Jokowi Buka Lagi Ekspor Bahan Baku Minyak Goreng, Ini Alasannya

Pemerintah akan membuka keran ekspor bahan baku minyak goreng mulai pekan depan. Jokowi menyampaikan, pasokan minyak goreng curah sudah melebihi kebutuhan nasional.
Image title
19 Mei 2022, 20:00
ekspor, minyak goreng, ekspor cpo, ekspor minyak, jokowi,
ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/hp.
Warga antre minyak goreng curah yang didistribusikan pada gelaran pasar murah di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (21/4/2022).

Pemerintah resmi membuka kembali ekspor bahan baku minyak goreng mulai Senin (23/5). Keputusan ini diambil berdasarkan sejumlah alasan.

Dalam konferensi pers di Istana Merdeka pada Kamis sore (19/5), Jokowi menyatakan bahwa sejak kebijakan pelarangan ekspor diterapkan akhir April, pemerintah terus memantau ketersediaan minyak goreng di dalam negeri.

“Pemerintah terus memantau dan mendorong langkah-langkah untuk memastikan ketersediaan minyak goreng dapat memenuhi kebutuhan masyarakat," kata Jokowi saat konferensi pers, Kamis (19/5).

Jokowi menyampaikan, saat ini pasokan minyak goreng terus bertambah. Pada Maret atau sebelum pelarangan ekspor bahan baku, pasokan minyak goreng bulanan di Indonesia 64,5 ribu ton.

Advertisement

Saat ini, pasokan minyak goreng curah 211 ribu ton atau di atas kebutuhan nasional 194 ribu ton. Harga minyak goreng juga disebut sudah turun dari Rp 19.800 menjadi Rp 17.200 - Rp 17.600 per liter.

"Alhamdulillah pasokan minyak goreng terus bertambah,” kata Jokowi.

Ia menilai, penambahan pasokan dan penurunan harga tersebut merupakan usaha bersama pemerintah, BUMN, dan swasta dalam melaksanakan kebijakan sebelumnya. Meskipun, di beberapa daerah harga minyak goreng masih relatif tinggi.

Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) mencatat, rata-rata harga minyak goreng curah di DKI Jakarta Rp 20.650 per kilogram (kg) per hari ini (19/5). Angka ini lebih tinggi dari rata-rata nasional Rp 19.100 per kg.

"Walaupun memang ada beberapa daerah, yang saya tahu, harga minyak gorengnya masih relatif tinggi. Tapi saya meyakini dalam beberapa minggu kedepan harga minyak goreng curah akan semakin terjangkau menuju harga yang kami tentukan," ujar Jokowi.

Presiden juga berjanji akan membenahi Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) agar lebih optimal dalam memenuhi kebutuhan minyak secara menyeluruh. "Ini agar lebih adaptif dan solutif menghadapi dinamika pasokan, sehingga kebutuhan masyarakat terpenuhi," katanya.

Ketika menyinggung soal dugaan adanya pelanggaran dan penyelewengan dalam distribusi dan produksi minyak goreng, Jokowi telah memerintahkan aparat hukum untuk terus melakukan penyelidikan dan memproses hukum para pelaku.

"Saya tidak mau ada yang bermain-main dan dampaknya merugikan rakyat," kata Jokowi.

Sebelumnya, pemerintah resmi memberlakukan kebijakan larangan ekspor semua bahan baku minyak goreng mulai bulan lalu (28/4). Ini agar pelaku industri sawit memprioritaskan kebutuhan di dalam negeri.

Kondisi itu dianggap ironis mengingat Indonesia adalah negara produsen minyak sawit terbesar di dunia.

"Saya minta kesadaran industri minyak sawit  untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, prioritaskan dulu dalam negeri. Penuhi dulu kebutuhan rakyat," katanya bulan lalu (27/4).

Berikut pernyataan lengkap Jokowi terkait ekspor bahan baku minyak goreng:

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam sejahtera bagi kita semua

Bapak, Ibu, dan Saudara yang saya hormati

Sejak kebijakan pelarangan ekspor minyak goreng diterapkan, pemerintah terus memantau dan mendorong langkah-langkah untuk memastikan ketersediaan minyak goreng dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

Berdasarkan pengecekan langsung saya di lapangan dan laporan yang saya terima, Alhamdulillah pasokan minyak goreng terus bertambah. Kebutuhan minyak goreng curah sebesar 194 ribu ton per bulan.

Pada Maret, sebelum pelarangan ekspor, pasokan kita hanya mencapai 64,5 ribu ton. Namun, setelah dilakukan pelarangan ekspor pada April, pasokan kita mencapai 211 ribu ton per bulan. Ini melebihi kebutuhan nasional bulanan kita.

Selain itu, terdapat penurunan harga rata-rata minyak goreng secara nasional. Pada April, sebelum pelarangan ekspor, harga rata-rata nasional minyak goreng berkisar Rp 19.800. Setelah adanya pelarangan ekspor, harga rata-rata nasional turun menjadi Rp 17.200 – Rp 17.600.

Penambahan pasokan dan penurunan harga tersebut merupakan usaha bersama, baik dari pemerintah, BUMN, dan juga swasta. Walaupun memang ada beberapa daerah, yang saya tahu, harga minyak gorengnya masih relatif tinggi.

Tetapi saya meyakini dalam beberapa minggu ke depan, harga minyak goreng curah akan semakin terjangkau menuju harga yang kita tentukan karena ketersediaannya semakin melimpah.

Oleh karena itu, berdasarkan kondisi pasokan dan harga minyak goreng saat ini, serta mempertimbangkan adanya 17 juta orang tenaga di industri sawit baik petani, pekerja dan tenaga pendukung lainnya, maka saya memutuskan bahwa ekspor minyak goreng akan dibuka kembali pada Senin, 23 Mei.

Meskipun ekspor dibuka pemerintah akan tetap mengawasi dan memantau dengan ketat untuk memastikan pasokan tetap terpenuhi dengan harga terjangkau. Pada kesempatan ini juga saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para petani sawit atas pengertian dan dukungan terhadap kebijakan pemerintah yang diambil untuk kepentingan massa lebih luas.

Secara kelembagaan, pemerintah juga akan melakukan pembenahan prosedur dan regulasi di badan pengelola dana perkebunan kelapa sawit agar terus disederhanakan dan dipermudah agar lebih adaptif dan solutif menghadapi dinamika pasokan, serta harga minyak dalam negeri, sehingga massa bisa dilindungi dan dipenuhi kebutuhannya.

Disisi lain mengenai dugaan adanya pelanggaran dan penyelewengan dalam distribusi dan produksi minyak goreng, saya juga telah memerintahkan aparat hukum untuk terus melakukan penyelidikan dan memproses hukum para pelakunya.

Saya tidak mau ada yang main-main, yang dampaknya mempersulit dan merugikan rakyat. Saya rasa, itu yang bisa saya sampaikan.

Reporter: Dudi Sholachuddin Triambudi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait