Rambah Bisnis Periklanan, Gojek Gandeng Perusahaan Teknologi Asal AS

Gojek dan perusahaan asal AS bekerja sama membuat solusi pemasaran O2O, dengan memanfaatkan data-data di platform.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
22 Januari 2020, 13:44
Rambah Bisnis Periklanan, Gojek Gandeng Perusahaan Teknologi Asal AS
Katadata/desy setyowati
Ilustrasi, logo baru gojek

Gojek menggandeng perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS), The Trade Desk untuk merambah bisnis periklanan. Melalui kerja sama eksklusif ini, decacorn Tanah Air itu berfokus memberikan pemahaman terkait pemasaran online to offline (O2O).

VP Merchant Research and Analytics Gojek Pulkit Khanna mengatakan, bentuk kerja sama dengan The Trade Desk yakni pemahaman mendalam bagi para pengiklan (advertiser) mengenai dampak kampanye pemasaran online terhadap penjualan offline. Menurut dia, hal ini dapat meningkatkan efisiensi dalam pengambilan keputusan pemasaran.

Dengan begitu, perusahaan bisa mendorong pertumbuhan bisnis. “Pengiklan di platform The Trade Desk bisa memanfaatkan pemahaman yang didapat dari Gojek untuk mengukur dan meningkatkan efektivitas kampanye pemasarannya,” kata dia dalam siaran pers, Rabu (21/1).

Ia mengklaim, solusi pengukuran O2O pemasaran itu merupakan yang pertama di Asia Tenggara, diawali dari Indonesia. Pulkit menyampaikan, perusahaan berfokus mengatasi friksi di kehidupan sehari-hari. Caranya, menghubungkan konsumen dengan penyedia barang dan jasa di pasar.

(Baca: Gojek Klaim Sudah pada Jalur yang Tepat Untuk Mulai Mencetak Profit)

Gojek bekerja bersama The Trade Desk untuk mengukur dampak iklan online menggunakan transaksi aktual melalui gerai, bukan data berbasis cookie. Karena itu, perusahaan penyedia layanan on-demand ini  mengaitkan transaksi online dan offline dalam aplikasi Gojek dengan solusi iklan The Trade Desk.

Pemahaman itu mencakup pembelian melalui aplikasi Gojek, seperti layanan pesan-antar makanan GoFood hingga transaksi di outlet mitra penjual (merchant) dengan pembayaran GoPay.

Pemasar dapat menghubungkan penjualan dengan kampanye iklan yang bersangkutan melalui solusi pemasaran O2O itu. Caranya, dengan memanfaatkan kemampuan atribusi offline untuk mendapatkan analisis terkait efektivitas kampanye.

“Kami senang dapat bermitra dengan Gojek, perusahaan pelopor model super app, untuk menghadirkan solusi pengukuran O2O di Asia Tenggara,” kata

(Baca: Pendapatan Naik 2 Kali Lipat, Gojek Ungkap Kinerja 5 Layanan pada 2019)

Senior Vice President The Trade Desk Mitch Waters mengatakan, analisis atribusi offline telah menjadi aspirasi bagi pemasar di manapun. “Dengan jangkauan dan cara pandang Gojek yang inovatif, kami sekarang dapat mewujudkan tujuan tersebut,” kata dia.

Kedua perusahaan akan berfokus pada pasar Indonesia untuk menyediakan solusi pemasaran O2O itu. Baru kemudian, layanan itu diperluas ke negara lain di Asia Tenggara pada tahun ini.

Gojek memang mulai berfokus pada keuntungan. Startup itu mengklaim bahwa perusahaan sudah pada jalur yang tepat untuk mencetak profit meskipun tidak didukung permodalan yang kuat seperti kompetitornya, Grab.

Decacorn Tanah Air itu optimistis bisa untung berbekal upaya efisiensi dalam menjalankan usahanya. "(Fokus) itu telah terbayar. Itu sebenarnya salah satu manfaat dari menjadi pemain 'underdog' di pasar ini, ”ujar Chief Executive Officer GoPay (CEO) GoPay Aldi Haryopratomo dikutip dari DealStreetAsia, Sabtu (18/1).

Aldi mengatakan bahwa sepanjang 2019 perusahaan tumbuh sangat baik. Hal ini merupakan hasil dari upaya efisiensi untuk memaksimalkan setiap modal dan waktu pengembang perusahaan, selama sembilan tahun Gojek berdiri.

(Baca: Gojek Cari Modal Rp 28,4 Triliun untuk Perkuat GoFood dan GoPay)

Sejak didirikan pada 2010, Gojek hanya mengumpulkan US$ 3 miliar atau sekitar Rp 42 triliun modal dalam 12 putaran pendanaan. Nilai itu hanya sepertiga dari pendanaan yang didapat Grab yaitu US$ 9 miliar atau Rp 126 triliun dalam 29 putaran.

Memanfaatkan data untuk menghasilkan pemahaman terkait pemasaran juga dilakukan PT Visionet Internasional (OVO). Perusahaan teknologi finansial (fintech) pembayaran itu meluncurkan mesin jual otomatis berbasis digital (smart vending machine), bernama OVO Smartcube yang ditarget 500 unit tahun ini.

Chief Data Officer OVO Vira Shanty mengklaim, produk terbarunya ini merupakan smart vending machine pertama di Indonesia yang memiliki kemampuan analisis data secara real-time. OVO Smartcube akan merekam tingkah laku dan demografi pelanggan.

(Baca: Luncurkan Mesin Jual Otomatis, OVO Rambah Bisnis Data)

Video Pilihan

Artikel Terkait