Dinilai Berbahaya, TikTok Larang Video Prank Skull-Breaker Challenge

Remaja di Venezuela, Kanada, dan Miami luka-luka karena membuat video prank Skull-Breaker Challenge di TikTok.
Cindy Mutia Annur
17 Februari 2020, 14:50
Dinilai Berbahaya, TikTok Larang Video Prank Skull-Breaker Challenge
123RF.com/Alexey Malkin
Ilustrasi aplikasi video musik pendek TikTok

Belakangan ini, pengguna TikTok marak membuat video prank atau gurauan seperti tantangan memecah tengkorak atau Skull-Breaker Challenge. Pengembang TikTok, Bytedance Technology Co melarang penggunanya membuat dan menggunggah konten berbahaya.

Juru bicara TikTok mengatakan bahwa larangan membuat konten berbahaya tertuang dalam pedoman komunitas. “Kami tidak mengizinkan konten yang mendorong, mempromosikan, atau mengagungkan tantangan berbahaya yang dapat menyebabkan cedera,” katanya kepada Katadata.co.id, Senin (17/2).

Perusahaan asal Tiongkok itu juga menegaskan bahwa keamanan pengguna merupakan prioritas. (Baca: Salip Facebook, Aplikasi TikTok Paling Banyak Diunduh Kedua di Dunia)

Skull-Breaker Challenge dianggap berbahaya karena dapat membuat kreatornya cedera. Tantangan ini melibatkan tiga orang yang berdiri sejajar, menyamping. Dua orang di bagian pinggir melompat terlebih dulu. Setelah keduanya mendarat, pemain tengah melompat dan akan dijegal oleh dua orang lainnya.

Advertisement

Dikutip dari International Business Times, para ahli mengatakan bahwa Skull-Breaker Challenge dapat mematahkan setiap sendi pemainnya hingga merobek ligament. Bahkan, tantangan ini dapat mengakibatkan kelumpuhan hingga kematian.

Beberapa pengguna TikTok menjadi korban Skull-Breaker Challenge. Siswa di Venezuela, dua remaja di Kanada, dan satu di Miami luka-luka akibat tantangan tersebut.

(Baca: Saingi TikTok, Ini Lima Keunggulan Aplikasi Tangi dari Google)

Warganet di beberapa negara mengimbau remaja untuk tidak mencoba tantangan tersebut. Para orang tua diminta untuk memperhatikan kegiatan anak-anaknya. “#skullbreakerchallenge yang saat ini populer di #tiktok merupakan sesuatu yang fatal. Tolong jaga anak-anak," kata salah seorang warganet di Malaysia melalui akun Twitter-nya @nicolewong89.

Begitu juga dengan warganet di India, Simmi Ahuja. “Skullbreaker Challenge tengah populer. Saya dorong Anda untuk memperhatikan anak-anak dan beri tahu mereka bahwa itu berbahaya,” kata dia melalui akun Twitter-nya @simmiahuja.

Dikutip dari GulfNews, TikTok bakal menghapus konten yang memuat Skull-Breaker Challenge. (Baca: Punya 625 Juta Pengguna Aktif, TikTok bisa Lebih Besar dari Instagram)

Sebelumnya, YouTube melarang kreator membuat konten prank berbahaya pada pertengahan Januari lalu. Unit bisnis Google itu ingin memastikan tidak ada konten yang melewati batas ketentuan sehingga berbahaya bagi pengguna.

“Kami telah memperbarui pedoman eksternal untuk memperjelas larangan tantangan berbahaya atau berisiko kematian,” kata YouTube dikutip dari Times, Kamis (16/1) lalu.

(Baca: Marak Video Prank YouTuber, Ini Kata Asosiasi Ojek Online & Ahli Hukum)

Reporter: Cindy Mutia Annur
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait