Potret Sekolah di NTT Usai Gempa, Kelas Retak dan Siswa Belajar di Tenda

Muhamad Fajar Riyandanu
25 Agustus 2026, 16:33
gempa NTT, potret sekolah terdampak gempa di NTT,
Katadata/Muhammad Fajar Riyandanu
Bangunan kantor guru SD Inpres Ngelapadhi nyaris ambruk. Gedung berwarna merah muda pudar dengan lukisan wajah Yesus besar di atas pintu masuk itu kini tampak berantakan akibat gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, NTT, Sabtu (15/8).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Dua bingkai foto Presiden dan Wakil Presiden masih tergantung rapi di dinding yang nyaris rubuh. Di bawahnya, retakan menganga dan membelah tembok ruang kelas 3A-3B Sekolah Dasar Katolik (SDK) Rowa dari langit-langit hingga lantai, membentuk pola zig-zag seperti sungai kering yang mengering tanpa arah.

Plester dinding rontok, menyisakan batako yang menyembul telanjang. Meja dan kursi kayu masih tersusun seperti biasa, ada taplak hijau membungkus salah satu meja, tapi lantai keramiknya penuh serpihan puing dan debu semen. Sebuah keranjang sampah kecil berdiri sendirian di sudut ruangan, seperti menunggu seseorang datang membersihkan.

Retakan besar membelah dinding ruang kelas 3A-3B SDK Rowa, Kabupaten Nagekeo, akibat gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, NTT, Sabtu (15/8)
Retakan besar membelah dinding ruang kelas 3A-3B SDK Rowa, Kabupaten Nagekeo, akibat gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, NTT, Sabtu (15/8) (Katadata/Muhammad Fajar Riyandanu)
 

Ruangan itu menjadi salah satu yang terdampak gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8), pagi. Gempa yang berpusat di laut, sekitar 30 kilometer (km) timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, itu meluluhlantakkan tujuh kabupaten di Pulau Flores.

Sejak hari itu, siswa kelas 1 hingga kelas 6 SDK Rowa belajar di empat posko yang tersebar di lingkungan tempat tinggal mereka.

Posko itu menjalankan dua fungsi sekaligus: menjadi tempat belajar siswa sekaligus tempat berlindung sementara bagi warga terdampak gempa.

SDK Rowa memiliki 155 siswa, 12 guru, dan empat tenaga sekolah. Selama bangunan sekolah belum dapat digunakan, aktivitas belajar harus menyesuaikan dengan kondisi darurat.

“Selama beberapa hari kami belajar di empat posko di lingkungan masing-masing. Saat ini, ruangan kelas kami rusak berat. Kami tidak bisa menggunakannya untuk kegiatan aktivitas belajar-mengajar,” kata Wakil Kepala SDK Rowa, Hendrika Wolo Kile, saat ditemui Senin (24/8).

Sekolah yang Berulang Kali Diguncang Gempa

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, meninjau sejumlah sekolah terdampak gempa di Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ngada, NTT, pada Senin (24/8).

Dua sekolah yang dikunjungi yakni SDK Rowa di Kabupaten Nagakeo dan SD Inpres Ngelapadhi yang berlokasi di Kabupaten Ngada. Jarak antara keduanya ditempuh sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil.

Di SDK Rowa, Wakil Kepala (Waka) Sekolah Hendrika Wolo Kile menceritakan bagaimana rutinitas belajar-mengajar berubah total sejak gempa. Sejak 15 Agustus, seluruh kegiatan kelas dari kelas 1 hingga kelas 6 dipindahkan ke posko-posko darurat yang tersebar di empat lingkungan tempat tinggal murid.

Posko-posko tersebut berupa tenda yang menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni menjadi ruang kelas bagi siswa dan tempat berlindung sementara bagi warga terdampak gempa. Adapun warga SDK Rowa terdiri dari 155 siswa, 12 guru dan empat tenaga sekolah seperti pegawat tata usaha hingga bendahara sekolah.

