Investasi Sosial di Pulau Obi, Harita Nickel Pertama di Indonesia Jalani RMAP+
Seiring tingginya kebutuhan mineral kritis untuk mendukung transisi energi, standar keberlanjutan industri pertambangan perlu terus ditingkatkan. Harita Nickel menjadi perusahaan pertama di Asia yang telah menjalani audit Responsible Minerals Assurance Process Plus (RMAP+).
Audit RMAP+ merupakan penilaian yang tidak hanya melihat bagaimana perusahaan mengelola lingkungan dan tata kelola bisnis. Lebih jauh, juga tentang bagaimana mereka memperlakukan pekerja, melibatkan masyarakat, dan membangun dampak sosial yang berkelanjutan.
Audit ini merupakan kelanjutan dari Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) yang sebelumnya dijalankan Harita Nickel.
Melalui PT Halmahera Persada Lygend (HPL) dan PT Obi Nickel Cobalt (ONC), Harita Nickel menuntaskan dua audit RMAP untuk komoditas nikel dan kobalt sebagai bagian dari penerapan pengelolaan mineral yang bertanggung jawab, pengawasan rantai pasok. serta penguatan sistem pelacakan asal-usul mineral.
Berbeda dengan RMAP yang fokus kepada aspek responsible sourcing mineral bebas konflik, RMAP+ mencakup penilaian yang lebih luas. Audit ini mengevaluasi sistem pengawasan, proses due diligence, serta mekanisme penyaringan yang digunakan perusahaan untuk memastikan rantai pasok bahan baku memenuhi standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Manager Sustainability Harita Nickel Eryawan Taruna menjelaskan, peningkatan standar tersebut mencerminkan perubahan ekspektasi pasar global terhadap industri pertambangan.
“RMAP yang kami lalui memastikan bahwa mineral yang digunakan tidak berasal dari wilayah konflik (CAHRA). Melalui audit RMAP+, kami juga harus membuktikan bahwa seluruh proses produksi memenuhi standar ESG yang lebih tinggi,” ujarnya melalui keterangan resmi, Kamis (25/6).
Menurut Eryawan, perhatian pasar internasional kini tidak lagi berhenti kepada asal-usul mineral semata. Pasar dunia tidak lagi hanya bertanya apakah nikel ore berasal dari daerah konflik atau tidak, tetapi juga bagaimana rantai pasok nikel ore tersebut secara keseluruhan memiliki standar ESG yang baik dan transparan.
“Melalui audit ini, kami berupaya memastikan Harita Nickel memiliki sistem rantai pasok yang memenuhi ekspektasi mitra dan regulator internasional,” katanya.
Upaya memenuhi standar tersebut tidak dibangun dalam waktu singkat. Selama bertahun-tahun, Harita Nickel menjalankan berbagai program pengembangan masyarakat di Pulau Obi melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang disusun bersama pemerintah daerah.
Program tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari pengembangan sumber daya manusia lokal, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga pelestarian budaya lokal. Berbagai inisiatif tersebut menjadi bagian dari investasi sosial jangka panjang perusahaan sekaligus fondasi dalam membangun social performance yang kini semakin mendapat perhatian dalam standar ESG global.
Akademisi Universitas Khairun (Unkhair) sekaligus Wakil Ketua PERHAPI Maluku Utara Almun Madi menilai, industri nikel di Maluku Utara kini semakin dipengaruhi standar rantai pasok global yang terus berkembang.
Menurutnya, praktik sustainability modern tidak lagi hanya fokus kepada kepatuhan administratif, tetapi semakin menekankan penggunaan data, pengawasan rantai pasok, serta penerapan sistem ESG dalam proses operasional industri.
Ke depan, imbuhnya, biaya dan standar operasional industri tentu akan semakin tinggi karena perusahaan juga dituntut membangun sistem pengawasan dan keterbukaan operasional yang lebih kuat.
“Oleh karena itu, audit seperti RMAP+ dan IRMA tidak bisa dipandang sebagai akhir dari proses, tetapi bagian dari upaya perbaikan berkelanjutan yang akan terus berkembang di industri nikel Maluku Utara,” tuturnya.
Selain menjalani audit RMAP+, Harita Nickel juga tengah mengikuti audit Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA) sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola pertambangan berkelanjutan dan transparansi operasional.
Meningkatnya standar global menunjukkan bahwa masa depan industri pertambangan nikel tidak hanya berfokus pada produk yang dihasilkan, tetapi juga kemampuan perusahaan menjalankan praktik pertambangan yang bertanggung jawab.
