Gunung Anak Krakatau, Ibu, Semeru, Ili Lewotolok Kompak Erupsi, Apa Penyebabnya?

Desy Setyowati
6 September 2026, 16:44
gunung semeru, gunung ibu, gunung ilu lewotolok, gunung anak krakatau, anak krakatau,
ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/kye
Asap vulkanis keluar dari kawah Gunung Semeru terlihat dari Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (4/7/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Empat gunung api di Indonesia mengalami erupsi pada Minggu (6/9), yakni Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur. Apa penyebabnya>

Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), erupsi keempat gunung tersebut terjadi pada waktu yang berbeda sepanjang Minggu pagi. Ketinggian kolom abu yang teramati juga berbeda, mulai dari sekitar 400 meter hingga 1.000 meter di atas puncak.

Gunung Ibu mengalami erupsi pada pukul 04.55 WIT dengan tinggi kolom abu sekitar 400 meter di atas puncak. Erupsi terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 15 milimeter dan durasi 35 detik.

Selanjutnya, Gunung Ili Lewotolok erupsi pada pukul 06.11 WITA. Tinggi kolom abu sekitar 400 meter di atas puncak, dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi 40 detik.

Gunung Anak Krakatau kemudian erupsi pada pukul 07.10 WIB. Erupsi terekam dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan berlangsung selama 16 detik. Aktivitas ini terjadi setelah erupsi menerus Gunung Anak Krakatau sejak 4 September 2026 malam yang berhenti pada 6 September dini hari.

Sementara itu, Gunung Semeru mengalami erupsi pada pukul 07.51 WIB. Kolom abu teramati mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak Mahameru atau 4.676 meter di atas permukaan laut. Erupsi tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi 102 detik.

Empat Gunung Erupsi Bukan karena Satu Jalur Magma

Menurut mantan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG sekaligus anggota IABI, Daryono Perwira Sakti, fenomena erupsi simultan empat gunung tersebut merupakan bagian dari dinamika tektonik dan karakteristik vulkanik Indonesia.

Daryono menjelaskan Indonesia berada di zona konvergensi kompleks, tempat Lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina menunjam di bawah Lempeng Eurasia.

Namun, ia menegaskan erupsi empat gunung tersebut bukan disebabkan adanya satu jalur magma yang menghubungkan keempat gunung.

Menurut Daryono, secara geologi tidak terdapat mekanisme berupa "jalur pipa" atau jaringan saluran magma bawah tanah tunggal yang menghubungkan dapur magma keempat gunung tersebut.

"Erupsi yang terjadi bersamaan ini murni dikarenakan masing-masing sistem vulkanik memang telah berada pada tahap kritis akumulasi tekanan fluida dan magma di dalamnya," kata Daryono dikutip dari unggahan di X.com, Minggu (6/9).

Dengan demikian, kemunculan erupsi secara bersamaan tidak berarti erupsi satu gunung secara langsung menyebabkan gunung lainnya ikut erupsi.

Daryono juga menjelaskan bahwa perbedaan ketinggian kolom abu dari masing-masing gunung mencerminkan variasi dinamika erupsi, tingkat viskositas magma, serta kandungan gas vulkanik.

Merujuk data Badan Geologi, kolom abu Gunung Semeru mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak. Sementara Gunung Ibu dan Ili Lewotolok masing-masing sekitar 400 meter.

Menurut Daryono, perbedaan karakter tersebut berkaitan dengan faktor fisika dan kimia vulkanologi, termasuk proporsi silika atau SiO2 serta kandungan volatil seperti H2O, CO2, dan SO2.

Magma dengan viskositas tinggi dan kandungan gas yang melimpah cenderung menghasilkan fenomena eksplosif yang memecah magma menjadi partikel abu vulkanik berukuran sangat halus. Partikel tersebut lebih mudah bergerak jauh mengikuti arah angin di troposfer.

Sebaliknya, gunung dengan magma yang lebih cair atau sistem saluran yang relatif terbuka dapat melepaskan tekanan gas secara lebih berulang melalui kolom erupsi berskala menengah. Kondisi ini membuat karakter erupsinya lebih terlokalisasi di sekitar kawah.

Pada akhir Agustus, enam gunung api juga tercatat erupsi serentak, yakni Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di NTT, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan fenomena enam gunung api di Indonesia yang erupsi secara bersamaan pada 31 Agustus 2026 murni dinamika vulkanik independen dan tidak saling memicu satu sama lain.

Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, menegaskan posisi Indonesia di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) dengan 127 gunung api aktif memungkinkan terjadinya erupsi pada hari yang sama tanpa adanya keterikatan sistemik.

"Kalau bahasa sederhananya dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri, begitu ya, dan proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya itu juga berbeda-beda. Kami tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan di tanggal 31 Agustus," kata Rita di Kompleks Badan Geologi Bandung, Rabu (3/9).

Rita juga meluruskan persepsi publik terkait gempa bumi yang sering dikaitkan dengan erupsi gunung api. Menurutnya, gempa tektonik tidak otomatis memicu erupsi kecuali terbukti lewat lonjakan data pemantauan internal gunung, seperti kegempaan dalam, deformasi tubuh gunung, hingga perubahan suhu dan pelepasan gas.

Dinamika erupsi serentak ini turut menaikkan tingkat aktivitas Gunung Sinabung di Sumatera Utara dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak 31 Agustus 2026 pukul 12.00 WIB, setelah menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi 3.500 meter di atas puncak.

Sementara Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih bertahan di Level III (Siaga) status yang berlaku sejak 2 Juli 2026 dengan erupsi kolom abu setinggi 200 meter pada 31 Agustus 2026.

Merespons kekhawatiran warga pesisir Banten dan Lampung terkait potensi tsunami akibat letupan Anak Krakatau, PVMBG mengimbau masyarakat tidak panik karena erupsi gunung tersebut tidak serta-merta menimbulkan tsunami.

PVMBG meminta warga mematuhi rekomendasi bahaya, khususnya mengosongkan zona bahaya radius 3 kilometer dari puncak Gunung Sinabung (serta radius 6 kilometer pada sektor selatan-timur) dan mewaspadai ancaman lahar hujan di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari puncak gunung.

Mengapa Abu Anak Krakatau Menyebar hingga Jakarta?

Gunung Anak Krakatau memiliki karakter dampak sebaran abu yang berbeda. Katadata melaporkan abu vulkaniknya terpantau menyebar menuju Banten, sebagian Jawa Barat dan DKI Jakarta, serta Lampung dan Bengkulu. Arah sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi angin.

Daryono menjelaskan erupsi Anak Krakatau yang berdampak luas menunjukkan tingginya volume material yang terlontar ke lapisan troposfer tengah hingga atas. Material tersebut kemudian dapat didistribusikan oleh sirkulasi angin regional, termasuk angin monsun.

Oleh karena itu, luasnya sebaran abu tidak semata-mata ditentukan oleh tinggi kolom erupsi. Karakter material vulkanik, kandungan gas, serta kondisi angin juga berperan dalam menentukan seberapa jauh abu dapat bergerak.

Dengan demikian, erupsi Gunung Anak Krakatau, Gunung Ibu, Gunung Semeru, dan Gunung Ili Lewotolok yang terjadi pada hari yang sama tidak menunjukkan adanya satu saluran magma yang menghubungkan keempat gunung. Menurut analisis Daryono, masing-masing gunung memiliki sistem vulkanik sendiri yang dapat berada pada kondisi kritis secara bersamaan, sementara karakter erupsi dan sebaran abunya dipengaruhi kondisi magma, gas vulkanik, serta faktor atmosfer.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Desy Setyowati, Antara

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...