Malam Terakhir Pedagang Cermin Pejompongan: Kembali ke Toko, Berujung Tewas
Rumah Bambang Setiawan (60) tampak masih dihiasi beberapa bangku sisa tahlilan sejak Jumat (28/8). Wisnu, anak sulungnya terlihat masih melayani beberapa tamu yang silih berganti menyampaikan belasungkawa di kediaman mereka yang terletak di sela-sela derungan kereta commuter.
Saat berbincang dengan Katadata, Wisnu menceritakan ayahnya mengembuskan napas terakhir setelah dikeroyok massa tak dikenal persis di samping toko mereka pada Jumat malam (28/8).
Peristiwa itu terjadi di tengah kericuhan demonstrasi Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset. Aksi yang awalnya berlangsung damai di depan Gerbang Pemuda Kompleks DPR itu kemudian berubah ricuh. Polisi memukul mundur massa dari kawasan DPR hingga ke arah Pejompongan.
Korban sebenarnya telah menutup toko cerminnya sekitar pukul 17.00 Kamis (27/8). Pria kelahiran 1966 itu sempat mengantarkan tetangganya yang sakit ke Rumah Sakit Pelni yang berjarak sekitar 2,2 kilometer dari rumahnya.
Namun saat itu, toko cermin mereka belum tertutup rapat. Istrinya, Sudarsih (56), kemudian datang sekitar pukul 20.00 WIB untuk mengunci toko sekaligus mematikan lampu lantaran Bambang tak kunjung pulang.
Wisnu bercerita ibunya sempat mematikan lampu di bagian toko tersebut. Namun, cermin-cermin yang dipajang masih terlihat dari luar. Karena itu, Bambang yang baru kembali ke rumah sekitar pukul 21.00 WIB, kembali lagi ke toko untuk memastikan bahwa lampu di toko mereka sudah mato.
Berdasarkan pantauan Katadata, toko Bambang berada di antara Bengkel Las Karasnawati dan toko cermin lainnya. Toko tersebut menempati dua unit bangunan dengan dua pagar berbeda. Salah satunya memiliki celah sehingga bagian dalam toko masih dapat terlihat dari luar.
Nahasnya, situasi di Pejompongan saat itu mulai tidak aman. Massa demonstrasi Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset yang awalnya berkumpul di depan Gerbang Pemuda dipukul mundur Polda Metro Jaya ke arah Pejompongan. Polisi mulai menggunakan meriam air sekitar pukul 19.30 WIB, disusul pengerahan pasukan dengan perlengkapan pengendali kerusuhan.
Saat menyisir jalan tersebut, sebagian aparat tidak mengenakan seragam dan hanya mengenakan kaus hitam sambil memegang tongkat. Berdasarkan pantauan Katadata, Jalan Gatot Subroto ke arah Jakarta Barat telah bersih dari demonstran sekitar pukul 20.00.
Sebagian massa pun berpindah ke arah Jalan Pejompongan Raya. Berdasarkan video yang beredar di media sosial, sekumpulan massa berkaus hitam tampak memukul seseorang berulang kali di sekitar kawasan Gedung BNI di Jalan Pejompongan Raya.
Wisnu, sebagian tetangganya masih melihat ayahnya di sekitar toko sekitar pukul 23.00 WIB. Namun, kejadian begitu cepat saat kericuhan mencuat di Pejompongan hingga Bambang menghembuskan napas terakhir di samping tokonya.
"Kalau lagi di pinggir jalan itu, langsung teringat ayah. Kok begitu banget ya sama orang tua. Namun yang bisa saya lakukan saat ini cuma bisa berdoa," katanya.
Wisnu menyampaikan keluarganya baru mendapatkan kabar kematian ayahnya sekitar Jumat dini hari (28/8). Keluarga pun memutuskan untuk tidak melakukan autopsi pada jenazah dan langsung memakamkan.
Ia menjelaskan, pertimbangan keluarga tidak melakukan autopsi adalah banyaknya bukti video di media massa tentang penyerangan yang dilakukan kepada ayahnya. Ia pun berharap agar proses hukum terhadap kematian ayahnya diproses dengan sebaiknya dan tidak terburu-buru.
"Sudah ada beberapa orang yang terlihat jelas wajahnya. Lagi pula, pasukan intelijen Kepolisian canggih dan hebat," katanya.
Ia pun bercerita, ada beberapa pejabat negara yang melayat ke rumahnya dan langsung menyampaikan belasungkawa setelah pemakaman, seperti Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto.
Saat itu, Wisnu pun sempat bertanya kepada Budi terkait kapan kira-kira penanganan kasus kematian ayahnya dapat rampung. Ia ingin kondisi di sekitar rumah ayahnya kembali kondusif dan aman.
"Pak Budi saat itu menjawab mereka juga mau menenangkan masyarakat untuk tenang dan memastikan kejadian serupa tidak terulang, agar tidak ada lagi keributan," katanya.
Wisnu berharap agar Bhayangkara memperluas pengamanan saat terjadi demonstrasi di kawasan DPR. Sebab, menurutnya, warga di sekitar kawasan Pejompongan kerap menjadi korban saat massa melarikan diri setelah dipukul mundur aparat.
Wisnu menilai kawasan rumahnya kerap menjadi tujuan massa melarikan diri sebab masih ada pihak yang menjual air minum atau tempat untuk bersembunyi. Alhasil, wilayah rumahnya sering menjadi sasaran gas air mata untuk mengurai kumpulan massa.
"Kalau kerusuhan terjadi, kami sesak dengan gas air mata. Namun kalau kami keluar dari rumah bisa dikira peserta demo yang jadi korban tembak gas air mata. Serba salah warga di sini," katanya.