Retakan besar membelah dinding ruang kelas 3A-3B SDK Rowa, Kabupaten Nagekeo, akibat gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, NTT, Sabtu (15/8)
Retakan besar membelah dinding ruang kelas 3A-3B SDK Rowa, Kabupaten Nagekeo, akibat gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, NTT, Sabtu (15/8) (Katadata/Muhammad Fajar Riyandanu)
 

Hendrika bercerita ruang kelas 3A-3B yang difoto hari itu bukan bangunan baru yang tiba-tiba runtuh. Bangunan itu punya sejarah panjang tambal sulam yang justru membuatnya rapuh menghadapi guncangan kali ini. Terbaru, ruang kelas tersebut direhabilitasi oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan pada 7 Januari lalu.

Ia menuturkan bangunan sekolah tersebut telah berdiri sejak dirinya masih menjadi siswa di sekolah tersebut pada 1976. Bangunan itu juga telah beberapa kali terdampak gempa, termasuk gempa pada 1992.

Hendrika menduga gempa terbaru membuat bangunan yang telah berusia puluhan tahun itu semakin tidak mampu menahan guncangan. “Hanya direhab saja. Sebelumnya bangunan sekolah ini pendek, mungkin sudah direbah yang ketiga atau ketiga empat kalinya,” ujarnya.

Hendrika, yang juga bertugas sebagai guru kelas 1A SDK Rowa ini bercerita bahwa gempa terjadi pukul enam pagi, saat 155 siswa SDK Rowa belum satu pun tiba di sekolah. "Tidak terluka karena kejadian gempanya di jam 6 pagi. Jadi anak masih dari rumah. Belum tiba di sekolah," kata Hendrika.

Namun bencana tetap meninggalkan luka di rumah dinas guru. Ia mengatakan Kepala SDK Rowa tertimpa reruntuhan batu saat gempa mengguncang. "Ibu kepala sekolah terluka karena tinggal di rumah guru. Ditimpa oleh batu, luka sedikit," ujarnya.

Belajar di Posko Darurat

Sekitar satu jam perjalanan dari SDK Rowa, di Desa Turamuri, Bejawa Utara, Kabupaten Ngada, pemandangan serupa terulang di SD Inpres Ngelapadhi. Bangunan kantor guru berwarna merah muda pudar dengan lukisan wajah Yesus besar di atas pintu masuk itu kini tampak berantakan. Bagian depan bangunan nyaris ambruk.

Warga dan petugas hilir-mudik di depannya, sebagian mengenakan masker, melangkahi puing beton dan seng yang tergeletak di lantai teras. Kepala Sekolah SD Inpres Ngelapadhi, Monika Duy, mencatat kerusakan menyasar ke enam ruang kelas, kantor sekolah, dan laboratorium ikut rusak. Situasi ini mengancam proses belajar 117 siswanya.

Sekolah yang berdiri sejak 1983 dan sempat direnovasi itu kini menunggu giliran diperbaiki. Senasib dengan SDK Rowa, seluruh kegiatan kelas dari kelas 1 hingga kelas 6 DS Inpres Ngelapadhi dipindahkan ke posko-posko darurat yang dibangun di lapangan area sekolah.

Pemerintah Janji Revitalisasi Sekolah NTT

Di halaman SDK Rowa, Abdul Mu'ti berdiri di antara anak-anak yang tetap tersenyum meski gedung sekolah mereka rusak. Sejenak suasana duka mereda dengan kegiatan bermain gim bersama siswa, bernyanyi lagu-lagu nasional, hingga Tabola Bale.

