Ada Pandemi, CEO Grab: Likuiditas Cukup untuk Melewati Resesi 3 Tahun

Pandemi corona berdampak signifikan terhadap pendapatan driver taksi dan ojek online. Grab optimistis likuiditas cukup untuk melewati resesi tiga tahun.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
17 April 2020, 09:05
Ada Pandemi, CEO Grab: Likuiditas Cukup untuk Melewati Resesi 3 Tahun
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi, mitra pengemudi Grab di kawasan Pinang Ranti, Jakarta TImur (9/4).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Pandemi corona memukul banyak sektor, termasuk berbagi tumpangan (ride-hailing) seperti Grab dan Gojek. Meski begitu, CEO Grab Anthony Tan memperkirakan likuiditas perusahaannya cukup untuk menghadapi resesi hingga tiga tahun.

"Di beberapa negara, volume transaksi (Gross Merchandise Value/GMV) kami turun dengan persentase dua digit," kata Tan kepada reporter CNBC Internasional Nancy Hungerford, dikutip kemarin (16/4).

Ketika ditanya tentang kesehatan keuangan perusahaan secara keseluruhan, Tan menjelaskan bahwa sebagian besar biaya Grab variabel. Maka akan menurun ketika permintaan turun.

"Karena basis investor yang kuat, kami beruntung memiliki likuiditas yang cukup untuk melewati, apakah itu resesi 12 bulan atau 36 bulan," kata Tan.

Selain itu, perusahaan terbantu diversifikasi layanan. Grab memiliki beragam fitur mulai dari antar penumpang seperti GrabBike, GrabCar, dan GrabTaxi, pesan-antar makanan GrabFood, logistiK GrabExpress, serta di bidang retail ada GrabMart dan belanjaan.

(Baca: Bodebek Terapkan PSBB, Grab dan Gojek Non-aktif Fitur Antar Penumpang)

Di beberapa negara, layanan pembayaran GrabPay juga tersedia. Selain itu, decacorn asal Singapura ini bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk menyediakan layanan seperti Good Doctor lewat GrabHealth.

Strategi yang dikenal dengan aplikasi super (SuperApps) tersebut membantu perusahaan bertahan di tengah pandemi virus corona. Tan pun memastikan mitra pengemudi masih memiliki peluang pendapatan.

Kendati begitu, ia mengakui bahwa permintaan layanan pengiriman dan pesan-antar makanan belum cukup untuk mengimbangi penurunan dari sisi transportasi. "Namun, ke depan, saya tahu bahwa transportasi merupakan layanan esensial pasar. Jadi kami memperkirakan itu akan pulih dengan kuat, begitu orang-orang mulai pulang pergi lagi setelah pembatasan," katanya.

(Baca: Grab Berikan Tes Corona Gratis ke 1.000 Tenaga Medis & Mitra Pengemudi)

Grab beroperasi di 339 kota di delapan negara di Asia, termasuk Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Semua negara ini menerapkan pembatasan jarak sosial hingga karantina wilayah (lockdown) guna menekan penyebaran Covid-19.

Hal tersebut mengurangi permintaan layanan transportasi. Pendapatan mitra pengemudi taksi dan ojek online pun tertekan. Berdasarkan catatan Gabungan Aksi Roda (Garda), pendapatan ojek online anjlok hingga 80% selama pandemi virus corona di Indonesia.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi dunia minus 3% atau yang terburuk sejak ‘The Great Depression’ pada 1929. Ekonomi negara-negara maju, seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa menjadi yang paling terpukul oleh pandemi Covid-19.

(Baca: Terburuk sejak "Depresi Besar", IMF Ramal Ekonomi Tahun Ini Minus 3%)

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait