Suntikan Dana Investor Diprediksi Anjlok 20%, Startup Harus Efisiensi

Pendanaan ke perusahaan swasta di Asia diramal anjlok 20% akibat pandemi corona. Investor wait and see, startup diminta tingkatkan efisiensi.
Desy Setyowati
1 April 2020, 11:09
Investor Tahan Investasi Efek Pandemi Corona, Startup Diminta Efisien
123RF.com/Dejan Bozic
Ilustrasi startup

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Pendanaan ke perusahaan swasta (private market funding), termasuk startup di Asia, diprediksi turun 20% secara tahunan (year on year/yoy) akibat pandemi corona pada kuartal I 2020. Investor dan modal ventura memilih untuk menunggu dan melihat (wait and see) kondisi saat ini.

CB Insights mencatat, private market funding di Asia mencapai US$ 18 miliar dan diperkirakan tembus US$ 20 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Dibandingkan periode yang sama pada 2019, nilainya turun 20% dan jumlah kesepakatannya anjlok 40%.

Data itu berdasarkan pendanaan yang diumumkan sejak awal tahun ini. (Baca: Dampak Virus Corona Mengancam Potensi Pendanaan Startup di Asia)

Secara global, CB Insights mencatat private market funding di Asia mencapai US$ 67 miliar dan diperkirakan tembus US$ 77 miliar. Nilainya turun 11,5% dibandingkan kuartal pertama 2019.

Pendanaan ke perusahaan swasta juga turun ketika Virus Server Acute Respiratory Syndrome (SARS) mewabah di Guangdong, Tiongkok pada November 2002 dan Zika di Brasil pada 2005.

Berdasarkan riset CB Insights, pendanaan ke perusahaan swasta di Asia menurun 27% pada 2003 dibanding 2002. Penurunan itu berlanjut pada 2004, nilainya anjlok 29% dibanding 2002 atau 3% dibanding 2003.

WHO baru mengumumkan Tiongkok bebas dari kasus SARS pada Mei 2004. Pendanaan ke swasta pun meningkat 56% yoy pada 2005. Pendanaan yang dimaksud berupa investasi langsung dari modal ventura (venture capital) maupun akuisisi atau merger. 

(Baca: Investor Ingatkan Startup agar Waspadai Dampak Corona Terhadap Bisnis)

Saat Zina mewabah, pendanaan ke swasta juga hanya tumbuh 5% pada 2005. Lalu, nilainya menurun 49% yoy pada 2016. Kemudian investasinya naik 404% pada 2017 atau ketika tidak ada lagi pasien.

Data-data itu bisa dilihat dari databoks berikut:

Kini, banyak negara menghadapi pandemi corona. Di Indonesia, investor dan modal ventura juga wait and see sebelum memberikan pendanaan ke startup. “Tentu kami menunda investasi-investasi yang kami rasa perlu dipertimbangkan,” kata Ketua Asosiasi Modal Ventura Indonesia (Amvesindo) Jefri Sirait kepada Katadata.co.id, kemarin (31/3).

(Baca: Startupnya Bangkrut karena Corona, Harga Saham SoftBank Anjlok 10%)

Investasi yang dipertimbangkan yakni yang terdampak pandemi corona secara signifikan. Sedangkan startup-startup yang dinilai mendukung kebijakan pemerintah menekan penyebaran virus corona masih berpotensi diberikan pendanaan.

Startup yang dimaksud seperti di bidang kuliner (food and beverage), kesehatan, logistik, dan telekomunikasi. “Saya pikir ini proses yang me-recover satu sama lain,” katanya.

Karena itu, modal ventura memilih untuk menunggu dan melihat stimulus ekonomi yang diterapkan pemerintah. Utamanya, kebijakan yang berdampak langsung terhadap masyarakat seperti  Bantuan Langsung Tunai (BLT).

(Baca: Beda Cara Gojek dan Grab Tekan Dampak Pandemi Corona Terhadap Mitra)

Sebab, menurutnya pasar Indonesia sangat besar. Karena itu, yang perlu dilakukan pemerintah yakni mendorong konsumsi rumah tangga stabil atau bahkan meningkat di tengah pandemi.

Jika hal itu dilakukan, semestinya roda perekonomian khususnya Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) masih bergerak. “Masyarakat yang pendapatannya harian atau usaha yang di bawah (sektor UMKM) harus diselamatkan dulu. Karena jumlahnya lebih banyak,” ujar dia.

Jefri optimistis bahwa perekonomian, termasuk pendanaan ke startup akan membaik pada kuartal III atau kuartal IV 2019, hingga awal 2021. Untuk bisa bertahan sampai saat itu, perusahaan rintisan yang transaksinya anjlok akibat pandemi harus mendorong efisiensi.

“Perusahaan apapun, saat butuh cash, itu yang harus dia usahakan. Ini akan jadi perhatian pemerintah, modal ventura dan investor,” kata Jefri. (Baca: Lockdown dan Pandemi Corona Dinilai Untungkan Dua Sektor Startup)

Reporter: Desy Setyowati

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait