Dari Racikan Sambal hingga Bandeng Presto, UMKM Sulsel Bertumbuh Bersama BI
Bagi Ridwan Wahyudi Chandra dan Melyana Khohari, pemikiran sesederhana saat merintis usaha adalah bagaimana membuat produk yang disukai pelanggan. Pasangan suami istri ini berjualan bakmi dengan sambal racikan keluarga sejak 1998.
Tidak disangka, sambal itu ternyata punya daya tarik tersendiri. Tingginya permintaan pelanggan inilah yang akhirnya membuka jalan bagi mereka untuk meluncurkan lini bisnis sambal.
Sekitar tahun 2017, keduanya mulai mengembangkan sambal tersebut sebagai produk tersendiri dengan merek Simpati Lombok Kuning.
Usaha yang berawal dari dapur itu kemudian berkembang menjadi bisnis sambal khas Makassar. Produknya memiliki cita rasa pedas dan asin, dengan warna kuning alami dari perpaduan cabai yang digunakan. Proses produksinya juga dirancang dengan higienis dan tanpa tambahan pewarna, pengawet, maupun MSG.
Namun, seiring perjalanan, Ridwan dan Melyana menyadari bahwa mengembangkan usaha bukan hanya soal menjaga rasa dan memenuhi pesanan. Ada ilmu penting yang perlu dipelajari: bagaimana mengelola bisnis agar mampu bertahan dan tumbuh dalam jangka panjang.
“Perubahan paling besar adalah pola pikir kami, dari yang awalnya hanya berorientasi sebagai pedagang menjadi pengusaha,” kata Melyana, saat Katadata berkunjung ke dapur Simpati Lombok Kuning, Kamis (22/10).
Perubahan itu mulai dirasakan setelah mengikuti pembinaan Bank Indonesia (BI) melalui program UMKM Resilient, World Class, Agile, dan Knowledgeable (REWAKO) Ekspor pada 2024. Program yang dikelola Kantor Perwakilan (KPw) BI Provinsi Sulawesi Selatan ini merupakan inisiatif pengembangan menyeluruh bagi UMKM dan pesantren agar naik kelas.
Sejak dilaksanakan pada 2022, program UMKM REWAKO Ekspor telah memasuki angkatan kelima pada 2026. Hingga tahun ini, sebanyak 215 UMKM telah masuk dalam ekosistem pembinaannya.
Belajar Melihat Usaha untuk Jangka Panjang
Sebelum mengikuti pembinaan, Melyana mengaku lebih banyak berfokus pada kegiatan produksi dan penjualan. Selama produk bisa dibuat dan terjual, usaha dianggap berjalan sebagaimana mestinya.
“Sebelumnya, pola pikir kami sederhana aja, membuat produk, dijual, lalu dapat untung. Kami belum banyak memikirkan bagaimana mengembangkan bisnis, produk apa yang perlu dibuat, atau strategi apa yang harus dijalankan,” ujarnya.
Melalui REWAKO, keduanya mulai belajar menyusun perencanaan bisnis, mengelola keuangan, hingga memanfaatkan media sosial untuk pemasaran. Ia dan suaminya juga belajar memisahkan keuangan pribadi dari keuangan usaha, yang sebelumnya masih bercampur.
Bagi Ridwan dan Melyana, perubahan tersebut membuat pengembangan bisnis menjadi lebih terarah. Mereka mulai melihat usaha bukan hanya sebagai sumber pendapatan keluarga, melainkan kesempatan membuka lapangan kerja dan memberi peluang kepada orang lain untuk berkembang.
Kini, Simpati Lombok Kuning memiliki 10 karyawan yang menangani produksi, penjualan, administrasi, dan pengelolaan usaha.
Perkembangan itu juga ditopang bantuan mesin filling dari BI pada 2025, yang membantu proses pengisian sambal yang sebelumnya dilakukan secara manual.
“Bantuan tersebut sangat membantu proses produksi kami. Sebelumnya, pengisian produk masih dilakukan secara manual. Dengan adanya mesin filling, proses produksi menjadi lebih efisien dan higienis,” kata Melyana.
Meski kapasitas produksi dan pemasaran terus berkembang, tantangan tetap datang. Salah satunya adalah fluktuasi harga cabai, bahan baku utama produk mereka.
Saat wawancara berlangsung, Melyana menuturkan, harga cabai rawit mencapai Rp75.000 per kilogram, jauh di atas harga normal yang biasanya berkisar Rp30.000-Rp32.000 per kilogram. Kenaikan tersebut membuat Melyana harus berhitung lebih cermat karena harga jual tidak bisa serta-merta dinaikkan.
“Sebagai pengusaha, kami harus siap menghadapi risiko. Tidak setiap saat usaha menghasilkan keuntungan,” ujarnya.
Strateginya, ketika harga cabai turun, Simpati Lombok Kuning berupaya meningkatkan produksi untuk menambah stok. Sebaliknya, saat harga melonjak, produksi dibatasi dan pesanan dipilih dengan lebih selektif. Pelanggan lama menjadi prioritas agar hubungan usaha tetap terjaga.
