan menegosiasi ya, menjadi mediator antara apa dengan bukan hanya dalam pengertian negosiasi atau mediasi Israel dengan Iran, bukan kayak begitu. Ini kan orang (tertingginya, red.) sudah dibunuh ya kan. Ayatollah-nya sudah dibunuh, masa ditawarin damai, bukan dalam konteks itu, tetapi ini untuk mencegah eskalasi," kata

Menurut Jimly, niatan Presiden Prabowo untuk meredam eskalasi itu disambut baik oleh PM Pakistan. Kedatangan ke Teheran direncanakan akan dilakukan bersamaan.

Posisi Indonesia dan Pakistan sebagai negara dengan penduduk muslim besar menurut Jimly akan menjadi daya tawar. Pada saat yang sama ia menyebut sesama negara muslim di Timur Tengah akan sulit untuk bertemu lantaran mereka langsung berada di arena konflik lantaran pangkalan militer Amerika Serikat ada di lima negara Teluk sehingga secara tidak langsung melibatkan mereka dalam pusaran perang.

“Nah, jadi, peranan Indonesia, Pakistan sebagai negara berpenduduk muslim terbesar penting sekali untuk mengajak damai, walaupun mungkin peluangnya kecil, tetapi (patut) dicoba," katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...