Potensi Nilai Keuangan Digital Asia Tenggara Rp 840 Triliun pada 2025

Google, Temasek dan Bain menilai, layanan keuangan digital bisa menyentuh US$ 60 miliar pada 2025.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
1 November 2019, 11:25
Google, Temasek dan Bain memperkirakan, nilai layanan keuangan digital US$ 38 miliar pada 2025
ANTARA FOTO/Risky Andrianto
Ilustrasi, pengunjung melintas di depan restoran makan cepat saji yang terpasang poster promosi diskon aplikasi fintech pembayaran atau "payment gateway" di salah satu mal di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (28/3/2019). Google, Temasek dan Bain memperkirakan, nilai layanan keuangan digital US$ 38 miliar pada 2025.

Laporan Google, Temasek dan Bain menyebutkan, nilai dari layanan keuangan digital di Asia Tenggara diproyeksi mencapai US$ 38 miliar per tahun pada 2025. Bahkan, ada peluang nilainya mencapai US$ 60 miliar atau sekitar Rp 840 triliun per tahun.

Layanan keuangan digital yang dimaksud melingkupi bank, penyelenggara jasa sistem pembayaran (PJSP), asuransi, manajemen aset hingga teknologi finansial (fintech). Segmen yang diincar yakni punya beragam layanan keuangan (banked), dapat akses keuangan tetapi tidak lengkap (unbanked), dan tidak punya akses (underbanked).

Google, Temasek dan Bain menyebutkan, potensi layanan keuangan paling besar adalah pinjam-meminjam. “Layanan pinjaman berkontribusi sekitar setengah dari peluang itu (US$ 38 miliar),” demikian dikutip dari laporan Bain yang dirilis beberapa waktu lalu (30/10).

Ketiganya menilai, layanan digital ini bisa menyentuh US$ 60 miliar atau sekitar 17% terhadap pendapatan industri jasa keuangan. (Baca: Riset Google: Nilai Ekonomi Digital Indonesia Saat Ini Rp 568 Triliun)

Penyebabnya, penduduk di Asia Tenggara cukup banyak. Pada 2025, populasinya diproyeksi 570 juta dengan Produk Domestik bruto (PDB) menyentuh US$ 4,7 triliun. Namun, masyarakat yang mendapat akses keuangan tergolong sedikit saat ini.

Penetrasi perbankan memang tumbuh 1,25 kali dibanding 2014. Namun, jumlahnya hanya 50% dari tingkat inklusi finansial di Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Di kedua negara itu, sekitar 95% penduduknya punya akses keuangan.

Di Asia Tenggara, lebih dari 7 dari 10 orang dewasa punya akses keuangan tetapi tidak lengkap (underbanked). Selain itu, ada jutaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menghadapi kesenjangan pendanaan yang besar.

(Baca: Riset Google: Investasi ke Startup RI Rp 23,8 T, Terbesar di Regional)

Ada empat faktor yang membatasi pertumbuhan layanan keuangan digital di regional. Pertama, hanya 40% transaksi lewat pembayaran digital. Kedua, tidak adanya sistem identifikasi digital yang andal di sebagian besar pasar.

Ketiga, regulator berhati-hati dalam merilis kebijakan terkait inovasi keuangan. Terakhir, infrastruktur sistem keuangan di kawasan ini sebagian besar kurang berkembang, karena tidak adanya biro kredit yang kuat.

Google, Temasek dan Bain menilai, pembayaran digital akan tumbuh lebih cepat dengan nilai melebihi US$ 1 triliun pada 2025. Sedangkan layanan keuangan digital lainnya seperti pinjaman, investasi, dan asuransi diproyeksi meningkat lebih dari 20% setiap tahun hingga 2025.

(Baca: Google: Potensi Pasar yang Diperebutkan Gojek dan Grab Rp 83,8 Triliun)

Ketiganya mengatakan, ada tantangan berupa ketatnya persaingan dan tingginya fragmentasi pasar. Karena itu, pemain yang akan menang adalah mereka yang mendorong keterlibatan konsumen dan pedagang.

Setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk bisa terus tumbuh. Pertama, harus unggul dan menjadi top-of-mind bagi konsumen atau pedagang pada penggunaan (usecase) tertentu.

Kedua, menghemat waktu transaksi dengan mengembangkan solusi terintegrasi. Terakhir, membangun ekosistem melalui kemitraan yang kuat atau aliansi yang sangat terintegrasi untuk membangun banyak titik kontak dengan pelanggan.

(Baca: Ekonomi Digital Membesar, Ini Strategi Kominfo Dorong Layanan Logistik)

Video Pilihan

Artikel Terkait