Di tengah tantangan tersebut, produk Simpati Lombok Kuning telah menjangkau berbagai jaringan ritel modern di Sulawesi Selatan dan pasar di luar daerah. Pendampingan BI juga membuka kesempatan penjajakan pasar internasional.
Salah satu peluang muncul melalui pertemuan dengan calon pembeli yang memiliki toko Indonesia di Singapura. Dari pertemuan yang difasilitasi BI tersebut, Simpati Lombok Kuning memperoleh pesanan pembelian atau purchase order (PO) dan merencanakan pengiriman perdana.
Untuk memperluas pasar ekspor, Melyana masih perlu menuntaskan pengurusan izin edar BPOM dan menyiapkan sertifikasi pendukung. Baginya, memperluas pasar harus berjalan beriringan dengan kesiapan produksi dan pemenuhan standar produk.
Kisah Sukses Lain dari Usaha Bandeng Presto
Cerita serupa datang dari Sumanto, pendiri Bandeng Presto Bolubollo. Ia memulai usahanya pada 2021 setelah sebelumnya bekerja sebagai karyawan di perusahaan yang bergerak di bidang keuangan.
Ketertarikannya mengolah bandeng muncul dari ketersediaan bahan baku yang melimpah dan peluang menghadirkan produk ikan yang lebih praktis bagi konsumen. Pria yang akrab dipanggil Manto ini belajar membuat bandeng presto dari berbagai sumber, mulai dari tutorial di media sosial hingga komunitas pengusaha bandeng presto.
Seiring waktu, ia mulai mencari dukungan untuk mengembangkan bisnis, terutama terkait perizinan, legalitas produk, dan pemasaran. Ia kemudian mengikuti pembinaan BI pada 2023.
“Setelah bergabung dalam pembinaan, ternyata dukungannya tidak hanya mengenai keuangan, tetapi juga mencakup akses pasar, pelatihan, pengembangan kemasan, serta kerja sama dengan ritel modern,” kata Manto, kepada Katadata, Kamis (22/10).
Salah satu hal yang dipelajarinya adalah pencatatan keuangan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK), yang dikembangkan BI dan dapat digunakan secara gratis. Pencatatan tersebut membantu pelaku usaha memahami kondisi keuangan bisnis secara lebih teratur.
Manto juga mendapat dukungan sarana produksi berupa meja pengolahan. Selain membantu kebutuhan operasional, pendampingan BI membuka peluang untuk menjalin komunikasi dengan jaringan ritel modern.
Kini, Bandeng Presto Bolubollo memproduksi sekitar 800 kemasan per bulan. Omzetnya berkisar Rp70 juta per bulan, dengan margin usaha sekitar 30-35 persen. Pada periode ramai, seperti Ramadan dan menjelang Idul Adha, omzet dapat mendekati Rp100 juta per bulan.
Sekitar 80-90 persen penjualannya berasal dari pasar oleh-oleh. Produknya menjangkau konsumen di luar Makassar, termasuk di Jakarta, Malang, dan Surabaya.
Meski sudah bertemu calon pembeli dari Jepang dalam kegiatan perdagangan, Sumanto belum terburu-buru memasuki pasar ekspor. Ia menilai kapasitas produksi dan penyimpanan masih perlu diperkuat agar usaha mampu memenuhi permintaan dalam jumlah besar.
“Tantangan utama kami saat ini adalah kapasitas produksi yang masih terbatas,” katanya.
Karena itu, Manto memilih mengembangkan bisnis secara bertahap. Ia ingin memperkuat pasar domestik sekaligus menyiapkan kapasitas produksi sebelum menambah jangkauan pemasaran dan variasi produk olahan ikan.
Bagi kedua pelaku usaha tersebut, bertumbuh bukan hanya soal menambah jumlah produk atau memperluas wilayah penjualan. Ada proses belajar untuk memahami keuangan, menyusun strategi, menjaga kualitas, dan mengambil keputusan di tengah ketidakpastian biaya maupun permintaan pasar.
Pengalaman Ridwan, Melyana dan Sumanto memperlihatkan bagaimana pembinaan dapat membantu UMKM memperkuat fondasi bisnisnya.
Dukungan berupa pelatihan, peralatan, dan akses pasar memberi peluang untuk berkembang, sementara keberlanjutan usaha tetap ditentukan oleh kemampuan pelaku usaha menerapkan pengetahuan tersebut dalam kegiatan sehari-hari.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda menjelaskan, pembinaan UMKM dilakukan oleh BI secara menyeluruh dan berkelanjutan, bukan hanya melalui pelatihan.
“Pembinaan dilakukan secara end-to-end, mulai dari seleksi, asesmen, peningkatan kapasitas, pendampingan, implementasi, hingga pemantauan perkembangan usaha,” ungkapnya.
Penguatan juga mencakup berbagai aspek, mulai dari pola pikir kewirausahaan, kualitas usaha dan produk, tata kelola keuangan, pemasaran, hingga pengelolaan sumber daya manusia.
Melalui pendekatan tersebut, BI berharap UMKM dapat memperkuat fondasi bisnis, meningkatkan daya saing, dan mempersiapkan diri untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar global.



Produk UMKM Unggulan 