Pulihkan Ekonomi, Pengusaha di Lima Sektor Butuh Modal Kerja Rp 303 T

Pengusaha di lima sektor membutuhkan modal kerja Rp 303,76 triliun agar bisa beraktivitas kembali saat pandemi. Kebutuhan ini untuk enam bulan ke depan.
Image title
28 Juli 2020, 17:28
Pengusaha di Lima Sektor Butuh Modal Kerja Rp 303,76 Triliun
ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/wsj.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kanan) meninjau proses produksi pakaian di Pabrik Garmen PT Daehan Global di Desa Cimohong, Brebes, Jawa Tengah, Jumat (29/5/2020).

Beragam sektor industri terkena dampak pandemi corona. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, pengusaha di lima sektor membutuhkan bantuan modal kerja total Rp 303,76 triliun selama enam bulan ke depan.

"Kurang lebih butuh Rp 303,76 triliun dalam enam bulan ke depan," kata Rosan saat mengikuti webinar Mid-Year Economic Outlook, Selasa (28/7).

Rinciannya, sektor tekstil dan produk tekstil membutuhkan Rp 141,5 triliun. Lalu, sektor makanan dan minuman butuh Rp 100 triliun, dan alas kaki Rp 40,5 triliun.

Sedangkan sektor perhotelan dan restoran mengharapkan stimulus modal kerja Rp 21,3 triliun. Terakhir, sektor elektronika dan alat listrik rumah tangga membutuhkan Rp 307 miliar.

Selain itu, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) membutuhkan Rp 125 triliun.

Rosan mengaku sudah menyampaikan kebutuhan tersebut kepada menteri terkait. Ia berharap, pemerintah dapat memberikan bantuan modal kerja sesegera mungkin agar industri dapat beraktivitas kembali.

Dari sisi perbankan, para pengusaha membutuhkan jaminan 80%. Hal ini agar stimulus modal kerja dapat dicairkan. Jaminan diperlukan untuk memberikan kepercayaan kepada perbankan, yang ragu-ragu mengeluarkan kredit dalam jumlah besar.

"Mudah-mudahan dianggarkan dalam waktu dekat ini," ujar Rosan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengatakan, pemerintah akan mendorong berbagai kebijakan untuk mendukung pengusaha, termasuk bantuan modal kerja. "Yang dibutuhkan perusahaan semacam kredit dengan beban bunga dan kembalian yang cukup fleksibel. Itu hal wajar," katanya.

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait