Prabowo Heran Cucu Perusahaan BUMN Tak Bisa Diaudit, Singgung 200 Anak Pertamina
Presiden Prabowo Subianto mengaku terkejut setelah mengetahui banyaknya anak dan cucu perusahaan yang dimiliki badan usaha milik negara (BUMN) PT Pertamina. Ia menyebut jumlah entitas usaha turunan perusahaan energi pelat merah itu mencapai sekitar 200 perusahaan.
"Saya kaget, Pertamina punya 200 anak dan cucu perusahaan," kata Prabowo saat menyampaikan arahan acara 'Tasyakuran Satu Tahun Danantara Indonesia' di Wisma Danantara, Jakarta, pada Rabu (11/3).
Ia juga menyoroti adanya aturan yang dinilainya janggal terkait mekanisme pengawasan perusahaan-perusahaan turunan BUMN. Ia mempertanyakan ketentuan yang menyebut cucu perusahaan BUMN tidak dapat dapat diaudit oleh negara.
"Ada peraturan yang lebih aneh lagi. Kalau BUMN boleh diaudit oleh negara, katanya kalau cucu perusahaan tidak boleh diaudit. Peraturan dari mana ini?," ujar Prabowo.
Menurut Prabowo, pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) didasarkan pada premis bahwa pengelolaan investasi negara harus berada dalam satu kendali manajemen yang terpusat agar dapat berjalan efektif.
Ia menilai pengelolaan ratusan bahkan ribuan entitas perusahaan dalam satu sistem yang tidak terintegrasi seperti sebelumnya akan menyulitkan pengawasan dan pengambilan keputusan.
"Saya baru tahu BUMN itu 1.000 perusahaan lebih. Tidak ada pelajaran manajemen di mana pun di dunia, satu manajemen bisa mengelola 1.000 entitas," kata Prabowo.
Ketua Umum Partai Gerindra itu menyatakan langkah konsolidasi dan penataan manajemen di lingkungan BUMN saat ini mulai menunjukkan hasil positif. Ia menilai pendekatan konsolidasi dengan satu sistem manajemen mampu memperbaiki efisiensi dan kinerja perusahaan.
Prabowo mengatakan telah menerima laporan teranyar terkait kinerja positif Danantara. Berdasarkan laporan tersebut, Prabowo menyebut tingkat pengembalian aset atau return on asset (RoA) pada 2025 meningkat lebih dari 300% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Premis kita ternyata benar. Konsolidasi, satu manajemen dengan rasional, dengan standar-standar terbaik dunia, return on asset saya terima di atas 300%. Ini masih jauh dari sasaran kita," ujarnya.
Mantan Komandan Jenderal Kopassus itu menargetkan Danantara bisa menyetor keuntungan minimal Rp 800 triliun setiap tahun ke nagara nantinya. Nominal ini mengacu pada asumsi Danantara dapat mencapai RoA 5% setiap tahunnya.
"Kalau hanya 5% return on asset, berarti Danantara harus kembalikan ke negara US$ 50 miliar dolar setiap tahun, Rp 800 triliun. Jadi pimpinan Danantara, sasaranmu masih jauh," kata Prabowo.
Menurut Prabowo, sejumlah perusahaan dengan fundamental baik setidaknya mampu mencatatkan tingkat keuntungan atas asetnya sekitar 10% hingga 15% setiap tahun. "Tapi saya mengerti bahwa itu mungkin dalam tahun-tahun pertama belum bisa tercapai," ujarnya.