Mendikdasmen Abdul Mu'ti berbicara di hadapan ratusan siswa SDK Rowa dan SMP Negeri 6 Boawae yang duduk lesehan di bawah tenda darurat yang berada di
Mendikdasmen Abdul Mu'ti berbicara di hadapan ratusan siswa SDK Rowa dan SMP Negeri 6 Boawae yang duduk lesehan di bawah tenda darurat yang berada di (Katadata/Muhammad Fajar Riyandanu)

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menyebutkan daftar bantuan yang dibagikan oleh Kemendikdasmen, antara lain sembilan ribu buku cerita dari Badan Bahasa, empat ratus buku nonteks untuk seluruh jenjang pendidikan, ratusan paket school kit dan family kit, seribu kaos, dan seribu enam ratus lebih bingkisan makanan ringan.

Dua puluh tenda kelas darurat saat itu masih dalam perjalanan bongkar muat di Pelabuhan Ende sebelum didistribusikan ke titik-titik yang membutuhkan. Kementerian juga mengucurkan voucher bantuan senilai total Rp860 juta untuk 61 sekolah terdampak yang terbagai untuk Rp15 juta per sekolah untuk 32 sekolah rusak berat, dan Rp10 juta per sekolah untuk 29 sekolah rusak ringan.

Santunan duka disalurkan bagi keluarga satu guru dan tiga murid yang meninggal dunia, ditambah bantuan bagi tenaga pendidik dan siswa yang mengalami luka-luka. Tim trauma healing dari BGTK dan Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) pun diterjunkan untuk mendampingi anak-anak yang secara psikologis masih terguncang.

“Santunan bagi guru dan murid yang meninggal sejumlah Rp35 juta. Ada satu orang guru yang meninggal diberikan santunan Rp10 juta, kemudian tiga murid yang meninggal masing-masing Rp5 juta,” kata Abdul Mu’ti.

Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyampaikan pihaknya akan segera melakukan proses pemulihan terhadap bangunan sekolah yang mengalami kerusakan akibat bencana. Tim Kemendikdasmen akan turun ke lapangan untuk melakukan verifikasi dan validasi kondisi sekolah dengan didampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan.

Proses tersebut dilakukan untuk menyesuaikan tingkat kerusakan dan menghitung kebutuhan anggaran sesuai dengan kondisi di lapangan. Kemendikdasmen telah mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan tersebut melalui Anggaran Belanja Tambahan (ABT) tahun 2026 sehingga proses pemulihan dapat segera dilaksanakan setelah seluruh tahapan teknis selesai.

Sekolah yang telah menyelesaikan proses revitalisasi sebelum mengalami kerusakan akan diajukan kembali untuk mendapatkan dukungan perbaikan sesuai dengan kondisi kerusakan yang terjadi. Sementara itu, sekolah yang masih dalam proses pengerjaan revitalisasi 2026 dan belum menyelesaikan pembangunannya akan dilakukan penghitungan ulang terhadap kebutuhan anggarannya.

"Sekolah ini sudah selesai revitalisasi nanti diajukan lagi yang baru yang masih dalam proses pengerjaan yang dapat revitalisasi 2026," ujarnya.

Meja dan kursi kayu berjejer di dalam tenda posko darurat yang didirikan di lingkungan SD Inpres Ngelapadhi, Kabupaten Ngada, Senin (24/8).
Meja dan kursi kayu berjejer di dalam tenda posko darurat yang didirikan di lingkungan SD Inpres Ngelapadhi, Kabupaten Ngada, Senin (24/8). (Katadata/Muhammad Fajar Riyandanu)

Bagi SDK Rowa dan SD Inpres Ngelapadhi, pemulihan tersebut bukan sekadar memperbaiki dinding yang retak atau ruang kelas yang rusak. Selama bangunan belum kembali layak digunakan, siswa masih harus belajar di posko-posko darurat.

Di SDK Rowa, 155 siswa masih menunggu ruang kelas mereka kembali dapat digunakan. Di SD Inpres Ngelapadhi, 117 siswa juga menjalani hal serupa.

Di antara puing dan retakan bangunan sekolah, proses belajar tetap berjalan. Namun, untuk kembali ke ruang kelas seperti sebelum gempa, mereka masih harus menunggu sekolah dipulihkan.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...