Istana Jelaskan Situasi Terkini WNI Diculik Israel, 4 Orang dalam Kondisi Rawan
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menjelaskan situasi terkini warga Negara Indonesia (WNI) yang diculik militer Israel dalam misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla 2.0. di perairan Mediterania Timur.
Dudung mengatakan, ada sembilan WNI terlibat dalam misi tersebut. Lima di antaranya dilaporkan telah ditangkap militer Israel, sedangkan empat lainnya masih berada di kapal berbeda di sekitar perairan Siprus dan Mediterania Timur.
"Situasi di lapangan masih sangat dinamis. Keempat warga Negara Indonesia yang masih berlayar tersebut tetap berada dalam kondisi rawan," kata Dudung di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (19/3).
Dudung menuturkan, pemerintah menilai situasi di lapangan masih sangat dinamis sehingga memerlukan respons cepat dan terkoordinasi. Kementerian Luar Negeri telah menjalin koordinasi awal dengan sejumlah perwakilan RI di luar negeri, antara lain KBRI Ankara, KBRI Kairo, KBRI Roma, KBRI Amman, serta KJRI Istanbul.
Pemerintah juga menyiapkan langkah antisipatif, termasuk penerbitan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) apabila dokumen berupa paspor WNI telah disita. "Menyiapkan langkah antisipatif seperti penerbitan SPLP apabila paspor WNI disita, serta dukungan medis apabila diperlukan," ujar penasihat khusus presiden bidang pertahanan nasional itu.
Selain itu, perwakilan RI juga berupaya melakukan pendekatan kepada otoritas setempat untuk menyediakan akses transit dan kelancaran proses pemulangan WNI tanpa hambatan keimigrasian.
Dudung mengatakan, Indonesia juga telah bergabung dengan sembilan negara lainnya, yaitu Turki, Bangladesh, Brasil, Kolombia, Yordania, Libya, Maladewa, Pakistan, dan Spanyol, dalam pernyataan bersama yang mengutuk penyerangan Israel terhadap misi kemanusiaan tersebut.
Pemerintah menyampaikan bahwa seluruh perwakilan RI berada dalam posisi siaga untuk menindaklanjuti setiap perkembangan dari otoritas setempat. Di sisi lain, pemerintah mendesak Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan yang ditahan serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai prinsip hukum humaniter internasional.
"Pemerintah Indonesia mendesak Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina," kata Dudung.
Armada Global Sumud Flotilla disergap saat berada di perairan internasional sekitar 310 mil laut dari Gaza. Wartawan asal Indonesia yang tergabung dalam armada tersebut juga disergap Israel. Beberapa nama yang ikut dicegat adalah Bambang Noroyoni dan Thoudy Badai Rifan Billah dari Republika.
Total ada sembilan nama WNI yang dicegat Israel terkait Global Sumud Flotilla 2.0. Berikut nama-nama beserta institusi asal mereka:
1.Bambang Noroyono (Republika)
2.Thoudy Badai Rifan Billah (Republika)
3. Andre Prasetyo Nugroho (Tempo TV)
4. Herman Budianto Sudarsono (GPCI - Dompet Dhuafa)
5. Ronggo Wirasanu (GPCI - Dompet Dhuafa)
6. Andi Angga Prasadewa (GPCI - Rumah Zakat)
7. Asad Aras Muhammad (GPCI - Spirit of Aqso)
8. Hendro Prasetyo (GPCI - SMART 171)
9. Rahendro herubowo (GPCI - iNewsTV)
