Mitranya Terdampak Virus Corona, Startup OYO Gelontorkan Rp 2,7 Miliar

OYO merugi pada tahun lalu. Sedangkan Tiongkok yang menjadi pasar terbesar keduanya terdampak virus corona.
Desy Setyowati
20 Februari 2020, 16:03
Pariwisata Terdampak Virus Corona, Startup OYO Gelontorkan Rp 2,7 Miliar
oyo
CEO OYO Asia Tenggara, Jepang dan Timur Tengah Mandar Vaidya

Virus corona membunuh 2.120 orang di Tiongkok hingga pagi hari ini (20/2) dan berdampak terhadap sektor pariwisata. Startup asal India, OYO pun menggelontorkan US$ 200 ribu atau sekitar Rp 2,7 miliar untuk membantu mitra di Asia Tenggara yang terdampak virus corona.

Banyak hotel hingga pertokoan di berbagai destinasi wisata tidak beroperasi karena wabah virus corona. WHO juga mengeluarkan imbauan bagi masyarakat dunia untuk tidak mengunjungi sejumlah negara dan kota di mana wabah itu merebak.

Karena itu, OYO mengeluarkan Rp 2,7 miliar untuk para mitranya di Asia Tenggara. “Regional menjadi salah satu pasar prioritas kami dan berkontribusi signifikan,” kata CEO OYO Asia Tenggara, Jepang dan Timur Tengah Mandar Vaidya dalam siaran pers, Kamis (20/2).

Dana tersebut dapat digunakan mitra untuk memantau kesehatan para karyawan dan konsumennya, supaya tidak terinfeksi virus corona. Harapannya, pandemi itu tidak berdampak signifikan terhadap sektor pariwisata khususnya mitra.

Advertisement

(Baca: Terancam Diadukan ke KPPU, OYO Jelaskan Soal Izin Bisnis)

Startup yang disuntik modal SoftBank itu juga memaksimalkan teknologi untuk memberikan pelayanan tanpa kontak antarmanusia. Hal ini bertujuan meminimalkan penyebaran virus corona.

Tim pimpinan OYO untuk Asia Tenggara menyisihkan sebagian dari gaji untuk menyokong bisnis para mitra di tengah mewabahnya virus corona. Industri pariwisata merupakan salah satu sektor yang terdampak oleh merebaknya wabah virus corona,” kata dia.

Perusahaan juga sudah menggelontorkan dana 1 juta yuan atau sekitar Rp 1,9 miliar untuk menanggulangi pandemi itu di Tiongkok.

(Baca: Target Untung, Startup Asal India OYO PHK Ribuan Karyawan)

OYO mencatatkan rugi bersih US$ 335 juta untuk tahun keuangan yang berakhir 31 Maret 2019. Kerugian itu meningkat enam kali lipat dibanding periode sama tahun lalu US$ 52 juta. Sedangkan pendapatannya mencapai US$ 961 juta atau meningkat dibanding US$ 211 juta pada 2018.

Startup itu telah mengoperasikan lebih dari 44 ribu hotel dengan 1,2 juta kamar di 800 kota di 80 negara. OYO mengatakan pasar Tiongkok dan negara lainnya di luar India berkontribusi terhadap kerugian.

OYO merambah Negeri Panda pada 2018. Negara berpenduduk paling padat di dunia itu menjadi pasar terbesar kedua bagi OYO. “Pasar-pasar ini menyumbang 36,5% dari pendapatan global,” kata perusahaan dalam pernyataan resminya dikutip dari TechCrunch, pekan lalu (16/2).

(Baca: Sri Mulyani Masih Kaji Insentif Pariwisata untuk Atasi Dampak Corona)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait