Poin Pernyataan SBY usai Gugurnya 3 TNI: Desak PBB Setop Misi UNIFIL di Lebanon
Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat bicara soal keselamatan personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Lebanon. SBY meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghentikan penugasan UNIFIL di Lebanon karena insiden tersebut.
SBY menyampaikan hal tersebut dalam keterangannya yang diunggah dalam akun media sosial X @SBYudhoyono pada Ahad (5/4). Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat ini menjelaskan, pasukan UNIFIL sejatinya menjalankan fungsi penjaga perdamaian (peacekeeping) berdasarkan Chapter VI Piagam PBB, bukan peacemaking yang melibatkan operasi tempur.
"Seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL," kata SBY.
Alasan Pasukan Perdamaian UNIFIL Perlu Ditarik
SBY menjelaskan, pasukan penjaga perdamaian tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak ditugaskan untuk terlibat dalam pertempuran. Mereka ditempatkan di wilayah ‘Blue Line’ sebagai zona pemisah antara Israel dan Lebanon yang semestinya bukan area perang terbuka.
Ia mengatakan kontingen Indonesia saat ini sudah berada di zona perang atau war zone yang sehari-hari menjadi lokasi pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah. Menurut SBY, saat ini pasukan Israel sudah maju 7 kilometer (km) dari batas Blue Line.
“Keadaan ini tentu sangat berbahaya bagi peacekeeper, karena setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang tengah berlangsung.” tulis SBY.
Desak Investigasi Gugurnya TNI
Selain itu, SBY juga mendukung langkah pemerintah Presiden Prabowo Subianto yang mendesak PBB untuk melakukan investigasi secara serius, jujur, dan adil atas insiden yang menimpa prajurit Indonesia.
Menurutnya, PBB, khususnya UNIFIL, harus mampu memberikan penjelasan yang dapat diterima terkait rangkaian peristiwa yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka.
SBY juga menyampaikan duka mendalam atas wafatnya tiga prajurit TNI. Dia bahkan ikut memberikan penghormatan terakhir saat jenazah 3 personel TNI tiba di Indonesia.
Tiga prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian tersebut yakni Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon.
“Saya bisa merasakan duka yang mendalam dari keluarga mereka (istri, anak dan orang tua) yang hadir di Cengkareng semalam. Saat saya ikut mengucapkan bela sungkawa yang mendalam kepada mereka, saya tahu arti air mata yang jatuh di pipi mereka,” tulis SBY.
Sejarah Keterlibatan TNI di Lebanon
SBY juga menceritakan awal mula Indonesia terlibat dalam upaya perdamaian di Lebanon selatan. Keikutsertaan RI dimulai saat konflik antara Israel dengan Lebanon pada Agustus 2026.
Saat itu, SBY mengusulkan kepada Perdana Menteri Malaysia saat itu yakni Abdullah Ahmad Badawi untuk menggelar pertemuan darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Kuala Lumpur. Pertemuan dipimpin oleh Badawi yang juga menjabat pimpinan OKI.
Hadir dalam pertemuan tersebut SBY, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, hingga PM Lebanon Fouad Siniora.
Dalam pertemuan itu, SBY mengutarakan niat untuk mengirimkan satu batalyon pasukan TNI ke perbatasan Israel dan Lebanon. Ini sebagai bentuk partisipasi Indonesia dalam mengawal gencatan senjata.
Menurut SBY, inilah yang menjadi alasannya untuk menyatakan sikap atas gugurnya prajurit TNI di Lebanon. "Saya juga merasa punya kewajiban moral untuk ikut memperjuangkan keadilan bagi prajurit-prajurit TNI yang menjadi korban," katanya.


