Gudang Kapas Milik Sritex di Sukoharjo Terbakar

Sritex mampu meraup laba Rp 884,8 miliar per Semester I 2019, ketika produsen tekstil lainnya tutup.
Desy Setyowati
28 September 2019, 08:23
Gudang kapas milik Sritex di Sukoharjo terbakar
sritex.co.id
Ilustrasi, seorang pekerja menjahit pakaian militer di pabrik Sritex. Gudang kapas milik Sritex di Sukoharjo terbakar.

Gudang kapas milik PT Sri Rejeki Isman (SRIL) atau Sritex di Dukuh Seliran, Desa Jetis, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, terbakar pada Jumat (27/9) malam. Perusahaan mencatat, tidak ada korban jiwa atas musibah tersebut.

Perwakilan Sritex Joy Citradewi mengatakan, perusahaan masih menunggu hasil laporan di lapangan. "Kebakaran tidak mengganggu aktivitas operasional perusahaan lainnya," kata dia dalam keterangan pers, Sabtu (28/9).

Joy mengatakan, petugas masih berupaya melakukan pemadaman api hingga Sabtu pagi ini. Adapun Sritex merupakan perusahaan tekstil, yang sudah berdiri selama 53 tahun.

Salah satu warga sekitar Agung Santoso menjelaskan, api semakin besar sejak pukul 21.30 WIB. "Warga juga tidak bisa melakukan apa-apa karena lokasi pabrik berada di dalam kompleks berpagar tinggi," katanya.

Berdasarkan pantauan di lokasi, besarnya embusan angin dan isi gudang yang mudah terbakar membuat api terus membesar. Terlihat kepulan asap hitam juga membumbung tinggi.

(Baca: Emiten Tekstil Panen Laba di Tengah Banyak Perusahaan Tutup)

Beruntung gudang pabrik tidak berbatasan langsung dengan pemukiman warga. Sebab, sisi selatan dan timur gudang tersebut adalah persawahan.

Belasan mobil pemadam kebakaran didatangkan untuk memadamkan amukan api. Salah satu petugas yang enggan menyebutkan namanya mengatakan kebakaran terjadi pada gudang kapas paling selatan.

Sritex merupakan salah satu perusahaan tekstil yang mampu meraup untung di saat banyak produsen sejenis lainnya bangkrut. Pada semester I 2019, Sritex membukukan laba sebesar US$ 63,2 juta atau Rp 884,8 miliar (dengan kurs Rp 14.000 per dolar AS).

Laba bersih itu meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy) senilai US$ 56 juta atau Rp 784 miliar. Kenaikan tersebut ditopang oleh pendapatan usaha sebesar US$ 513 juta, sedangkan beban usaha  US$ 38 juta.

(Baca: Sritex Rambah Bisnis Ritel)

Perusahaan terbuka ini juga aktif menerapkan teknologi industri 4.0 untuk meningkatkan efisiensi. Selama 2013-2018, Sritex menghabiskan US$ 100 juta dalam menerapkan otomatisasi, robotisasi, dan digitalisasi hampir di sebagian lini produksi.

Emiten tersebut juga mengintegrasikan empat proses produksi yakni spinning (pemintalan benang), weaving (penenunan), finishing, dan garmen. Bahkan, perusahaan sedang menyiapkan bisnis Hutan Tanaman Industri yang dapat memasok bahan baku serat rayon buat Sritex. 

(Baca: Sritex: Produsen Resmi Seragam NATO)

Reporter: Antara

Video Pilihan

Artikel Terkait