Dokter Ungkap Bahaya Abu Anak Krakatau: Bisa Picu Bronkitis hingga Perburuk Asma

Desy Setyowati
6 September 2026, 11:34
erupsi anak krakatau, anak krakatau, gunung anak krakatau,
ANTARA/Ahmad Fikri
Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Provinsi Lampung, sampai ke Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terlihat abu tebal menutup kendaraan di Desa Nagrak, Minggu (6/9/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof. Tjandra Yoga Aditama menjelaskan bahaya menghirup abu vulkanik bagi paru-paru dalam waktu yang lama. Saat ini, abu erupsi Anak Krakatau menyebar ke sejumlah daerah, termasuk Jakarta, Bogor, Depok, Banten, Bengkulu hingga Lampung.

"Abu vulkanik adalah campuran dari mineral, bebatuan dan partikel kaca yang keluar waktu letusan gunung berapi," kata Prof. Tjandra dikutip di Jakarta, Minggu (6/9).

Menanggapi meluasnya sebaran abu vulkanik akibat erupsi Anak Gunung Krakatau di perairan Selat Sunda, Prof. Tjandra menyampaikan bahwa abu yang terhisap masuk ke paru dan saluran napas secara langsung akan dapat menyebabkan keluhan batuk dan iritasi tenggorok.

Terdapat pula risiko gangguan seperti bronkitis (bronchitis-like illnesses) dan juga perburukan pada mereka yang punya penyakit paru kronik seperti asma bronkiale dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

Di samping itu, Tjandra menyebut abu vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata. Kemudian, kalau debu mengotori sumber air dan makanan maka dapat terjadi gangguan saluran cerna.

Selanjutnya, pada keadaan ekstrem di mana kadar abu yang terhisap sangat banyak, utamanya pada mereka yang berada amat dekat dengan lokasi letusan- maka dapat saja terjadi keadaan asfiksia yang terasa seperti tercekik.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman juga membeberkan bahaya dari abu vulkanik bila mengenai tubuh dan tata cara membersihkan yang tepat.

"Abu vulkanik ini sangat berbeda jauh dengan abu ataupun debu biasa karena ini mengandung silika yang seperti serpihan kaca yang tajam dan bisa merusak khususnya pada organ yang terkena antara lain mata, hidung, mulut, maupun kulit," kata Dicky dikutip dari Antara di Jakarta, Minggu.

Dicky menyampaikan adanya paparan abu vulkanik dapat membahayakan kesehatan karena menyebabkan iritasi. Pada mata akan menyebabkan kemerahan, perih, berair dan sensitif cahaya sampai dengan membuat luka goresan.

Mata juga bisa terkena peradangan konjungtivitis yang menimbulkan kemerahan, rasa terbakar, juga fotosensitivitas atau sensitif pada sinar matahari.

Pada saluran pernapasan, dia menyampaikan hal ini bisa menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, pilek, batuk kering jika terkena paparan tinggi dan sesak atau nyeri di dada.

Gejala, katanya, dapat semakin memburuk pada penderita asma atau bronkitis kronis seperti muncul batuk berdahak, napas berbunyi atau mengi.

"Penderita disarankan menghindari aktivitas berat saat abu vulkanik di udara yang sedang tinggi dan ya bersirkulasi, karena napas yang lebih cepat ini akan menarik partikel harus dari abu vulkanik lebih dalam ke paru. Selain itu, abu vulkanik segar maksud saya, bisa memiliki lapisan asam yang menambah efek iritasi pada paru dan mata sebelum tersapu hujan," katanya.

Masyarakat Diimbau Pakai Masker

Sebagai bentuk pencegahan, Tjandra memberikan rekomendasi bagi masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan erupsi gunung dari pemerintah dan institusi resmi seperti Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk mendapatkan informasi yang valid di area tempat tinggal masing-masing.

Gunakan masker untuk meminimalisasi perburukan kondisi, terutama bagi penderita penyakit paru kronik dan pihak yang tinggal di kawasan terpapar abu dengan intensitas yang mengkhawatirkan.

"Kalau abu cukup banyak jumlahnya bahkan ada anjuran menggunakan kacamata pelindung dan baju tangan panjang kalau sedang di luar rumah," ujar dia.

Berikutnya, masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas fisik berlebihan di luar ruangan dan membersihkan diri dengan baik.

Ia menilai bagi pihak yang harus beraktivitas di luar, perlu mengupayakan sesegera mungkin mencuci pakaian dengan bersih setibanya di rumah.

Terdapat pula anjuran untuk menutup rumah dengan rapat supaya abu dari luar tidak masuk.

Meski situasi pada hari Minggu pagi 6 September 2026 di Jakarta dan sekitarnya dinilainya belum perlu dilakukan, dia berharap situasi tidak memburuk di hari-hari mendatang.

"Secara umum tentu mereka yang kini ada keluhan kesehatan maka segeralah konsultasi ke fasilitas kesehatan yang ada. Juga, marilah tetap kita jaga pola hidup sehat agar daya tahan tubuh tetap terjaga dengan baik," ujar Tjandra, profesor kehormatan di Universitas Griffith itu.

Sementara itu, Dicky Budiman mengatakan semua pihak perlu membersihkannya segera mungkin menggunakan air. Upayakan untuk tidak menggosok abu pada permukaan atau mengibas pakaian supaya penyebaran tidak semakin meluas.

Selain itu, ia merekomendasikan pada masyarakat untuk menutup jendela dan pintu secara rapat.

Menurutnya pintu dapat dibuka jika sewaktu-waktu dibutuhkan saja atau sesekali ketika memang harus pergi beraktivitas keluar. Gunakan pakaian tertutup untuk mengurangi paparan pada kulit.

Pencegahan masuknya abu ke dalam paru dapat dilakukan dengan mengenakan masker seperti N95 yang dapat menutup mulut maupun hidung rapat.

"Jangan lupa karena ini adalah debu silika yang tajam jadi gunakan pelindung mata dengan kacamata ataupun bisa kacamata. Kalau mata teriritasi, segera bilas dengan air bersih," ujar Dicky.

Dicky meminta semua pihak yang memiliki keluhan seperti sesak nafas, nyeri dada maupun gangguan pada mata untuk segera pergi berkonsultasi dengan pihak medis di fasilitas kesehatan, guna meminimalisasi dampak buruk abu vulkanik pada kesehatan.

"Saya sampaikan bahwa yang harus dilakukan adalah selalu waspada mengikuti berita-berita dari sumber resmi pemerintah dan juga jangan panik, karena panik bahkan bisa merugikan kita semua," ujar Dicky.

Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda tercatat mengalami erupsi menerus dengan intensitas letusan tertinggi sepanjang tahun 2026 yang berlangsung sejak Jumat (4/9) malam hingga hari ini.

Tingginya aktivitas letusan ini juga menghasilkan suara gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga ke wilayah pesisir Banten dan Lampung.

Pada hari ini, abu vulkaniknya sudah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia termasuk Jabodetabek.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Antara

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...