BNPB: Hujan Buatan untuk Padamkan Karhutla Terkendala Musim Kemarau
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan adanya kendala dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ketiadaan bibit awan hujan di sejumlah wilayah terdampak membuat operasi hujan buatan tidak dapat dilakukan secara optimal.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan menjelaskan, kondisi atmosfer yang kering akibat musim kemarau panjang menjadi salah satu faktor utama yang menghambat pelaksanaan OMC. Kondisi tersebut membuat penyemaian garam ke atmosfer tidak berjalan efektif.
Selain minimnya bibit awan, BNPB menghadapi tantangan berupa panjangnya periode tanpa hujan, rendahnya kelembapan atmosfer, keterbatasan ketersediaan air, serta asap karhutla yang mengganggu pelaksanaan operasi udara.
Berton menceritakan, pihak BNPB tidak dapat melaksanakan OMC di Sumatera Selatan dan Riau karena atmosfer tidak memiliki potensi pertumbuhan awan hujan yang cukup untuk mendukung operasi tersebut.
"OMC tidak dapat dilakukan karena memang tidak ada potensi bibit awan di atmosfer," kata Berton dalam konferensi pers yang ditayangkan melalui kanal Youtube BNPB Indonesia pada Senin (1/9).
Kondisi serupa terjadi di Kalimantan Selatan. BNPB belum menjalankan OMC di wilayah tersebut karena tidak menemukan titik pertumbuhan awan. Sementara itu, BNPB sempat melaksanakan satu kali penerbangan OMC di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
Dalam operasi tersebut, tim menebarkan sekitar 800 kilogram (kg) garam ke atmosfer untuk memicu pertumbuhan hujan. Namun, operasi tersebut belum menghasilkan hujan secara optimal.
Berton menjelaskan, rendahnya kelembapan atmosfer membuat proses pembentukan hujan sulit berlangsung. Kabut asap yang tebal juga menurunkan jarak pandang sehingga menghambat pelaksanaan operasi udara. “Jarak pandang yang sangat rendah ini juga menghambat bagaimana operasi udara dilaksanakan,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat BNPB bersama tim gabungan meningkatkan penggunaan metode pemadaman lain, terutama operasi pengeboman air atau water bombing menggunakan helikopter serta pemadaman darat untuk mendinginkan kembali lahan gambut atau mopping up.
Di Kalimantan Selatan, misalnya, tim gabungan telah menjatuhkan lebih dari 1,3 juta liter air melalui operasi water bombing untuk menangani titik-titik api yang masih aktif.
Meski menghadapi keterbatasan, BNPB tetap mengupayakan pelaksanaan OMC di wilayah yang masih memiliki potensi pertumbuhan awan hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi adanya potensi awan hujan secara sporadis di Kalimantan Barat pada 1–7 September mendatang. Peluang pelaksanaan OMC juga masih terbuka di Jambi dan Lampung.
