Pelari Muda hingga Pensiunan Ramaikan BTN Jakim 2026
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menyelenggarakan ajang olahraga internasional, BTN Jakarta International Marathon 2026. Lomba lari tersertifikasi Badan Atletik Dunia ini diikuti oleh peserta berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga pensiunan.
Ditemui usai menyelesaikan lari 10 kilometer, Raihan (9) mengungkap kegembiraannya berlari bersama ibu dan ribuan orang lainnya di kawasan Gelora Bung Karno (GBK).
“Ramai, dapat medali juga,” kata Raihan kepada Katadata, pada Sabtu (13/6).
Dia mengatakan, ini kali keempatnya ikut ajang olahraga lari 10K dalam setahun ini. Setiap akhir pekan, ia melakukan latihan untuk menjaga dan membentuk staminanya.
Hal ini juga didukung oleh kedua orang tua Raihan, yang sudah jauh lebih dulu berkecimpung di dunia olahraga ini. Raihan, Andi, juga mengikuti BTN Jakarta International Marathon 2026 untuk kategori full marathon.
Dalam kesempatan yang sama, ibu Raihan, Ani, menceritakan antusiasmenya saat berebut tiket atau war tiket demi mendapatkan slot untuk Raihan.
“Saya dan suami pakai BTN prioritas, tiket perang untuk Raihan,” ujar Ani.
Tahun ini, BTN Jakarta International Marathon diikuti oleh lebih dari 45 ribu peserta, untuk empat kategori. Kategori tersebut adalah BSN 5K, EJ Sport 10K, Le Mineral Half Marathon, dan BTN Marathon. Tak hanya diikuti warga Indonesia, ajang ini juga diikuti oleh 1.012 pelari internasional dari 52 negara. Di antaranya ada dari Malaysia, Singapura, Korea Selatan, dan Jepang.
Untuk kategori lari 5K dan 10K diselenggarakan hari ini, di kawasan GBK. Sementara kategori half marathon (21,1K) dan full marathon (42,1K) digelar besok, di kawasan Monumen Nasional hingga GBK.
Selain generasi menarik muda, ajang lari ini diaramaikan oleh peserta dewasa hingga pensiunan.
Tungga Dewa (67) menceritakan pengalaman keduanya mengikuti BTN Jakarta International Marathon. Berangkat dari Tangerang Selatan, Tungga mengungkap betapa mencari suasana baru ketika berlari.
“Saya sudah lama olah raga lari, sekarang coba-coba cari crowd gitu. Kalau ikut lomba begini rasanya lebih semangat,” ujarnya.
Ia menyelesaikan lari 10K dalam waktu sekitar 1 jam 25 menit. Ini sudah menjadi perlombaan kesekian terakhir bagi pensiunan itu. Untuk mempersiapkan diri ajang ini sambil terus menjaga staminanya, Tungga melakukannya dengan rutin berolahraga.
“Seminggu lari lima kali, biasanya di Tangerang Selatan, kadang juga ke GBK,” kata dia.
Mengakhiri perbincangan, dia turut memberikan semangat untuk generasi muda untuk rutin berolahraga. “Kalau olahraga sendiri bisa variasi lokasinya, jadi lebih menyenangkan,” ujar Tungga.
