Nadiem Bawa Konsultan Pajak Jadi Saksi, Tantang Jaksa Buktikan Dakwaan Rp 809 M
Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim menekankan tidak ada aliran dana ilegal kepada dirinya. Hal tersebut disampaikan setelah mendengarkan kesaksian konsultan pajak yang mengisi Surat Pemberitahuan Pajak dan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara dirinya.
Nadiem menantang Jaksa Penuntut Umum untuk melakukan pembuktian terbalik terkait dakwaan Rp 809 miliar yang diterimanya. Sebab, Nadiem menjelaskan seluruh perubahan aliran dana yang tercatat dalam SPT maupun LHKPN-nya berasal dari penawaran publik perdana atau IPO PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk.
"Sekarang terbukti bahwa tidak ada aliran dana ilegal dalam bentuk apa pun yang saya terima. Semua itu adalah fitnah belaka, dan itu yang sangat menghina bagi saya," kata Nadiem di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (4/5).
Seperti diketahui, Nadiem didakwa memperkaya diri sendiri akibat lonjakan nilai surat berharga senilai Rp 5,59 triliun dalam LHKPN 2022. Namun Nadiem menyampaikan angka tersebut terjadi akibat gabungan dari aksi pemecahan saham oleh GoTo pada 2021 dan IPO pada 2022.
Di samping itu, Nadiem mengaku telah memiliki saham GoTo sejak 2015. Nadiem mengklaim baru menjual saham GoTo pada 2023 atau setahun setelah pengadaan laptop Chromebook berakhir pada 2022.
Senior Manager PB Taxand Ashadi Bunjamin mengaku telah mengisi SPT maupun LHKPN Nadiem sejak 2018 sampai saat ini. Menurutnya, Nadiem memiliki 58.416 saham GoTo senilai Rp 1,22 triliun pada 2020.
Ashadi mencatat jumlah lembar saham GoTo milik Nadiem berubah pada 2021 menjadi sekitar 15 miliar unit akibat pemecahan saham. Namun Ashadi menekankan nilai saham milik Nadiem tidak berubah pada tahun tersebut, yakni senilai Rp 1,2 triliun.
Adapun harga saham GoTo milik Nadiem tercatat naik 327,86% menjadi Rp 5,22 triliun pada 2023. Ashadi menjelaskan hal tersebut terjadi karena nilai saham GoTo milik Nadiem berubah menjadi Rp 338 per lembar akibat IPO.
"Yang saya tekankan, peningkatan ini dari Rp 1,2 triliun ke Rp 5,2 triliun tidak ada penambahan uang dari Pak Nadiem," katanya.
Ashadi menyatakan surat berharga tersebut lalu disimpan di Bank of Singapore atau BoS pada tahun yang sama. Nadiem mengajukan diri sebagai nasabah kustodi pada BoS untuk menyimpan saham GoTo miliknya.
Adapun pencatatan saham tersebut dibagi menjadi dua kolom, yakni senilai Rp 852 miliar dan Rp 4,4 miliar dalam BoS. Ashadi menekankan pembagian dua pencatatan saham tersebut tidak sama dengan pembelian saham BoS oleh Nadiem.
Ashadi mengatakan Nadiem baru menjual saham GoTo pada 2023 dan 2024. Namun nilai saham yang dijual lebih rendah dari Rp 338 per lembar.
"Nilai aset surat berharga Nadiem turun dari Rp 5,2 triliun jadi Rp 4,9 triliun karena ada penjualan saham. Pada 2024 ada penjualan saham lagi karena asetnya kembali turun," katanya.
