Padati Area GBK, Ribuan Buruh Serukan Tujuh Tuntutan

KSPI mengklaim, ada sekitar 50 ribu buruh yang hadir dalam aksi ini di Tennis Indoor Senayan, Jakarta.
Image title
1 Mei 2019, 11:53
Suasana aksi memperingati hari buruh di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Rabu (1/5).
Katadata/Ihya Ulum Aldin
Suasana aksi memperingati hari buruh di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Rabu (1/5).

Ribuan pekerja mulai memadati Tennis Indoor Senayan, Jakarta sejak pukul 08.30 WIB, dalam rangka memperingati hari buruh yang jatuh pada hari ini (1/5). Unjuk rasa tersebut mengusung tujuh tema utama.

Tema tersebut di antaranya menolak upah murah, menghapus outsourcing, meningkatkan manfaat jaminan kesehatan dan pensiun, menurunkan tarif dasar listrik dan harga sembako, serta mendorong peningkatan pendapatan guru honorer dan pengemudi ojek online.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, aksi yang dikenal dengan May Day kali ini menolak upah murah, dengan mencabut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015. "Naikkan komponen Kebutuhan Hidup Layak (KHL) menjadi 84 item," katanya.

(Baca: Serikat Buruh Akan Tarik Dukungan dari Prabowo Setelah 22 Mei)

Selain itu, buruh menuntut adanya demokrasi yang jujur, adil, dan damai dalam penetapan Presiden RI 2019-2024 terkait pemilihan umum (pemilu). Buruh juga akan mengawal perhitungan surat suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Said mengklaim, ada sekitar 50 ribu buruh yang hadir dalam aksi ini di Tennis Indoor Senayan, Jakarta. Hingga pukul 10.00 WIB pun ratusan bus dan sepeda motor masih terus berdatangan memasuki kawasan ini.

Acara peringatan hari buruh di Jakarta ini rencananya dibuka pada pukul 10.30 WIB. Namun, hingga berita ini ditulis, acara belum juga dimulai. Selain itu, Calon Presiden (Capres) nomor urut 02 Prabowo Subianto direncanakan datang dalam acara peringatan hari buruh ini.

(Baca: Jokowi dan Pimpinan Serikat Buruh Sepakat Revisi PP Pengupahan)

Selain itu, ratusan ribu buruh lainnya juga melakukan aksi di beberapa daerah seperti Bandung, Semarang, Jepara, Yogyakarta, Gresik, Surabaya, Bogor, Tangerang, Cianjur, Sukabumi, Bekasi, Aceh, Medan, Makassar, Palu, Banjarmasin, Samarinda Maluku, Lombok, dan Papua.

Salah seorang anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Iman (48 tahun) menambahkan, mayoritas pekerja yang datang ke Tennis Indoor Senayan berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekas (Jabodetabek). "Di luar kota, buruh berkumpul di daerah masing-masing," kata dia.

(Baca: Revisi PP Nomor 78 Tahun 2015 Akan Dikaji Setelah Real Count Rampung)

Hadir pada kesempatan itu, salah seorang anggota KSPI Edi (73 tahun) menuntut agar daftar KHL ditingkatkan. Sebab, Pria asal Cikarang, Jawa Barat ini merasa kebutuhan hidup setiap tahun terus meningkat.

Edi juga berharap pemerintah menghapus outsourcing dan pemagangan yang berkedok outsourcing. "Langsung diangkat menjadi karyawan saja. Jangan pakai outsourcing," kata Edi.

Salah satu pengemudi ojek online yang datang ke Tennis Indoor, Ole (35 tahun) menuntut agar Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) direvisi. Dia ingin kendaraan roda dua bisa diatur sebagai transportasi umum.

(Baca: Berlaku Besok, Gojek dan Grab Siap Terapkan Tarif Baru Ojek Online)

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Video Pilihan

Artikel Terkait