BMKG Imbau Warga Jakarta Tetap Pakai Masker, Waspada Abu Vulkanik Campur Polusi
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga Jakarta untuk tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, di tengah paparan debu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau dan musim kemarau kering tahun ini.
“Debu vulkanik sisa erupsi ini ternyata membaur dengan polusi perkotaan di Jakarta. Apalagi saat ini kita masih berada di puncak musim kemarau yang kering,” dikutip dari unggahan Instagram resmi BMKG, pada Selasa (8/9).
Jika tidak turun hujan, campuran partikel berbahaya akan tertahan dan melayang lebih lama di udara. “Jangan terkecoh dan melepas masker hanya karena mengira langit yang berkabut itu polusi biasa, padahal itu paparan ganda yang masih bercampur dengan material abu vulkanik,” demikian dikutip.
Usai Gunung Anak Krakatau, BMKG mendeteksi paparan partikel halus dengan rentang ukuran 0,11 hingga 0,25 μm di Jakarta. Puncak paparan partikel halus ini terjadi pada 5 September 2026, ketika letusan baru meletus pada dini hari.
Namun, BMKG mengatakan, konsentrasi partikel halus di Jakarta memang sudah tinggi sejak sebelumnya, akibat polusi aktivitas perkotaan.
Sehari setelahnya, jumlah partikel halus menurun tajam, tapi partikel kasar melonjak tinggi hingga mencapai puncak tertinggi mingguan. Partikel kasar ini berdiameter 3,86 - 5,06 μm, berasal dari aktivitas erupsi gunung.
Kemudian pada Senin (7/9), volume penyebaran partikel halus dan kasar mengalami penurunan menyeluruh. “Menandakan terjadinya peluruhan aerosol di atmosfer,” tulis BMKG. Namun, dalam situasi ini, warga Jakarta tetap diimbau untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Gunung Anak Krakatau Masih di Level Siaga
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh hingga 7 September 2026 pukul 06.00 WIB, tingkat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau tetap pada Level III (Siaga).
Gunung tersebut telah mengalami satu episode erupsi yang terus terjadi sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan telah berakhir 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Erupsi tersebut berlangsung selama 25 jam.
Badan Geologi mengatakan tiga kali erupsi Strombolian terjadi setelah episode erupsi menerus berakhir. Kembalinya erupsi untuk sementara ini diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang. Meskipun demikian, perkembangan dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau dan dievaluasi.
“Ancaman bahaya erupsi berasal dari lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Potensi ancaman bahaya lainnya berasal dari aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi,” kata Badan Geologi dalam laporan perkembangan, Senin (7/9).
