Mahasiswa Turun ke Jalan Lagi, jadi Peringatan Keras atas Kinerja Pemerintah
Katadata/Fauza Syahputra
Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) berunjuk rasa di depan gerbang utama Gedung DPR, Jakarta, Selasa (9/9/2025).
Mahasiswa telah bersiap untuk turun kembali ke jalan menyikapi situasi ekonomi belakangan ini. Pemerintah diminta menjadikan aksi mahasiswa di sejumlah wilayah sebagai peringatan keras atas kinerja mereka belakangan ini.
Menurut Direktur Pusat Kajian Politik (Puskapol UI), Hurriyah, tuntutan mahasiswa ini juga kerap disampaikan oleh masyarakat, sehingga penting bagi pemerintah untuk menindaklanjuti aspirasi mereka.
"Ini warning (peringatan) keras. Peringatan ini juga disampaikan oleh masyarakat sipil," kata Hurriyah kepada Katadata.co.id, Kamis (11/6).
Di beberapa wilayah, mahasiswa juga mulai menyerukan Reformasi Jilid II jika tuntutan mereka tak didengarkan pemerintah. Meski tak meyakini bahwa demonstrasi akan berujung Reformasi, namun Hurriyah mengatakan kemarahan publik akan semakin menjadi jika pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mengabaikan tuntutan mahasiswa dan publik.
"Mungkin (bisa meluap) ke program Makan Bergizi Gratis (MBG), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan lainnya," kata dia.
Hurriyah juga menjelaskan alasannya meyakini demonstrasi nanti tak akan sama dengan 1998. Ini karena konstelasi politik di pemerintahan Prabowo masih sangat kuat.
Namun, hal yang menurutnya penting adalah seberapa besar tekanan publik kepada pemerintah untuk memperbaiki situasi. Tuntutan juga bisa berpotensi membesar jika masyarakat sudah merasakan kesulitan terutama dari sisi ekonomi.
"Jadi bukan saja masyarakat sipil, tapi juga pelaku ekonomi, masyarakat kelas menengah ke bawah. Sejauh mana rasa frustrasi itu bisa sama (dirasakan)," katanya.
Dia juga meminta pemerintah mendengar aspirasi mahasiswa dan tak melakukan tindakan represif. Apalagi tuntutan ini karena cara pemerintah mengelola anggaran negara yang berujung pada tekanan ekonomi.
"Ini ujian terbesar kita, apa pemerintah dan elit bisa menunjukkan demokrasi dengan mendengarkan aspirasi piblik," kata Hurriyah.
Hal yang sama disampaikan oleh pendiri lembaga survei KedaiKOPI Hendri Satrio. Hendri mengatakan demonstrasi yang digelar besok kemungkinan baru berisi pesan dan aspirasi mahasiswa. Ia juga berharap pemerintah mendengarkan masukan tersebut.
"Bisa diawali dengan mendengarkan tuntutan (mahasiswa), menggunakan teknologi yang diwariskan pendiri bangsa kita yaitu musyawarah," kata Hendri kepada Katadata.co.id.
Sebelumnya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia bersiap turun ke jalan menyikapi situasi saat ini. Mereka akan berdemonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta pada Jumat (12/6).
Undangan untuk menghadiri demonstrasi tersebut juga disampaikan BEM UI lewat akun Instagram mereka. Seruan aksi itu bertajuk #MenujuIndonesiaBangkrut. Dalam unggahan undangan aksi, BEM UI menampilkan gambar Presiden Prabowo Subianto memegang buah sawit dan batangan emas.
"MARI, KITA TURUN DAN GUNAKAN HAK KITA SEBAGAI RAKYAT!" demikian keterangan akun Instagram BEM UI, Kamis (11/6).
BEM UI beralasan turun ke jalan karena kondisi Indonesia saat ini. Mereka mengatakan kondisi rupiah semakin memburuk, sementara program-program pemerintah yang dianggap tak jelas malah dilanjutkan.
"Rupiah naik diremehkan, HAM tidak dihiraukan, program tidak jelas dilanjutkan," kata BEM UI dalam unggahan mereka.
Sedangkan aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Jawa Tengah menyerukan Reformasi Jilid II jika pemerintah gagal menstabilkan nilai tukar rupiah dalam waktu 18 hari.
Merespons ancaman mahasiswa, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah menerima kritik terkait kondisi ekonomi sebagai masukan. Prasetyo optimistis sejumlah langkah yang diambil pemerintah mampu memperbaiki situasi.
"Kami juga betul-betul bekerja sangat keras untuk mengatasi masalah perekonomian kita," kata Prasetyo kepada awak media di Jakarta, Senin (8/6).
