Permintaan Turun Paling Dalam Sejak 1995, Harga Minyak Anjlok Lagi

Permintaan minyak turun paling dalam selama 25 tahun akibat pandemi corona. Harga minyak anjlok lagi, meski OPEC+ pangkas produksi besar-besaran.
Image title
16 April 2020, 07:53
Permintaan Turun Paling Dalam Sejak 1995, Harga Minyak Anjlok Lagi
ANTARA FOTO/REUTERS/Stephanie McGehee
Ilustrasi, pedagang saham Kuwait terlihat di aula perdagangan pasar saham Kuwait Boursa di kota Kuwait, Kuwait, Senin (16/9/2019).

Harga minyak dunia bergerak jatuh lebih dari 6% pada perdagangan hari ini (16/4). Harganya diperkirakan masih akan tertekan karena penurunan permintaan akibat perlambatan ekonomi global, karena pandemi corona.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi dunia minus 3% atau yang terburuk sejak ‘The Great Depression’ pada 1929. Ekonomi negara-negara maju, seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa menjadi yang paling terpukul oleh pandemi virus corona.

Melambatnya perekonomian membuat permintaan minyak terus menurun. International Energy Agency (IEA) mengatakan, permintaan kurang dari 29 juta barel per hari atau terendah sejak 1995. Di satu sisi,  "stok minyak mentah di AS (justru) melonjak 19 juta barel pada pekan lalu," demikian dikutip dari Reuters, Kamis (16/4).

(Baca: Harga Minyak Tertekan Ekonomi Dunia yang Diramal Terburuk Sejak 1929)

Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 07.10 WIB, harga minyak Brent untuk kontrak Juni 2020 turun 6,45% menjadi US$ 27,69 per barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Mei 2020 berada di level US$ 20,34 per barel.

Penurunan permintaan yang paling dalam selama 25 tahun tersebut, membuat harga minyak sulit bangkit. Padahal negara-negara pengekspor minyak dan Rusia (OPEC+) sudah membuat kesepakatan besar dalam sejarah. Mereka memangkas produksi 9,7 juta barel per hari, atau yang terbesar yang pernah dilakukan.

"Bahkan dengan asumsi pembatasan perjalanan berkurang pada paruh kedua tahun ini, kami memperkirakan permintaan minyak global akan turun 9,3 juta barel per hari dibandingkan 2019," kata IEA dikutip dari The Guardian, Rabu malam (15/4).

(Baca: OPEC+ Pangkas Produksi, Harga Minyak Tetap Tertekan Corona)

IEA mengatakan, tidak ada kesepakatan terkait penurunan pasokan yang mampu mengimbangi dampak wabah Covid-19 terhadap permintaan. Namun, rencana pemangkasan ini menjadi "awal yang kuat,” katanya.

Dalam laporannya, IMF mengungkapkan bahwa jika mengggunakan skenario dasar pandemi corona, ekonomi global dapat tumbuh 5,8% pada tahun depan. Angka ini dua kali lipat lebih dibanding proyeksi sebelumnya 2,4%.

Skenario dasar menggunakan asumsi penyebaran virus corona akan mereda pada semester kedua tahun ini, dan tindakan karantina (lockdown) perlahan dihentikan. "Ada ketidakpastian ekstrim di seluruh dunia terhadap perkiraan pertumbuhan ekonomi," tulis IMF dalam laporannya.

Dampak pandemi virus corona terhadap ekonomi akan sangat tergantung pada faktor-faktor yang sulit diprediksi. Faktor ini termasuk jalur pandemi, intensitas dan kemanjuran upaya pembatasan, luasnya gangguan pasokan, dampak pengetatan dramatis terhadap kondisi pasar keuangan global, pergeseran pola pengeluaran, serta perubahan perilaku.

(Baca: OPEC+ Pangkas Produksi Terbesar dalam Sejarah, Harga Minyak Terkerek)

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait