Bukan Debu Biasa, Abu Anak Krakatau Mengandung Silika seperti Serpihan Kaca

Karunia Putri
6 September 2026, 10:24
Gunung Anak Krakatau, erupsi anak krakatau
Antara Handout
Gunung Anak Krakatau
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar hingga sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Jabodetabek pada Ahad (6/9). Masyarakat diminta mewaspadai paparan abu karena material tersebut berbeda dengan debu biasa dan dapat mengganggu kesehatan.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan abu vulkanik mengandung silika yang karakteristiknya menyerupai serpihan kaca. Partikel tersebut dapat mengiritasi dan merusak bagian tubuh yang terkena, terutama mata, hidung, mulut, kulit, serta saluran pernapasan.

"Abu vulkanik ini sangat berbeda jauh dengan abu ataupun debu biasa karena ini mengandung silika yang seperti serpihan kaca yang tajam," kata Dicky dikutip dari Antara, Jakarta, Minggu (6/9).

Paparan abu vulkanik pada mata dapat menyebabkan kemerahan, perih, berair, dan sensitif terhadap cahaya. Dalam kondisi tertentu, mata juga dapat mengalami luka goresan maupun peradangan konjungtivitis yang ditandai dengan mata merah, rasa terbakar, dan sensitif terhadap sinar matahari.

Sementara itu, paparan pada saluran pernapasan dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, pilek, serta batuk kering. Jika paparannya tinggi, masyarakat dapat mengalami sesak atau nyeri di dada.

Risiko tersebut dapat semakin berat pada penderita asma atau bronkitis kronis. Gejala yang dapat muncul antara lain batuk berdahak, napas berbunyi atau mengi.

Dicky mengingatkan masyarakat untuk menghindari aktivitas berat ketika abu vulkanik sedang tinggi dan bersirkulasi di udara. Aktivitas fisik berat membuat frekuensi napas meningkat sehingga lebih banyak partikel abu dapat masuk lebih dalam ke paru-paru.

Selain kandungan silika, abu vulkanik yang masih segar juga dapat memiliki lapisan asam. Kondisi tersebut dapat menambah efek iritasi pada paru-paru dan mata sebelum abu tersapu hujan.

Jangan Bersihkan Abu dalam Kondisi Kering

Masyarakat juga perlu memperhatikan cara membersihkan abu vulkanik. Dicky menyarankan abu segera dibersihkan menggunakan air dan tidak digosok pada permukaan.

Mengibas pakaian yang terkena abu juga sebaiknya dihindari karena dapat membuat partikel kembali beterbangan dan menyebar.

Hal serupa disampaikan dokter Kevin Mak melalui akun Instagram. Menurut dia, abu vulkanik dapat mengandung pecahan batuan dan kaca vulkanik berukuran sangat kecil dan tajam. Oleh karena itu, abu sebaiknya dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan.

Untuk membersihkan area dalam rumah, masyarakat dapat menggunakan kain atau alat pel yang lembap. Kevin juga menyarankan penggunaan vacuum cleaner yang dilengkapi filter. Saat membersihkan abu, masyarakat tetap dianjurkan menggunakan masker, kacamata, dan sarung tangan.

Jika abu mengenai wajah, dokter Tirta Mandira Hudhi mengimbau agar masyarakat tidak langsung menggosoknya. Wajah sebaiknya dibersihkan menggunakan sabun pembersih yang sesuai untuk mengurangi risiko goresan akibat partikel abu.

Gunakan Masker N95 dan Pelindung Mata

Untuk mengurangi risiko abu masuk ke saluran pernapasan, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang memiliki kemampuan filtrasi tinggi.

Kevin menyebut masker kain memiliki kemampuan filtrasi kurang dari 44%, sedangkan masker bedah sekitar 89%-91%. Namun, masker bedah masih memiliki celah kebocoran dari sisi.

Oleh karena itu, ia menyarankan penggunaan respirator setara N95 atau KN95 yang memiliki kemampuan filtrasi lebih dari 98%. Masker perlu dipasang dengan pas dan menutup rapat wajah.

Dicky juga merekomendasikan penggunaan N95 untuk mencegah masuknya abu ke paru-paru. Selain masker, masyarakat perlu menggunakan kacamata sebagai pelindung mata dari partikel abu.

Jika mata terlanjur teriritasi, Dicky menyarankan segera membilasnya menggunakan air bersih.

Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak ada keperluan mendesak.

Kevin menyarankan masyarakat menunda aktivitas seperti olahraga lari dan kegiatan luar ruangan selama satu hingga tiga hari ke depan, terutama di wilayah yang mengalami hujan abu cukup aktif.

Masyarakat juga diminta menutup pintu dan jendela rumah secara rapat untuk mencegah abu masuk ke dalam ruangan. Celah ventilasi perlu dirapatkan, sementara pintu hanya dibuka ketika diperlukan.

Pakaian tertutup juga dianjurkan untuk mengurangi paparan abu pada kulit.

Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada

Paparan abu perlu mendapat perhatian lebih dari kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, serta orang dengan riwayat penyakit pernapasan kronis.

Kelompok tersebut disarankan mengurangi paparan abu dan menghindari aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara terdampak.

Kevin juga mengimbau masyarakat menjaga asupan cairan selama terpapar abu vulkanik. Menurut dia, dehidrasi dapat membuat mata lebih cepat kering dan tenggorokan terasa tidak nyaman.

Masyarakat juga diminta mengikuti informasi dan arahan resmi mengenai perkembangan sebaran abu vulkanik, zona aman, serta jalur evakuasi dari otoritas terkait, termasuk BMKG, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Dicky mengingatkan masyarakat yang mengalami keluhan seperti sesak napas, nyeri dada, atau gangguan pada mata untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis di fasilitas kesehatan.

Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda tercatat mengalami erupsi menerus dengan intensitas letusan tertinggi sepanjang 2026. Aktivitas tersebut berlangsung sejak Jumat (4/9) malam hingga Ahad (6/9).

Tingginya aktivitas letusan menghasilkan suara gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga wilayah pesisir Banten dan Lampung. Abu vulkaniknya kemudian menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Jabodetabek.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri, Antara

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...