Indonesia Ekspor Smelter Grade Alumina dari KEK Galang Batang Rp 104 M

Jokowi melepas ekspor smelter grade alumina dari KEK Galang Batang senilai Rp 104 miliar pada hari ini (25/1). Negara yang disasar yakni Cina dan Malaysia.
Desy Setyowati
25 Januari 2022, 20:34
Jokowi melepas ekspor smelter grade alumina perdana tahun ini, pada Selasa (25/1/2022).
Kemenko Perekonomian
Jokowi melepas ekspor smelter grade alumina perdana tahun ini, pada Selasa (25/1/2022).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) melepas ekspor smelter grade alumina (SGA) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang, Bintan, Kepulauan Riau pada Selasa (25/01). Nilainya Rp 104 miliar.

Sedangkan volume ekspor smelter grade alumina perdana pada 2022 itu mencapai 21.001 ton. “Industri utama KEK Galang Batang yakni smelter untuk pengolahan bauksit,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang mendampingi Presiden Jokowi, dalam keterangan pers, Selasa (25/1).

Presiden Jokowi menetapkan KEK Galang Batang melalui PP Nomor 42 Tahun 2017 pada 11 Oktober 2017. Kawasan ini beroperasi pada 8 Desember 2018.

KEK Galang Batang mulai mengekspor smelter grade alumina pada 2 Juli 2021. Volume ekspor mencapai 530 ribu ton atau Rp 2,6 triliun sepanjang tahun lalu.

Advertisement

Kawasan ekonomi khusus itu merupakan sentra choke point Selat Malaka, yang berdekatan dengan Batam Free Trade Zone dan Selat Philip. Lokasinya mempunyai akses langsung dengan Selat Malaka dan Laut China Selatan.

Airlangga menilai, lokasi strategis itu menjadi keuntungan dalam menciptakan peluang bisnis. Dengan begitu, KEK Galang Batang diharapkan mampu memberikan dampak bagi perekonomian nasional melalui hilirisasi bauksit, industri ringan, dan logistik modern ramah lingkungan.

Sedangkan pengolahan bauksit di KEK Galang Batang dilakukan oleh PT Bintan Alumina Indonesia (BAI). “Perusahaan akan melepaskan ekspor perdana smelter grade alumina (SGA) tahun ini dengan tujuan Cina,” kata dia. Selain itu, BAI membidik Malaysia.

Tahun ini, PT BAI memproduksi smelter grade alumina satu juta ton. Lalu, menyelesaikan pengembangan untuk mencapai produksi dua juta ton.

Selanjutnya, PT BAI mengembangkan hilirisasi sampai aluminium ingot. Produksi aluminium ingot direncanakan dapat beroperasi pada 2025, dengan total produksi 400 ribu ton per tahun.

Serangkaian langkah tersebut akan mempercepat hilirisasi bauksit ke aluminium ingot. Ini diperlukan industri dalam negeri untuk berbagai jenis produk, seperti pelat, billet, scrap, dan bentuk profil yang diperlukan dalam banyak proses industri seperti pesawat terbang, kapal, otomotif, dan konstruksi. 

Pemerintah mendorong hilirisasi industri agar dapat menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar. Selain itu, berkontribusi positif pada perekonomian nasional.

Airlangga pun menjabarkan peningkatan nilai tambah dari bauksit sampai ke aluminium ingot sebagai berikut:

  • Setiap enam ton bauksit yang diolah akan menghasilkan dua ton smelter grade alumina
  • Setiap dua ton smelter grade alumina yang diolah akan menghasilkan 1 ton aluminium ingot
  • Setiap ton aluminium ingot membutuhkan enam ton bauksit

Selain itu, harga per ton bauksit saat ini US$ 31,37. Ini artinya, harga enam ton bauksit US$ 188,22.

Indonesia juga dinilai bakal mendapatkan manfaat dari hilirisasi berupa pajak dari perusahaan, penerimaan negara, dan memperluas lapangan kerja. Rinciannya sebagai berikut:

  • Setiap dua ton smelter grade alumina yang dihasilkan bernilai US$ 770. Ini artinya, terjadi kenaikan nilai tambah dari enam ton bauksit menjadi dua ton smelter grade alumina sebesar empat kali.
  • Setiap ton alumunium ingot yang dihasilkan dari dua ton smelter grade alumina bernilai US$ 3.174 atau ada kenaikan empat kali.
  • Pengolahan enam ton bauksit menjadi satu ton aluminium ingot akan memberikan kenaikan nilai tambah 16 kali.

Airlangga menyampaikan, KEK Galang Batang merupakan salah satu contoh atau role model dalam pengembangan kawasan dan industri yang dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan ekspor.

Hingga akhir tahun lalu, jumlah investasi yang direalisasikan Rp 15,7 triliun dari total Rp 36,25 triliun hingga 2025. Jumlah tenaga kerja yang terserap 3.480 orang, dari target 13 ribu per 2025

Pengembangan KEK Galang Batang sejalan dengan integrasi Kawasan Batam Bintan Karimun yang disusun dalam bentuk Rencana Induk Kawasan Batam, Bintan, dan Karimun. Ini akan menyinergikan pengembangan kawasan utama, agar wilayah ini semakin kompetitif, berdaya saing, dan berkembang.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait