Kasus Covid-19 RI Bertambah 2.137, Angka Kematian Terendah Sejak Mei

Kasus positif Covid-19 di Indonesia bertambah 2.137 hari ini (25/9). Jumlah pasien yang meninggal 123, ini merupakan yang terendah sejak Mei (23/5).
Desy Setyowati
25 September 2021, 17:13
Covid-19, virus corona,
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/hp.
Warga melintas didepan mural bergambar karikatur vaksin COVID-19 yang ada di Tangerang, Banten, Selasa (9/2/2021).

Kasus positif virus corona di Indonesia bertambah 2.137 hari ini (25/9). Jumlah pasien yang meninggal 123, ini merupakan yang terendah sejak Mei (23/5).

Penambahan kasus positif Covid-19  yang tertinggi pada hari ini yaitu Jawa Tengah 309. Disusul oleh Jawa Timur 215 dan Jawa Barat 188. Sedangkan Jakarta mencatatkan tambahan 133 kasus.

Secara kumulatif, kasus positif Covid-19 tertinggi di Jakarta 857 ribu lebih. Selanjutnya Jawa Barat 701,9 ribu dan Jawa Tengah 480,9 ribu.

Total kasus positif Covid-19 di Indonesia 4,2 juta. Jumlah kasus aktif 44.071.

Jumlah pasien yang sembuh bertambah 3.746 menjadi 4,02 juta. Sedangkan yang meninggal naik 123 menjadi 141.381.

Penambahan jumlah pasien yang meninggal akibat Covid-19 paling banyak terjadi Jawa Timur, yakni 17 orang. Lalu Jawa Tengah 12 dan Papua 10.

Tambahan kasus positif Covid-19 2.137 ditemukan atas pemeriksaan terhadap 181.861 orang. Rasio positif atau positivity rate harian tercatat 1,18%. Jika memperhitungkan tes NAAT (RT-PCR dan TCM) maka rasio positif harian menjadi 4,06%.

Saat ini, sejumlah kawasan wisata mulai beroperasi, seiring penurunan level pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Ini dikhawatirkan menimbulkan fenomena revenge travel atau wisata balas dendam, atau orang-orang yang sangat bepergian setelah berdiam diri di rumah untuk waktu yang lama.

Menurut Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban, tren itu bisa menggagalkan usaha membasmi pandemi corona. Salah satu contohnya, beredar video yang memperlihatkan kerumunan di kafe Holywings, Kemang, Jakarta Selatan.

Zubairi menyimpulkan hal itu sebagai fenomena revenge travel di masa penurunan kasus Covid-19. "Revenge travel benar-benar sedang terjadi dan bisa lebih besar lagi gelombangnya. Ini harus diwaspadai,” kata dia melalui akun Twitter.

“Sebab, SARS-CoV-2 belum ke mana-mana. Jangan sampai tren itu membatalkan kemajuan situasi pandemi saat ini. Semoga kita bisa becermin atas keadaan suram pada Juni dan Juli," tulis Zubairi.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait