Rudal Rusia Gempur Kota Vasylkiv di Ukraina, Depot Minyak Terbakar

Rusia menggempur kota Vasylkiv, Ukraina dengan beberapa rudal, sehingga menyebabkan depot minyak terbakar. Ini dilakukan setelah AS dan beberapa negara Eropa mengeluarkan sanksi baru bagi Rusia.
Desy Setyowati
27 Februari 2022, 13:07
rusia, ukraina, konflik rusia - ukraina, konflik rusia, depok minyak
ANTARA/Reuters/Gleb Garanich/aww
Bangunan apartemen rusak akibat hantaman rudal di Kiev, Rusia, Sabtu (26/2/2022).

Rusia menggempur kota Vasylkiv, Ukraina yang berada di barat daya ibu kota Kiev, dengan beberapa rudal. Hal ini menyebabkan depot minyak terbakar.

"Musuh ingin menghancurkan semuanya," kata wali kota setempat Natalia Balasinovich lewat video yang diunggah di internet, dikutip dari Reuters, Minggu (27/2).

Unggahan foto dan video memperlihatkan kobaran api besar membumbung di bawah langit malam.

Otoritas meminta warga agar berhati-hati dengan asap beracun.

Advertisement

Separatis pro-Rusia di provinsi Luhansk, Ukraina, pada Minggu pagi mengatakan bahwa depot minyak meledak akibat rudal Ukraina di kota Rovenky. "Hal itu memicu ledakan besar," kata para pejabat.

Serangan dilakukan ketika Amerika Serikat (AS), Komisi Eropa, Prancis, Jerman, Italia, Inggris, dan Kanada mengumumkan sanksi baru bagi Rusia. Mereka mengeluarkan bank-bank Rusia tertentu dari SWIFT.

Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication atau SWIFT merupakan jaringan keamanan tinggi yang menghubungkan ribuan lembaga keuangan di seluruh dunia. Ini adalah sistem pesan yang memungkinkan bank memindahkan uang dengan cepat dan aman, mendukung triliunan dolar dalam arus perdagangan dan investasi.

Keluarnya beberapa bank dari SWIFT dipandang sebagai hukuman finansial yang sangat berat, karena berada di jantung sistem perbankan. Sanksi ini membatasi akses bank-bank Rusia ke aliran uang global sehingga mempersulit bisnis untuk mengekspor atau mengimpor, atau untuk membiayai diri mereka sendiri dari luar negeri.

"Sanksi ini akan memastikan bahwa bank-bank ini terputus dari sistem keuangan internasional dan membahayakan kemampuan mereka untuk beroperasi secara global," demikian isi pernyataan bersama AS dan sejumlah negara di Eropa yang dirilis oleh Gedung Putih, dikutip dari CNN Internasional, Minggu (27/2).

Mereka mengatakan, hanya sejumlah bank terpilih yang bakal dikeluarkan dari SWIFT. Namun tidak disebutkan nama-namanya.

Dalam praktiknya, seorang pengacara AS mengatakan kepada Reuters bahwa dikeluarkan dari SWIFT tidak membuat transaksi terhenti sepenuhnya. "Itu membuat transaksi menjadi jauh lebih sulit dan meningkatkan biaya secara signifikan," kata dia dikutip dari Sydney Morning Herald.

“Anda memerlukan sistem perbankan yang berfungsi agar perekonomian berjalan,” ujar seorang analis. “Ini mengarah pada pelemahan ekonomi Rusia.”

AS dan Eropa juga menyiapkan sanksi yang menyasar bank sentral Rusia. Sedangkan Rusia telah membangun cadangan mata uang asing terbesar keempat di dunia dengan nilai lebih dari US$ 630 miliar.

Namun beberapa sumber menyampaikan bahwa belum ada keputusan akhir yang dibuat. “Struktur sanksi yang sedang dibahas belum jelas,” kata beberapa sumber.

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait