Jokowi Ungkapkan Pentingnya Kualitas SDM di Hadapan Anggota Dewan

"Indonesia harus kompetitif di tingkat regional dan global," kata Jokowi.
Michael Reily
Oleh Michael Reily
16 Agustus 2019, 12:16
Jokowi, Sidang Tahunan MPR, SDM
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Presiden Joko Widodo memberi hormat sebelum menyampaikan pidato dalam Sidang Tahunan MPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (16/8/2019).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sangat dibutuhkan. Dalam Pidato Kenegaraan itu, ia menyampaikan bahwa Indonesia bisa memaksimalkan bonus demografi jika meningkatkan keterampilan masyarakatnya.

Dia mengungkapkan lembaga pendidikan dan pelatihan harus melakukan pembenahan untuk menghadapi perubahan dunia. "Persaingan dunia yang semakin ketat dan disrupsi di berbagai bidang, butuh kualitas SDM yang tepat," katanya saat menyampaikan Pidato Kenegaraan dalam rangkaian Sidang Tahunan MPR di Gedung Parlemen, Jakarta, Jumat (16/8).

Setidaknya, Indonesia butuh SDM yang punya kualitas dan karakter kuat, serta keterampilan dan ilmu pengetahuan yang sesuai kebutuhan dewasa ini. Jokowi menilai, pendidikan adalah kunci pengembangan SDM yang berkualitas tinggi.

Dia mengungkapkan, keluarga dan lembaga pendidikan punya peran sentral dalam mengembangkan kualitas SDM sedini mungkin. Kebiasaan mandiri dan juga kepedulian ada pada pendidikan dasar. Sedangkan pemikiran kritis dipelajari saat pendidikan menengah.

(Baca: Rencana Jokowi Merekrut Rektor Asing Dimulai dari Perguruan Swasta)

Jokowi menegaskan, anak-anak sudah harus dibekali keterampilan vokasional sejak Pendidikan menengah. Tentunya, kompetensi itu harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Lalu, targetnya harus lebih besar saat memasuki pendidikan tinggi. "Kita harus kompetitif di tingkat regional dan global," katanya.

Pada kesempatan itu, ia menjabarkan hal-hal yang perlu dimiliki masyarakat Indonesia. Pertama, karakter SDM harus pekerja keras, jujur, kolaboratif, solutif, serta berjiwa usaha. Kedua, harus mampu mengisi pekerjaan teranyar dan inovatif sehingga bisa membangun bisnis yang baru berkembang.

Dia mengingatkan, Indonesia dan negara lainnya di dunia memasuki era baru. Globalisasi pun terus mengalami pendalaman, sejalan dengan revolusi industri jilid keempat.

Karena itu, menurutnya jenis pekerjaan bisa berubah."Ada profesi yang hilang, tetapi juga ada pekerjaan baru yang bermunculan," katanya.

(Baca: Bappenas: Kualitas SDM Indonesia Masih Ketinggalan Jauh dari Vietnam)

Reporter: Michael Reily

Video Pilihan

Artikel Terkait