Kampung Organik Brenjonk, Inisiatif Pertanian Desa yang Menembus Pasar Modern
Di lereng Trawas, Kabupaten Mojokerto, sekelompok petani menciptakan model pertanian yang menyelaraskan praktik pertanian alami yang ramah lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat desa.
Komunitas Organik Brenjonk di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas Mojokerto, Jawa Timur, menjadi contoh inisiatif pertanian organik berkembang menjadi ekosistem ekonomi sampai akhirnya menembus pasar modern.
Berdiri sejak 2007, komunitas ini memiliki 109 anggota. Sekitar 80 persen anggotanya merupakan ibu rumah tangga, sedangkan sisanya pemuda desa dan petani. Inisiator Brenjonk, Slamet, mengatakan sejak awal Brenjonk dirancang sebagai wadah bagi warga yang ingin menerapkan sistem pertanian organik berkelanjutan.
“Kami punya tiga fokus utama, yakni kesehatan, ekonomi, dan lingkungan,” ujar Pria yang juga menjabat sebagai Direktur UMKM Kampung Organik Brenjonk, kepada Katadata, Rabu (13/5).
Brenjonk menjalankan sistem pertanian organik dari hulu hingga hilir. Tidak berhenti di budidaya, komunitas ini mengelola penanganan pascapanen, sertifikasi organik, pengemasan, promosi, hingga pemasaran produk. Seluruh proses mengacu pada SNI sistem pangan organik.
Lebih jauh Slamet mengulas, salah satu kekuatan Brenjonk adalah menjaga konsistensi mutu produk. Terdapat sistem pengawasan internal atau internal control system (ICS) yang memastikan seluruh anggota tetap menjalankan prinsip pertanian organik.
Produk yang dihasilkan pun mengantongi sertifikasi organik sehingga bisa masuk ke pasar premium.
“Kalau sudah tersertifikasi, produk bisa masuk rak organik di pasar modern. Itu jadi kebanggaan bagi petani karena akses ke pasar premium biasanya sangat terbatas,” kata Slamet.
Penguatan Ekosistem Kampung Organik
Upaya menjaga konsistensi pertanian organik tentu tidak mudah. Selain membutuhkan pendampingan teknis, komunitas perlu memperkuat kapasitas sumber daya manusia, menjaga standar, hingga membuka akses pasar.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, dukungan berbagai pihak berperan besar agar model pertanian seperti ini dapat berkembang secara berkelanjutan.
Langkah Brenjonk mulai mendapat dukungan oleh Bank Indonesia. Peran BI, ungkap Slamet, kian dirasakan sejak 2018 ketika komunitas ini mendapat pembinaan dan dukungan pengembangan.
Menurut Slamet, pendampingan BI membantu memperkuat sumber daya manusia, sekolah lapang pertanian organik, hingga pemanfaatan teknologi pertanian.
Melalui dukungan-dukungan itu, Brenjonk mengembangkan edukasi pertanian organik lebih luas. Komunitas ini rutin menggelar sekolah lapang, pelatihan, hingga paket edukasi organik dan ekowisata.
Sejak 2013 hingga 2025, Brenjonk tercatat telah melatih sekitar 9.617 peserta dari berbagai daerah. Selain itu, komunitas ini juga mendampingi 109 kader organik di lima desa. Mayoritas peserta merupakan perempuan dan pemuda.
“Kegiatan kecil-kecil seperti produksi, pascapanen, sampai pemasaran itu kami jadikan media edukasi untuk mengampanyekan organik,” terang Slamet.
Di samping itu, pendampingan BI menyentuh aspek infrastruktur dan teknologi. Salah satunya melalui bantuan drone sprayer di sisi hulu. Drone digunakan untuk aplikasi pupuk cair dan perawatan tanaman secara lebih efisien.
BI pun, urai Slamet, turut mendukung pengembangan kawasan edukasi organik serta akses jalan menuju area pertanian yang kini berkembang menjadi destinasi eduwisata dan wisata kuliner.
Menggerakkan Ekonomi Desa
Brenjonk tidak sebatas mengandalkan penjualan hasil panen. Mereka mengembangkan model ekonomi berbasis pertanian terpadu. Di kawasan itu kini tumbuh usaha kuliner organik yang memanfaatkan hasil pertanian lokal sebagai bahan baku.
Setiap bulan, kawasan Kampung Organik Brenjonk mampu menarik sekitar 8.500 pengunjung dengan perputaran ekonomi mencapai Rp300 juta per bulan. Aktivitas ini tentunya membuka lapangan kerja bagi anak muda desa.
Menurut Slamet, konsep hulu-hilir dalam radius pendek menjadi salah satu kunci keberhasilan komunitas. Beras organik yang dipanen petani misalnya, diolah kembali menjadi produk kuliner sehingga memiliki nilai tambah lebih tinggi.
“Beras satu kilogram kalau dijual biasa nilainya terbatas. Tapi kalau diolah menjadi nasi pecel atau nasi goreng, nilainya bisa berlipat,” imbuh dia.
Dari sisi produksi, Brenjonk memiliki area sertifikasi organik seluas 18 hektare yang terdiri atas lahan pekarangan dan klaster padi organik dengan produktivitas rata-rata 5-6 ton per hektare.
Komoditas lainnya cukup beragam, mulai dari beras merah, beras hitam, hingga beras cokelat. Selain itu terdapat sekitar 45 jenis produk hortikultura seperti bayam, kailan, caisim, selada, tomat, mentimun, hingga pisang dan umbi-umbian.
Produk-produk tersebut dipasarkan ke berbagai pasar modern serta jaringan hotel, restoran, dan katering (horeka). Brenjonk rutin memasok produk ke sejumlah supermarket di Jawa Timur dan Surabaya, termasuk jaringan pasar premium.
Volume pengiriman rata-rata 2-3 ton per bulan. Saat panen raya padi, volumenya bisa meningkat menjadi 5-10 ton.
“Dengan akses pasar premium, kami bisa dapat harga yang lebih bagus,” ungkap Slamet.
Ia mengaku, harga jual beras organik memang jauh lebih tinggi dibanding beras konvensional. Beras organik putih misalnya, dapat dijual sekitar Rp15 ribu per kg, sedangkan beras merah mencapai Rp27 ribu-Rp28 ribu per kg dan beras hitam sekitar Rp30 ribu per kg.
Lebih luas dari menyoal harga premium, inisiatif Brenjonk juga diklaim sebagai upaya menjaga keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan desa. Pengembangan penggunaan mikroba alami dimanfaatkan untuk menjaga kesuburan tanah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Komunitas Brenjonk juga mulai mengarahkan pertanian organik sebagai bagian dari mitigasi perubahan iklim, terutama untuk menjaga sumber air di kawasan Trawas.
“Organik itu bukan hanya produknya yang bersih, tetapi prosesnya juga harus menjaga lingkungan,” pungkas Slamet.

